MENGUKUR
KELANGKAAN SUMBER DAYA ALAM
1.
Pendahuluan
Telah
diuraikan di bagian depan bahwa terdapat kelompok optimis dan kelompok optimis
dan kelompok pesimis mengenai persediaan sumber daya alam. Dengan adanya dua
kelompok pemikiran itu telah dirasakan perlunya untuk meneliti lagi manakah di
antara kedua kelompok pemikir itu yang dapat diterima. Dengan kata lain kita
perlu mengadakan pengukuran tentang jumlah persediaan sumber daya alam. Namun
demikian tidak bagi para ahli ekonomi untuk mengetahui apakah sumber daya alam
yang ada itu masih banyak jumlahnya dalam arti kuantita atau volume tertentu.
Ahli
geologi dengan ilmu dan alat yang mereka miliki lebih mampu dalam mengukur
kuantita atau volume batu bara yang tersedia dalam bumi. Demikian pula ahli
pertanahan lebih mampu mengetahui tanah mana yang masih subur serta berapa
luasnya dan sebagainya. Namun demikian ahli ekonomi dengan peralatan analisis
yang mereka miliki juga harus dapat mengetahui masih banyak atau tingal sedikit
sumber daya alam tertentu itu tersedia di dalam bumi atau di permukaan bumi
ini, walaupun tidak dapat menentukan volume atau jumlahnya secara pasti dalam
ukuran tertentu. Sering ahli ekonomi hanya mengatakan sumber daya alam itu
langka atau tidak; dan kelangkaan ini lebih berarti kelangkaan ekonomi dan
bukan kelangkaan fisik.
Apakah yang
dimaksud dengan kata “langka” itu? Para ekonom sudah terbiasa mengartikan kata
langka dengna keadaan dimana jumlah barang yang diminta lebih banyak dari pada
jumlah barang yang ditawarkan atau yang tersedia, dann dalam pasar persaingan
sempurna kelangkaan ini akan menyebabkan harga barang yang bersangkutan naik.
Dalam kaitannya dengan sumber daya alam, persediaaan tersebut akan dapat
dikonsumsi untuk menopang kehidupan manusia.
Persediaan
sumber daya alam kita artikan sebagai volume sumber daya alam yang sudah
diketahui dan dapat diambil dengan mendatangkan keuntungan pada tingkat biaya
produksi dan tingkat harga tertentu. Sebagai missal sejak Indonesia baru
merdeka sudah diketahui bahwa Indonesia
memiliki pasir besi di pantai selatan Jawa Tengah, namun statistic
mengenai pasir besi belum sempurna dan kita tidak mengetahui berapapersediaan
(stock) pasir besi tersebut; baru setelah tahun 1970-an dengan adanya nilai
ekonomi Karena Jepang sanggup membeli pasir besi tersebut, maka pasir besi itu
bernilai sebagai sumber daya alam dan pasir sebelum digunakan sebagai bahan bangunan belum mempunyai nilai
dan jumlah yang ada belum diketahui persediaannya. Selanjutnya persediaan dapat
ditingkatkan baik dengan penemuan deposit baru ataupun dengan teknologi baru
yang dapat mengubah sumber daya alam yang tidak ekonomis menjadi sumber daya
alam yang ekonomis. Sayangnya memang sulit untuk mengetahui volume fisik,
lokasi, maupun kualitas sumber daya alam secara tepat, sehingga sulit pula
untuk menentukan derajat kelangkaaan sumber daya alam tersebut.
Untuk
mengetahui langka tidaknya sumber daya alam di bumi ini, para ahli ekonomi
menggunakan bebagai cara atau alat pengukur dalam bidang ilmunya, yaitu dengan
melihat harga barang sumber daya alam dan nilai sewa ekonomis atau economic
rent (Fisher*)), atau melihat satuan biaya produksi barang sumber
daya alam itu (Barnett dan Morse**)), dan dapat pula dengan melihat
royalty (economic rent) maupun elastisitas substitusi. Masing-masing cara ini
akan dibicarakan dibagianberikut.
