Senin, 25 November 2019

MENGUKUR KELANGKAAN SUMBER DAYA ALAM (Bab 4)


MENGUKUR KELANGKAAN SUMBER DAYA ALAM
1.    Pendahuluan
Telah diuraikan di bagian depan bahwa terdapat kelompok optimis dan kelompok optimis dan kelompok pesimis mengenai persediaan sumber daya alam. Dengan adanya dua kelompok pemikiran itu telah dirasakan perlunya untuk meneliti lagi manakah di antara kedua kelompok pemikir itu yang dapat diterima. Dengan kata lain kita perlu mengadakan pengukuran tentang jumlah persediaan sumber daya alam. Namun demikian tidak bagi para ahli ekonomi untuk mengetahui apakah sumber daya alam yang ada itu masih banyak jumlahnya dalam arti kuantita atau volume tertentu.
Ahli geologi dengan ilmu dan alat yang mereka miliki lebih mampu dalam mengukur kuantita atau volume batu bara yang tersedia dalam bumi. Demikian pula ahli pertanahan lebih mampu mengetahui tanah mana yang masih subur serta berapa luasnya dan sebagainya. Namun demikian ahli ekonomi dengan peralatan analisis yang mereka miliki juga harus dapat mengetahui masih banyak atau tingal sedikit sumber daya alam tertentu itu tersedia di dalam bumi atau di permukaan bumi ini, walaupun tidak dapat menentukan volume atau jumlahnya secara pasti dalam ukuran tertentu. Sering ahli ekonomi hanya mengatakan sumber daya alam itu langka atau tidak; dan kelangkaan ini lebih berarti kelangkaan ekonomi dan bukan kelangkaan fisik.
Apakah yang dimaksud dengan kata “langka” itu? Para ekonom sudah terbiasa mengartikan kata langka dengna keadaan dimana jumlah barang yang diminta lebih banyak dari pada jumlah barang yang ditawarkan atau yang tersedia, dann dalam pasar persaingan sempurna kelangkaan ini akan menyebabkan harga barang yang bersangkutan naik. Dalam kaitannya dengan sumber daya alam, persediaaan tersebut akan dapat dikonsumsi untuk menopang kehidupan manusia.
Persediaan sumber daya alam kita artikan sebagai volume sumber daya alam yang sudah diketahui dan dapat diambil dengan mendatangkan keuntungan pada tingkat biaya produksi dan tingkat harga tertentu. Sebagai missal sejak Indonesia baru merdeka sudah diketahui bahwa Indonesia  memiliki pasir besi di pantai selatan Jawa Tengah, namun statistic mengenai pasir besi belum sempurna dan kita tidak mengetahui berapapersediaan (stock) pasir besi tersebut; baru setelah tahun 1970-an dengan adanya nilai ekonomi Karena Jepang sanggup membeli pasir besi tersebut, maka pasir besi itu bernilai sebagai sumber daya alam dan pasir sebelum digunakan  sebagai bahan bangunan belum mempunyai nilai dan jumlah yang ada belum diketahui persediaannya. Selanjutnya persediaan dapat ditingkatkan baik dengan penemuan deposit baru ataupun dengan teknologi baru yang dapat mengubah sumber daya alam yang tidak ekonomis menjadi sumber daya alam yang ekonomis. Sayangnya memang sulit untuk mengetahui volume fisik, lokasi, maupun kualitas sumber daya alam secara tepat, sehingga sulit pula untuk menentukan derajat kelangkaaan sumber daya alam tersebut.
Untuk mengetahui langka tidaknya sumber daya alam di bumi ini, para ahli ekonomi menggunakan bebagai cara atau alat pengukur dalam bidang ilmunya, yaitu dengan melihat harga barang sumber daya alam dan nilai sewa ekonomis atau economic rent (Fisher*)), atau melihat satuan biaya produksi barang sumber daya alam itu (Barnett dan Morse**)), dan dapat pula dengan melihat royalty (economic rent) maupun elastisitas substitusi. Masing-masing cara ini akan dibicarakan dibagianberikut.
Tampaknya Barnett dan Morse setuju dengan pendapat Malthus dan Ricardo bahwa peningkatan produksi pertanian akan memerlukan dosis capital dan tenaga kerja yang lebih banyak, kemudian mereka menerapkannya pada sumber daya mineral. Fisher mengetengahkan “scarcity rent atau economic rent” yaitu nilai satu satuan sumber daya alam yang masih ada di dalam bumi, sebagai alat pengukur kelangkaan yang lain. Hipotesis yang dikemukakan ialah apabila ketiga alat pengukur itu (harga komoditi, biaya produksi dan rent) menjadi lebih tinggi, maka dapat dikatakan bahwa tersedianya sumber daya alam sudah menjadi semakin langka.
Sekali lagi yang dimaksud dengan persediaan sumber daya alam disini adalah sumber daya alam yang sudah diketahui adanya secara geologis dan ia sudah mempunyai nilai ekonomis. Lihat kotak yang diarsir pada Gambar 4.1
Gambar 4.1. memperlihatkan apa yang dimaksud dengan istilah “persediaan sumber daya alam”. Sesungguhnya segala sesuatu yang ada di dalam dan di atas bumi bukan buatan manusia disebut sebagai sumber daya alam. Sumber daya ala mini ada yang sudah diketahui dan ada yang belum diketahui. Yang belum diketahui dibedakan menjadi sumber daya alam yang tidak dimengerti sama sekali dan yang secara hipotetis dan spekulatif diketahui. Jadi Gambar 4.1. menunjukkan bahwa semakin ke kiri