Tampaknya
Barnett dan Morse setuju dengan pendapat Malthus dan Ricardo bahwa peningkatan
produksi pertanian akan memerlukan dosis capital dan tenaga kerja yang lebih
banyak, kemudian mereka menerapkannya pada sumber daya mineral. Fisher
mengetengahkan “scarcity rent atau economic rent” yaitu nilai satu satuan
sumber daya alam yang masih ada di dalam bumi, sebagai alat pengukur kelangkaan
yang lain. Hipotesis yang dikemukakan ialah apabila ketiga alat pengukur itu
(harga komoditi, biaya produksi dan rent) menjadi lebih tinggi, maka dapat
dikatakan bahwa tersedianya sumber daya alam sudah menjadi semakin langka.
Sekali lagi
yang dimaksud dengan persediaan sumber daya alam disini adalah sumber daya alam
yang sudah diketahui adanya secara geologis dan ia sudah mempunyai nilai
ekonomis. Lihat kotak yang diarsir pada Gambar 4.1
Gambar 4.1.
memperlihatkan apa yang dimaksud dengan istilah “persediaan sumber daya alam”.
Sesungguhnya segala sesuatu yang ada di dalam dan di atas bumi bukan buatan
manusia disebut sebagai sumber daya alam. Sumber daya ala mini ada yang sudah
diketahui dan ada yang belum diketahui. Yang belum diketahui dibedakan menjadi
sumber daya alam yang tidak dimengerti sama sekali dan yang secara hipotetis
dan spekulatif diketahui. Jadi Gambar 4.1. menunjukkan bahwa semakin ke kiri
|
|
Total Sumber
daya Alam
|
||
|
Diketahui/
terbukti
|
Belum
Diketahui
|
||
|
Ekonomi
|
Persediaan/
cadangan
|
Sumber
daya Hipotetis & Spekulatif
|
Tidak
dimengerti
|
|
Sub
ekonomi
|
|
||
|
Bahan/material
tidak
ekonomis
|
Ambang
Potensi Ekonomi
|
||
|
Ambang
Mineralogi Barang-barang Di Bumi Lainnya
|
|||
|
Gambar 4.1.
Pengertian Persediaan Sumber daya Alam
letak sumber daya alam dalam
kotak-kotak itu, semakin tinggi derajat kepastian geologis sumber daya alam
tersebut: dan semakin ke atas letak sumber daya alam itu dalam kotak-kotak
tersebut semakin tinggi derajat kelayakan ekonominya. Atas dasar pengertian itu
maka yang dimaksud dengan persediaan (reserve = stock) sumber daya alam adalah
sumber daya alam yang sudah mempunyai nilai ekonomis dan sudah diketahui atau
terbukti (proven) secara geologis. Memang dari persediaan sumber daya alam itu
derajatnya masih dapat dibedakan lagi menjadi sumber daya alam yang dapat
ditunjukkan secara geologis dan lebih tinggi lagi derajatnya sebagai persediaan
bila sumber daya ala mini sudah dapat diukur. Dari derajat manfaat ekonominya
sumber daya alam dapat dibedakan ke dalam sumber daya yang tidak ekonomis,
sub-ekonomis dan ekonomis.
2.
Pengukuran
Ekonomi Terhadap Kelangkaan
a.
Biaya Produksi
Baik ekonom klasik (Ricardo) maupun
Neo Klasik (Jevons) melihat
Bahwa peningkatan biaya produksi berhubungan dengan semakin berkurangnya
persediaan sumber daya alam. Memang barang sumber daya alam sudah terus-menerus
diambil dari bumi ini. Barnett dan Morse telah meneliti pola perkembangan
industry di Amerika Serikat.
Barnett dan Morse
memulai studinya dengan melihat pada dokrin Klasik tentang meningkatnya
kelangkaan ekonomis akan sumber daya alam secara ekonomis memang langka, dan
dengan berkembangnya waktu sumber daya alam itu menjadi semakin langka, dan ini
akan mengganggu kehidupan manusia dan pertumbuhan ekonomi. Namun dalam studi
Barnett dan Morse itu, dikemukakan bahwa teori Klasik mengenai meningkatnya
kelangkaan sumber daya alam itu tidak dapat diterima, kecuali dalam hal yang
sangat terbatas atau tertutup.
Barnett dan Morse
membuat hipotesis tentang kelangkaan sumber daya alam yaitu bahwa sumber daya
alam itu semakin langka bila:
1) Biaya riil persatuan output meningkat
terus selama periode pengambilan.
2) Biaya komoditi yang diambil relatif
lebih tinggi dari pada biaya produksi komoditi lain.
3) Harga komoditi yang diambil relative
lebih tinggi dari pada harga komoditi lain.
Atas data yang tersedia mereka menolak hipotesis yang
diberikan tadi, Karena ternyata harga rill dan biaya produksi riil semakin
turun dari tahun ke tahun sejak tahun 1870 sampai tahun 1957, kecuali dalam hal
komoditi kehutanan. Jadi dapat disimpulkan bahwa sumber daya alam itu tidak
semakin langka. Namun Kerry Smith memperbaharui data yang dipakai oleh Barnett
dan Morse dengan menggunakan data sampai tahun 1972 dan menemukan bahwa ada
sedikit kecenderungan kenaikan harga relatif produk pertanian, kenaikan harga
yang berfluktuasi untuk komoditi kehitanan, tetapi ada kecenderungan penurunan
harga yang berarti untuk barang-barang logam dan bahan bakar minyak.
Ada beberapa
alasan mengapa sumber daya alam tidak menjadi semakin langka ialah:
1) Karena adanya barang substitusi bagi
sumber daya alam yang terus-menerus diambil dan semakin sedikit jumlahnya,
dengan sumber daya alam yang semakin berlimpah adanya. Sebagai contoh adalah
alumunium menggantikan copper, biji-bijian menggantikan daging, plastic
menggantikan kulit, dan serat sintetis menggantikan serat alami.
2) Karena adanya penemuan baru dengan
dipakainya metode eksplorasi baru, seperti metode eksplorasi baru, seperti
metode geofisik, geokemis dan satelit.
3) Karena adanya peningkatan dalam impor
mineral dan metal dari negara lain. Dengan adanya perbaikan di bidang
transportasi telah memungkinkan daerah-daerah yang jauh dari lokasi sumber daya
alam mampu bersaing secara ekonomis.
4) Karena adanya peningkatan pengetahuan
teknik yang berguna bagi eksplorasi, pengambilan dan pengangkutan sumber daya
alam, sehingga produksi dapat bersifat besar-besaran dan biaya produksi
persatuan dapat ditekan.
5) Adanya kemungkinan daur ulang
(recycling). Sebagai missal konsumsi Amerika Serikat yang berasal dari barang
bekas adalah: besi 37%, tembaga 20%, aluminium 10%, nike 35%.
Di samping itu Barnett dan Morse juga
menyatakan bahwa dalam sejarah Amerika Serikat, setiap generasi selalu
meninggalkan warisan untuk generasi berikutnya yaitu keadaan tersedianya sumber
daya alam dengan kemampuan produksi yang semakin baik. Hal ini memang
dihasilkan oleh adanya akumulasi pengetahuan, kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang semuanya dapat mengimbangi peningkatan biaya produksi karena
semakin berkurangnya sumber daya alam. Namun itu semua bukan Karena kebetulan,
tetapi Karena adanya desakan untuk kemajuan pengetahuan, campur tangan
pemerintah, serta perubahan mekanisme yang sifatnya menempel dalam sistem
perekonomian dan masyarakat yang ada.
Sebenarnya Barnett dan Morse
mengajukan dua macam hipotesis, yaitu hipotesis kuat dan hipotesis lemah.