 


Total Sumber daya Alam
Diketahui/
terbukti
Belum Diketahui
Ekonomi
Persediaan/
cadangan
Sumber daya Hipotetis & Spekulatif
Text Box: Derajat Kelayakan Ekonomi yang Semakin TinggiTidak
dimengerti
Sub
 ekonomi

Bahan/material
tidak ekonomis
Ambang Potensi Ekonomi
Ambang Mineralogi Barang-barang Di Bumi Lainnya
Derajat Jaminan Geologi yang Semakin Tinggi
 
Gambar 4.1.
Pengertian Persediaan Sumber daya Alam
letak sumber daya alam dalam kotak-kotak itu, semakin tinggi derajat kepastian geologis sumber daya alam tersebut: dan semakin ke atas letak sumber daya alam itu dalam kotak-kotak tersebut semakin tinggi derajat kelayakan ekonominya. Atas dasar pengertian itu maka yang dimaksud dengan persediaan (reserve = stock) sumber daya alam adalah sumber daya alam yang sudah mempunyai nilai ekonomis dan sudah diketahui atau terbukti (proven) secara geologis. Memang dari persediaan sumber daya alam itu derajatnya masih dapat dibedakan lagi menjadi sumber daya alam yang dapat ditunjukkan secara geologis dan lebih tinggi lagi derajatnya sebagai persediaan bila sumber daya ala mini sudah dapat diukur. Dari derajat manfaat ekonominya sumber daya alam dapat dibedakan ke dalam sumber daya yang tidak ekonomis, sub-ekonomis dan ekonomis.
2.    Pengukuran Ekonomi Terhadap Kelangkaan
a.      Biaya Produksi
Baik ekonom klasik (Ricardo) maupun Neo Klasik (Jevons) melihat
Bahwa peningkatan biaya produksi berhubungan dengan semakin berkurangnya persediaan sumber daya alam. Memang barang sumber daya alam sudah terus-menerus diambil dari bumi ini. Barnett dan Morse telah meneliti pola perkembangan industry di Amerika Serikat.
            Barnett dan Morse memulai studinya dengan melihat pada dokrin Klasik tentang meningkatnya kelangkaan ekonomis akan sumber daya alam secara ekonomis memang langka, dan dengan berkembangnya waktu sumber daya alam itu menjadi semakin langka, dan ini akan mengganggu kehidupan manusia dan pertumbuhan ekonomi. Namun dalam studi Barnett dan Morse itu, dikemukakan bahwa teori Klasik mengenai meningkatnya kelangkaan sumber daya alam itu tidak dapat diterima, kecuali dalam hal yang sangat terbatas atau tertutup.
            Barnett dan Morse membuat hipotesis tentang kelangkaan sumber daya alam yaitu bahwa sumber daya alam itu semakin langka bila:
1)      Biaya riil persatuan output meningkat terus selama periode pengambilan.
2)      Biaya komoditi yang diambil relatif lebih tinggi dari pada biaya produksi komoditi lain.
3)      Harga komoditi yang diambil relative lebih tinggi dari pada harga komoditi lain.