Hipotesis kuat menyatakan bahwa biaya rill persatuan barang-barang ekstraktif
akan meningkat dengan berkembangnya waktu Karena adanya keterbatasan dalam jumlah
maupun kualitas sumbedaya alam. Sedangkan hipotesis lemah menyatakan bahwa
meningkatnya kelangkaan sumber daya alam cenderung meningkatkan biaya produksi
riil, tetapi peningkatan ini lebih cepat dari pada kekuatan yang akan menekan
kenaikan biaya Karena adanya perubahan teknik dan kekuatan ekonomi lainnya.
Tabel 4.1
Indeks Biaya Satuan Komoditi Ekstraktif di Amerika Serikat 1870-1957
|
Tahun
|
Pertanian
|
Mineral
|
Hasil hutan
|
Seluruhnya
|
|
1870-1900
1929
1957
|
132
100
61
|
210
100
47
|
59
100
90
|
134
100
60
|
|
1929 = 100
|
||||
Sumber: Barnett dan Morse, Scarcity
and Growth 1963
Tabel 4.1.
menunjukan bahwa semua jenis komoditi ekstraktif mengalami penurunan biaya
produksi, kecuali untuk komoditi kehutanan ada bukti kenaikan biaya produksi
antara 1870-1900 dan 1929, masing-masing dengan indeks biaya 59 dan 100. Dari
data pada tabel tersebut apakah dapat disimpulkan bahwa sumber daya alam tidak
semakin langka atau justru ada pengambilan sumber daya alam mulai dari yang
rendah kualitasnya baru kemudian diikuti dengan semakin tinggi kualitasnya?
Jawabannya adalah “tidak”. Hal tersebut di atas memang dapat terjadi Karena
selama periode itu telah terjadi pula penemuan persediaan sumber daya alam
lewat eksplorasi maupun karena adanya perubahan teknologi. Barnett dan Morse sendiri
menafsirkan penemuannya itu sebagai akibat dari perubahan teknologi. Barnett
dan Morse sendiri menafsirkan penemuannya itu sebagai akibat dari perubahan
teknologi dan keuntungan dari skala ekonomi (economics of scale). Perkembangan
teknologi sangat menyolok di bidang sumber daya mineral, khususnya banyak
mesin-mesin yang menggantikan tenaga manusia, dan justru banyak pula capital
dan tenaga kerja yang menggantikan sumber daya alam maupun ada saling mengganti
antara berbagai sumber daya alam itu sendiri.
b.
Harga
Barang Sumber daya Alam
Kelangkaan
sumber daya alam dapat dilihat dari harga barang sumber daya yang semakin
meningkat maupun dilihat dari “royalty” atau “rent”. Rent adalah harga bayangan
satu suatu barang sumber daya dalam persediaan (stock). Bila seseorang tertarik
pada “kelangkaan” maka “rent” lebih tepat sebagai alat pengukurnya. Namun bila
seseorang berminat untuk mengetahui banyaknya pengorbanan dalam memperoleh
barang sumber daya alam, maka harga lebih tepat sebagai indikatornya karena harga
sudah mencakup biaya produksi dan rent. Selanjutnya karena rent sulit untuk
diamati maka “harga” lebih banyak dipakai sebagai indikator baik untuk melihat
kelangkaan maupun pengorbanan guna menghasilkan barang sumber daya alam. Tabel
4.1. memperlihatkan kecendrungan harga yang relatif turun, untuk barang-barang
ekstraktif, mineral. Dengan melihat angka-angka harga itu tampaknya dapat
disimpulkan bahwa kelangkaan sumber daya alam itu tidak akan terjadi. Walaupun
demikian V.K. Smith menemukan bahwa laju penurunan harga barang sumber dayan
itu semakin mengecil, sehingga hal ini memberikan pengertian kepada kita bahwa
keadaan sumber daya alam menjadi lebih langka.
Tabel 4.2.
Harga Rill Beberapa Barang Sumber daya Nonminyak (Mineral), 1969-1979
|
Mineral
|
1969
|
1979
|
|
Tembaga
($/pound)
Besi
($/ton)
Batuan
Fosfat ($/pound)
Seng
($ 0,14/pound)
Belerang
($/ton
Aluminium
($/pound)
Emas
($/0z)
|
0,45
10,09
5,23
1,62
0,14
25,50
38,98
|
0,40
10,61
8,20
3,24
0,16
25,90
131,26
|
Bagaimana dengan perkembangan harga minyak antara
tahun 1970 dan tahun 1980-an. Harga minyakyang melonjak tinggi adalah karena
kekuatan pasar dari sisi produsen (OPEC). Namun bila sumber daya alam nonminyak
saja yang diperhatikan masih juga dapat disimpulkan adanya kelangkaan sumber
daya alam antara tahun 1969-1979.
Jadi
tampaknya harga-harga barang sumber daya mineral memiliki pola perkembangan
harga seperti huruf “U”, yaitu mula-mula tinggi kemudian menurun lalu naik
lagi. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya penemuan baru dan kemajuan teknologi
yang berakibat menekan biaya produksi dan royalty. Setelah itu penemuan baru
semakin sulit dan biaya produksi juga tidak dapat turun terus, sehingga
harga-harga akan naik kembali. Karena penemuan baru dan perkembangan teknologi
mempengaruhi tingkat bunga, maka kedua hal tersebut juga mempengaruhi royalty
secara tidak langsung. Tetapi harga atau rent selalu mengalami penyimpangan
karena harga-harga yang diharapkan di masa datang sangat mempengaruhi harga
saat ini dan rent.
Seperti
halnya dengan para pakar lain, Brown dan Field juga mencoba mempelajari dan
membandingkan alat analisis tersebut dan mencari mana yang terbaik di antara
ketiganya untuk mengetahui langka tidaknya persediaan sumber daya alam itu.
Brown
dan Field mengatakan bahwa semua cara yaitu biaya produksi per satuan, harga
barang sumber daya alam dan nilai sewa ekonomis memiliki kelemahannya
sendiri-sendiri dan mereka menyimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1. Biaya
rata-rata atau biaya per satuan yang dipakai oleh Barnett dan Morse dalam mengukur
kelangkaan sumber daya alam merupakan indikator yang meragukan karena hal-hal
berikut:
a) Dalam dunia
yang berkembang terus, biaya rata-rata tidak tepat digunakan untuk mengukur
kelangkaan yang semakin meningkat karena tingkat teknologi berkembang terus.
b) Bahwa biaya
persatuan tidak memperhitungkan biaya-biaya pengambilan sumber daya di masa
datang sebagai akibat dari meningkatnya kelangkaan itu sendiri.
c) Biaya per
satuan tidak dapat menjadi indeks pengukur yang tepat, karena biaya pengambilan
dimasa datang tidak dapat diperhitungkan di sini.
d) Biaya per
satuan tidak mencerminkan keadaan semakin berkurangnya sumber daya alam.
e) Biaya per
satuan merupakan alat pengukur yang kurang tepat.
2. Bahwa harga
barang sumber daya relative lebih baik daripada biaya per satuan sebagai
pengukur kelangkaan sumber daya alam karena:
a) Harga rill
barang sumberdaya lebih melihat ke depan dan mencerminkan adanya biaya yang
diharapkan di masa datang baik untuk eksplorasi, penemuan, maupun pengambilan.
b) Kemajuan
teknologi mengalihkan tanda-tanda kelangkaan sumber daya alam yang ditunjukkan
oleh harga rill barang sumber daya. Sebagai misal pada akhir abad ke XIX kayu
menjadi langka, tetapi kemajuan teknologi telah dapat menjamin kestabilan harga
barang.
c) Harga rill
sumber daya dapat meningkat maupun menurun, yang berarti menunjukkan adanya
kelangkaan atau berkurangnya kelangkaan, tergantung pada harga mana yang
dipakai untuk membuat angka indeks (price deflactor). Oleh karena itu harga
barang sumber daya alam juga merupakan alat pengukur yang kurang jelas.