Atas data yang tersedia mereka menolak hipotesis yang diberikan tadi, Karena ternyata harga rill dan biaya produksi riil semakin turun dari tahun ke tahun sejak tahun 1870 sampai tahun 1957, kecuali dalam hal komoditi kehutanan. Jadi dapat disimpulkan bahwa sumber daya alam itu tidak semakin langka. Namun Kerry Smith memperbaharui data yang dipakai oleh Barnett dan Morse dengan menggunakan data sampai tahun 1972 dan menemukan bahwa ada sedikit kecenderungan kenaikan harga relatif produk pertanian, kenaikan harga yang berfluktuasi untuk komoditi kehitanan, tetapi ada kecenderungan penurunan harga yang berarti untuk barang-barang logam dan bahan bakar minyak.
            Ada beberapa alasan mengapa sumber daya alam tidak menjadi semakin langka ialah:
1)      Karena adanya barang substitusi bagi sumber daya alam yang terus-menerus diambil dan semakin sedikit jumlahnya, dengan sumber daya alam yang semakin berlimpah adanya. Sebagai contoh adalah alumunium menggantikan copper, biji-bijian menggantikan daging, plastic menggantikan kulit, dan serat sintetis menggantikan serat alami.
2)      Karena adanya penemuan baru dengan dipakainya metode eksplorasi baru, seperti metode eksplorasi baru, seperti metode geofisik, geokemis dan satelit.
3)      Karena adanya peningkatan dalam impor mineral dan metal dari negara lain. Dengan adanya perbaikan di bidang transportasi telah memungkinkan daerah-daerah yang jauh dari lokasi sumber daya alam mampu bersaing secara ekonomis.
4)      Karena adanya peningkatan pengetahuan teknik yang berguna bagi eksplorasi, pengambilan dan pengangkutan sumber daya alam, sehingga produksi dapat bersifat besar-besaran dan biaya produksi persatuan dapat ditekan.
5)      Adanya kemungkinan daur ulang (recycling). Sebagai missal konsumsi Amerika Serikat yang berasal dari barang bekas adalah: besi 37%, tembaga 20%, aluminium 10%, nike 35%.
Di samping itu Barnett dan Morse juga menyatakan bahwa dalam sejarah Amerika Serikat, setiap generasi selalu meninggalkan warisan untuk generasi berikutnya yaitu keadaan tersedianya sumber daya alam dengan kemampuan produksi yang semakin baik. Hal ini memang dihasilkan oleh adanya akumulasi pengetahuan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dapat mengimbangi peningkatan biaya produksi karena semakin berkurangnya sumber daya alam. Namun itu semua bukan Karena kebetulan, tetapi Karena adanya desakan untuk kemajuan pengetahuan, campur tangan pemerintah, serta perubahan mekanisme yang sifatnya menempel dalam sistem perekonomian dan masyarakat yang ada.
Sebenarnya Barnett dan Morse mengajukan dua macam hipotesis, yaitu hipotesis kuat dan hipotesis lemah. Hipotesis kuat menyatakan bahwa biaya rill persatuan barang-barang ekstraktif akan meningkat dengan berkembangnya waktu Karena adanya keterbatasan dalam jumlah maupun kualitas sumbedaya alam. Sedangkan hipotesis lemah menyatakan bahwa meningkatnya kelangkaan sumber daya alam cenderung meningkatkan biaya produksi riil, tetapi peningkatan ini lebih cepat dari pada kekuatan yang akan menekan kenaikan biaya Karena adanya perubahan teknik dan kekuatan ekonomi lainnya.

Tabel 4.1
Indeks Biaya Satuan Komoditi Ekstraktif di Amerika Serikat 1870-1957
Tahun
Pertanian
Mineral
Hasil hutan
Seluruhnya
1870-1900
1929
1957
132
100
61
210
100
47
59
100
90
134
100
60
1929 = 100
Sumber: Barnett dan Morse, Scarcity and Growth 1963
                Tabel 4.1. menunjukan bahwa semua jenis komoditi ekstraktif mengalami penurunan biaya produksi, kecuali untuk komoditi kehutanan ada bukti kenaikan biaya produksi antara 1870-1900 dan 1929, masing-masing dengan indeks biaya 59 dan 100. Dari data pada tabel tersebut apakah dapat disimpulkan bahwa sumber daya alam tidak semakin langka atau justru ada pengambilan sumber daya alam mulai dari yang rendah kualitasnya baru kemudian diikuti dengan semakin tinggi kualitasnya? Jawabannya adalah “tidak”. Hal tersebut di atas memang dapat terjadi Karena selama periode itu telah terjadi pula penemuan persediaan sumber daya alam lewat eksplorasi maupun karena adanya perubahan teknologi. Barnett dan Morse sendiri menafsirkan penemuannya itu sebagai akibat dari perubahan teknologi. Barnett dan Morse sendiri menafsirkan penemuannya itu sebagai akibat dari perubahan teknologi dan keuntungan dari skala ekonomi (economics of scale). Perkembangan teknologi sangat menyolok di bidang sumber daya mineral, khususnya banyak mesin-mesin yang menggantikan tenaga manusia, dan justru banyak pula capital dan tenaga kerja yang menggantikan sumber daya alam maupun ada saling mengganti antara berbagai sumber daya alam itu sendiri.
b.      Harga Barang Sumber daya Alam
Kelangkaan sumber daya alam dapat dilihat dari harga barang sumber daya yang semakin meningkat maupun dilihat dari “royalty” atau “rent”. Rent adalah harga bayangan satu suatu barang sumber daya dalam persediaan (stock). Bila seseorang tertarik pada “kelangkaan” maka “rent” lebih tepat sebagai alat pengukurnya. Namun bila seseorang berminat untuk mengetahui banyaknya pengorbanan dalam memperoleh barang sumber daya alam, maka harga lebih tepat sebagai indikatornya karena harga sudah mencakup biaya produksi dan rent. Selanjutnya karena rent sulit untuk diamati maka “harga” lebih banyak dipakai sebagai indikator baik untuk melihat kelangkaan maupun pengorbanan guna menghasilkan barang sumber daya alam. Tabel 4.1. memperlihatkan kecendrungan harga yang relatif turun, untuk barang-barang ekstraktif, mineral. Dengan melihat angka-angka harga itu tampaknya dapat disimpulkan bahwa kelangkaan sumber daya alam itu tidak akan terjadi. Walaupun demikian V.K. Smith menemukan bahwa laju penurunan harga barang sumber dayan itu semakin mengecil, sehingga hal ini memberikan pengertian kepada kita bahwa keadaan sumber daya alam menjadi lebih langka.
Tabel 4.2.
Harga Rill Beberapa Barang Sumber daya Nonminyak (Mineral), 1969-1979
Mineral
1969
1979
Tembaga ($/pound)
Besi ($/ton)
Batuan Fosfat ($/pound)
Seng ($ 0,14/pound)
Belerang ($/ton
Aluminium ($/pound)
Emas ($/0z)
0,45
10,09
5,23
1,62
0,14
25,50
38,98
0,40
10,61
8,20
3,24
0,16
25,90
131,26










               
Bagaimana dengan perkembangan harga minyak antara tahun 1970 dan tahun 1980-an. Harga minyakyang melonjak tinggi adalah karena kekuatan pasar dari sisi produsen (OPEC). Namun bila sumber daya alam nonminyak saja yang diperhatikan masih juga dapat disimpulkan adanya kelangkaan sumber daya alam antara tahun 1969-1979.
            Jadi tampaknya harga-harga barang sumber daya mineral memiliki pola perkembangan harga seperti huruf “U”, yaitu mula-mula tinggi kemudian menurun lalu naik lagi. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya penemuan baru dan kemajuan teknologi yang berakibat menekan biaya produksi dan royalty. Setelah itu penemuan baru semakin sulit dan biaya produksi juga tidak dapat turun terus, sehingga harga-harga akan naik kembali. Karena penemuan baru dan perkembangan teknologi mempengaruhi tingkat bunga, maka kedua hal tersebut juga mempengaruhi royalty secara tidak langsung. Tetapi harga atau rent selalu mengalami penyimpangan karena harga-harga yang diharapkan di masa datang sangat mempengaruhi harga saat ini dan rent.
            Seperti halnya dengan para pakar lain, Brown dan Field juga mencoba mempelajari dan membandingkan alat analisis tersebut dan mencari mana yang terbaik di antara ketiganya untuk mengetahui langka tidaknya persediaan sumber daya alam itu.
            Brown dan Field mengatakan bahwa semua cara yaitu biaya produksi per satuan, harga barang sumber daya alam dan nilai sewa ekonomis memiliki kelemahannya sendiri-sendiri dan mereka menyimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1.      Biaya rata-rata atau biaya per satuan yang dipakai oleh Barnett dan Morse dalam mengukur kelangkaan sumber daya alam merupakan indikator yang meragukan karena hal-hal berikut:
a)      Dalam dunia yang berkembang terus, biaya rata-rata tidak tepat digunakan untuk mengukur kelangkaan yang semakin meningkat karena tingkat teknologi berkembang terus.
b)      Bahwa biaya persatuan tidak memperhitungkan biaya-biaya pengambilan sumber daya di masa datang sebagai akibat dari meningkatnya kelangkaan itu sendiri.
c)      Biaya per satuan tidak dapat menjadi indeks pengukur yang tepat, karena biaya pengambilan dimasa datang tidak dapat diperhitungkan di sini.
d)      Biaya per satuan tidak mencerminkan keadaan semakin berkurangnya sumber daya alam.
e)      Biaya per satuan merupakan alat pengukur yang kurang tepat.
2.      Bahwa harga barang sumber daya relative lebih baik daripada biaya per satuan sebagai pengukur kelangkaan sumber daya alam karena:
a)      Harga rill barang sumberdaya lebih melihat ke depan dan mencerminkan adanya biaya yang diharapkan di masa datang baik untuk eksplorasi, penemuan, maupun pengambilan.
b)      Kemajuan teknologi mengalihkan tanda-tanda kelangkaan sumber daya alam yang ditunjukkan oleh harga rill barang sumber daya. Sebagai misal pada akhir abad ke XIX kayu menjadi langka, tetapi kemajuan teknologi telah dapat menjamin kestabilan harga barang.
c)      Harga rill sumber daya dapat meningkat maupun menurun, yang berarti menunjukkan adanya kelangkaan atau berkurangnya kelangkaan, tergantung pada harga mana yang dipakai untuk membuat angka indeks (price deflactor). Oleh karena itu harga barang sumber daya alam juga merupakan alat pengukur yang kurang jelas.

3.      Nilai sewa dari sumber daya alam (economic rent) atau nilai sumber daya alam ditempatnya (in situ resources), merupakan alat pengukur yang ketiga terhadap kelangkaan sumber daya alam. Nilai sewa ini lebih tepat menggambarkan kelangkaan sumber daya alam dari pada du acara yang disebut sebelumnya. Nilai sewa (economic rent) sumber daya alam pada umumnya meningkat dalam beberapa puluh tahun yang terakhir, tetapi biaya produksi dan harga barang justru menurun, khususnya untuk kayu.

Namun demikian ada beberapa keberatan terhadap alat pengukur ini, di antaranya yaitu:
a)      Sulit untuk mendapatkan data nilai sewa ekonomis dari sumber daya alam, karena nilai sewa sumber daya alam itu tudak praktis dalam jangka pendek.
b)      Nilai sewa lebih memperkirakan kelangkaan sumber daya alam yang semakin meningkat dalam arti ekonomi, tetapi berkurangya sumber daya alam sebagai cermin dari kelangkaan ekonomis.

Selanjutnya masih ada kelemahan lain yang dimiliki oleh harga barang sumber daya alam dan scarcity rent sebagai berikut:
a)      Sebagian sumber daya alam diusahakan untuk memenuhi kepentingan umum, sehingga harga pasar tidak mencerminkan penilaian yang sesungguhnya terhadap sumber daya alam itu.
b)      Tidak ada “future market” untuk sumber daya alam, sehingga tingkat harga dimasa yang akan datang hanya ditentukan oleh harapan saja (expectation)
c)      Sumber daya alam mempunyai aspek barang publik, yang pengkonsumsiannya tidak harus mengeluarkan orang yang tidak sanggup membayar (exclusion Principle tidak berlaku) dan kalu barang itu dikonsumsi tidak mengurangi yang tersedia untuk dikonsumsi orang lain (rivalry in consumption tidak berlaku), sehingga harga pasar kurang dapat mewakili.
Sebagai upaya selanjutnya, Brown dan Field mengajukan sebuah alat lagi yaitu dengan melihat elastisitas subtitusi antara actor-faktor produksi khususnya capital dan tenaga kerja apabila terdapat kelangkaan sumber daya alam. Jadi dengan melihat kemudahan bagi faktor produksi lain dalam menggantikan sumber daya alam yang relatif semakin langka. Semakin berkurangnya sumber daya alam sebenarnya tidak perlu ditakutkan asalkan ada kemudahan untuk mengantikan sumbe daya yang semakin langka itu dengan sumber daya lain yang lebih banyak jumlahnya. Jadi dalam hal ini sumber daya alam itu tidak langka selama mudah dalam mencarika penggantinya. Oleh karena itu tampaknya ukuran kelangkaan itu dapat dilihat dari elastisitas substitusinya yang mencerminkan tanggapan dalam perubahan penggunaan sumber daya alam dan sumber daya pengantinya terhadap perubahan harga.
Sebagai kesimpulan mengenai kebenaran dari alat pengukur ini perlu dikaji bagaimana ketelitian dari alat pengukur tersebut. Pendekatan dengan biaya produksi, maupun scarcity rent harus mengingat kondisi pasar yang ada; khususnya apakah mekanisme pasar dapat bekerja secara sempurna, tidak ada eksternalitas (externality), dan tidak ada campur tangan pemerintah.
Jadi dapat kita simpulkan bahwa pendekatan secara fisik maupun secara ekonomis sama-sama memiliki kelemahan. Pendekatan secara fisik tidak memiliki kepastian mengenai besarnya persediaan, sedangkan pendekatan secara ekonomis memiliki kelemahan yaitu bila mekanisme pasar tidak dapat bekerja secara sempurna. Oleh karena itu masih sulit untuk memastikan kondisi dari sumber daya alam itu, apakah masih melimpah atau sudah langka adanya, walaupun kita mengetahui secara pasti bahwa pengambilannya telah dilakukan secara terus-menerus bahkan dengan laju yang semakin meningkat.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENGARUH BERBAGAI VARIABEL EKONOMI TERHADAP KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM (Bab 7)

BAB 7 PENGARUH BERBAGAI VARIABEL EKONOMI TERHADAP KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM Seperti sudah sebagian besar disinggung bahwa banyak va...