3. Nilai sewa
dari sumber daya alam (economic rent) atau nilai sumber daya alam ditempatnya
(in situ resources), merupakan alat pengukur yang ketiga terhadap kelangkaan
sumber daya alam. Nilai sewa ini lebih tepat menggambarkan kelangkaan sumber
daya alam dari pada du acara yang disebut sebelumnya. Nilai sewa (economic
rent) sumber daya alam pada umumnya meningkat dalam beberapa puluh tahun yang
terakhir, tetapi biaya produksi dan harga barang justru menurun, khususnya
untuk kayu.
Namun demikian
ada beberapa keberatan terhadap alat pengukur ini, di antaranya yaitu:
a) Sulit untuk
mendapatkan data nilai sewa ekonomis dari sumber daya alam, karena nilai sewa
sumber daya alam itu tudak praktis dalam jangka pendek.
b) Nilai sewa
lebih memperkirakan kelangkaan sumber daya alam yang semakin meningkat dalam
arti ekonomi, tetapi berkurangya sumber daya alam sebagai cermin dari
kelangkaan ekonomis.
Selanjutnya
masih ada kelemahan lain yang dimiliki oleh harga barang sumber daya alam dan
scarcity rent sebagai berikut:
a) Sebagian
sumber daya alam diusahakan untuk memenuhi kepentingan umum, sehingga harga
pasar tidak mencerminkan penilaian yang sesungguhnya terhadap sumber daya alam
itu.
b) Tidak ada
“future market” untuk sumber daya alam, sehingga tingkat harga dimasa yang akan
datang hanya ditentukan oleh harapan saja (expectation)
c) Sumber daya
alam mempunyai aspek barang publik, yang pengkonsumsiannya tidak harus
mengeluarkan orang yang tidak sanggup membayar (exclusion Principle tidak
berlaku) dan kalu barang itu dikonsumsi tidak mengurangi yang tersedia untuk
dikonsumsi orang lain (rivalry in consumption tidak berlaku), sehingga harga
pasar kurang dapat mewakili.
Sebagai
upaya selanjutnya, Brown dan Field mengajukan sebuah alat lagi yaitu dengan
melihat elastisitas subtitusi antara actor-faktor produksi khususnya capital
dan tenaga kerja apabila terdapat kelangkaan sumber daya alam. Jadi dengan
melihat kemudahan bagi faktor produksi lain dalam menggantikan sumber daya alam
yang relatif semakin langka. Semakin berkurangnya sumber daya alam sebenarnya
tidak perlu ditakutkan asalkan ada kemudahan untuk mengantikan sumbe daya yang
semakin langka itu dengan sumber daya lain yang lebih banyak jumlahnya. Jadi
dalam hal ini sumber daya alam itu tidak langka selama mudah dalam mencarika
penggantinya. Oleh karena itu tampaknya ukuran kelangkaan itu dapat dilihat
dari elastisitas substitusinya yang mencerminkan tanggapan dalam perubahan
penggunaan sumber daya alam dan sumber daya pengantinya terhadap perubahan
harga.
Sebagai
kesimpulan mengenai kebenaran dari alat pengukur ini perlu dikaji bagaimana
ketelitian dari alat pengukur tersebut. Pendekatan dengan biaya produksi,
maupun scarcity rent harus mengingat kondisi pasar yang ada; khususnya apakah
mekanisme pasar dapat bekerja secara sempurna, tidak ada eksternalitas
(externality), dan tidak ada campur tangan pemerintah.
Jadi dapat
kita simpulkan bahwa pendekatan secara fisik maupun secara ekonomis sama-sama
memiliki kelemahan. Pendekatan secara fisik tidak memiliki kepastian mengenai
besarnya persediaan, sedangkan pendekatan secara ekonomis memiliki kelemahan
yaitu bila mekanisme pasar tidak dapat bekerja secara sempurna. Oleh karena itu
masih sulit untuk memastikan kondisi dari sumber daya alam itu, apakah masih
melimpah atau sudah langka adanya, walaupun kita mengetahui secara pasti bahwa
pengambilannya telah dilakukan secara terus-menerus bahkan dengan laju yang
semakin meningkat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar