KAITAN
ANTARA KEMISKINAN, INDUSTRIALISASI DAN PENGAMBILAN SUMBERDAY ALAM
1.
PANDANGAN
MANUSIA DALAM RUANG DAN WAKTU
Pada
kesempatan ini kita ingin sekali lagi memusatkan perhatian kita pada hubungan
antara pembangunan ekonomi dan sumber daya alam. Memang sebagian besar teori
pertumbuhan ekonomi pada mulanya memusatkan perhatian pada hubungan antara
produksi atau output dengan factor produksi kapital dan tenaga kerja. Tetapi
akhir-akhir ini mulai terasa perlunya melihat peranan sumberdaya alam dalam hubungannya
dengan pertumbuhan ekonomi.
Kelompok
Roma’) sudah merasa khawatir apakah penduduk yang semakin besar jumlahnya
diplanet bumi ini akan dapat dipenuhi kebutuhannya dengan sumberdaya alam yang
semakin terbatas adanya. Lebih-lebih lagi dengan diketemukannya hubungan yang
terbalik anatara pertumbuhan ekonomi dan sumberdaya alam. Semakin pesat
pertumbuhan ekonomi, semakin sedikitlah sumber daya alam yang tersedia dibumi
ini. Apakah tersediannya sumber daya alam itu tidak membatasi pertumbuhan ekonomi
lebih lanjut?
Selanjutnya kelompok Roma juga mengajak kita
untuk menyadari dan sudi berpandangan jauh kedepan serta tidak berpandangan
sempit. Artinya kita tidak hanya mementingkan diri kita sendiri, tetapi lebih
luas bahkan memikirkan dunia ini sebagai satu kesatuan. Demikian juga kita
perlu memikirkan keadaan kita sendiri, Negara dan bangsa, bahkan dunia ini,
tidak hanya untuk hari ini atau hari esok, tetapi lebih dari itu 10 tahun
bahkan 100 tahun yang akan datang.
Keadaan yang
ada pada saat ini ialah bahwa hampir seluruh manusia di bumi ini mempunyai
pandangan yang sempit dan pendek baik dalam lingkup waktu dan ruangan dan hanya
sedikit yang berpandangan luas dan panjang. Keadaan ini digambarkan dalam
Gambar 3.1.
Gambar 3.1.
menunjukkan bahwa sumbu horisontal sebagai waktu dalam tahun dan sumbu vertikal
sebagai ruang. Semakin jauh dari tiitk (0), semakin lama waktu yang dipakai
sebagai pertimbangan pengambilan keputusan, misalnya tahun ini, tahun depan, 30
tahun yang akan datang. Sedangkan sumbu vertikal menunjukan ruang. Semakin jauh
dari sumbu (0), semakin luas ruang lingkup pemikiran guna mengambil keputusan
misalnya R1 = lingkungan
keluarga sendiri, R2 = lingkungan kelurahan R3 =
lingkungan kabupaten, R4 = lingkungan provinsi dan R5 =
lingkungan Negara, dan seterusnya.
R5
R4
R3
R2
` R1
0 5 10 15 20 25 30 35 40 WAKTU
Gambar 3.1.
Pandangan Manusia terhadap Ruang dan Waktu
Dalam gambar, para individu
(pribadi) diwakili oleh titik-titik dan tampak bahwa banyak individu yang
berpikir sempit dari segi ruang yaitu terutama membuat pertimbangan untuk diri
sendiri dan lingkungan sendiri dan juga pendek dari segi waktu yaitu terutama
untuk hari ini dan besok pagi dan paling lama tahun depan. Sedikit sekali
berpikir untuk dunia sebagai lingkungan hidup seseorang dan masa untuk 50 tahun
yang akan datang. Sebagai akibat dari sempit dan pendeknya kerangka pemikiran
para pribadi dalam masyarakat, maka akan ada kecenderungan untuk menguras
sumberdaya alam dan sumberdaya alam tersebut akan cepat menjadi habis. Hal yang
perlu ditanyakan ialah mengapa manusia pada umumnya berpikir sempit dan pendek?
Untuk menjawab pertanyaan ini perlu diadakan penelitian yang seksama. Namun untuk sementara dapat diajukan suatu jawaban (sebagai hipotesis) ialah bahwa semakin miskin seseorang maka akan cenderung semakin pendek dan sempit dalam pertimbangan keputusan yang diambilnya. Dengan kata lain karena kemiskinannya, seseorang cenderung untuk memikirkan pemenuhan kebutuhan yang paling mendesak (segera) dan untuk kebutuhan hidupnya sendiri. Semakin tinggi tingkat pendapatannya akan semakin longgar ruang geraknya untuk mengambil keputusan baik untuk janka waktu yang lebih lama maupun untuk kebutuhan yang lebih banyak orang diluar dirinya pribadi. Disisi lain dapat pula ditarik suatu hipotesis yang masih harus diuji kebenarannya yaitu bahwa justru golongan kaya yang mampu menguras sumberdaya alam karena kerakusannya dengan maksud untu mendapatkan keuntungan usaha yang maksimal.
Untuk menjawab pertanyaan ini perlu diadakan penelitian yang seksama. Namun untuk sementara dapat diajukan suatu jawaban (sebagai hipotesis) ialah bahwa semakin miskin seseorang maka akan cenderung semakin pendek dan sempit dalam pertimbangan keputusan yang diambilnya. Dengan kata lain karena kemiskinannya, seseorang cenderung untuk memikirkan pemenuhan kebutuhan yang paling mendesak (segera) dan untuk kebutuhan hidupnya sendiri. Semakin tinggi tingkat pendapatannya akan semakin longgar ruang geraknya untuk mengambil keputusan baik untuk janka waktu yang lebih lama maupun untuk kebutuhan yang lebih banyak orang diluar dirinya pribadi. Disisi lain dapat pula ditarik suatu hipotesis yang masih harus diuji kebenarannya yaitu bahwa justru golongan kaya yang mampu menguras sumberdaya alam karena kerakusannya dengan maksud untu mendapatkan keuntungan usaha yang maksimal.
2.
HUBUNGAN
ANTARA PENDUDUK, INDUSTRI DAN SUMBERDAYA ALAM
Marilah sekarang kita lihat kaitan antara penduduk, produksi barang dan jasa, serta kegiatan pengolahan sumberdaya alam dalam proses kombinasi dengan masukan-masukan lain seperti kapital, tenaga kerja, skill dam teknologi.
Seperti telah diuraikan sumberdaya alam merupakan salah satu masukan yang penting dalam kegiatan produksi apa saja baik disektor industry (pabrik), disektor pertanian, maupun disektor jasa. Semua kegiatan dalam ketiga sector itu memberikan hasil (output) berupa barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dengan kata lain sumberdaya alam harus digali guna memenuhi kebutuhan manusia. Semakin banyak jumlah penduduk, lebih-lebih disertai dengan peningkatan dalam taraf hidup yang tercermin pada peningkatan pendapatan per kapita, akan dituntut semakin banyak barang dan jasa yang hrus disediakan dan pada gilirannya akan digali atau dipakai lebih banyak sumberdaya alam.
Di sisi lain kegiatan produksi yang semakin meningkat disamping menghasilkan alat pemuas kebutuhan yang lebih banyak berupa barang dan jasa juga menghasilkan adanya pencemaran lingkungan (polusi). Pencemaran lingkungan ini mempunyai dampak negatif terhadap kesehatan manusia sehingga akan berarti menekan kesejahteraan hidup manusia. Pemcemaran karena kegiatan produksi lewat industi perpabrikan maupun pertanian terutama sekali akan terasa pada tanah, udara dan air (TUA). Dengan semakin memburuknya kualitas TUA itu, maka semakin tinggi biaya penanggulangannya dan semakin beratlah pencapaian tujuan pembangunan suata bangsa untuk hidup lebih baik secara materiil dan lebih lama di dunia ini.
Perlu diketahui pula bahwa antara berbagai sektor kegiatan itu terdapat hubungan timbal balik, dimana sektor industri menggunakan hasil produksi sektor pertanian sebagai masukan dan sebaliknya banyak hasil produksi sektor pertanian menggunakan hasil produksi sektor industri sebagai masukan, demikian pula dalam hubungannya dengan sektor jasa. Jadi ada saling ketergantungan di antara berbagai kegiatan produksi dalam perekonomian (lihat Gambar 3.2).
Dari Gambar 3.2. itu tampak ada tiga bidang kegiatan atau sektor usaha yaitu sektor industri, pertanian dan jasa yang masing-masing mempunyai hubungan input-output demi kelangsungan produksi di masing-masing sektor usaha tersebut.
Dalam kegiatannya masing-masing sektor memerlukan berbagai faktor produksi yang berupa kapital, tenaga kerja, skill, teknologi dan barang sumberdaya alam. Barang sumberdaya inilah yang harus disediakan oleh alam dan untuk mengambilnya dari
Marilah sekarang kita lihat kaitan antara penduduk, produksi barang dan jasa, serta kegiatan pengolahan sumberdaya alam dalam proses kombinasi dengan masukan-masukan lain seperti kapital, tenaga kerja, skill dam teknologi.
Seperti telah diuraikan sumberdaya alam merupakan salah satu masukan yang penting dalam kegiatan produksi apa saja baik disektor industry (pabrik), disektor pertanian, maupun disektor jasa. Semua kegiatan dalam ketiga sector itu memberikan hasil (output) berupa barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dengan kata lain sumberdaya alam harus digali guna memenuhi kebutuhan manusia. Semakin banyak jumlah penduduk, lebih-lebih disertai dengan peningkatan dalam taraf hidup yang tercermin pada peningkatan pendapatan per kapita, akan dituntut semakin banyak barang dan jasa yang hrus disediakan dan pada gilirannya akan digali atau dipakai lebih banyak sumberdaya alam.
Di sisi lain kegiatan produksi yang semakin meningkat disamping menghasilkan alat pemuas kebutuhan yang lebih banyak berupa barang dan jasa juga menghasilkan adanya pencemaran lingkungan (polusi). Pencemaran lingkungan ini mempunyai dampak negatif terhadap kesehatan manusia sehingga akan berarti menekan kesejahteraan hidup manusia. Pemcemaran karena kegiatan produksi lewat industi perpabrikan maupun pertanian terutama sekali akan terasa pada tanah, udara dan air (TUA). Dengan semakin memburuknya kualitas TUA itu, maka semakin tinggi biaya penanggulangannya dan semakin beratlah pencapaian tujuan pembangunan suata bangsa untuk hidup lebih baik secara materiil dan lebih lama di dunia ini.
Perlu diketahui pula bahwa antara berbagai sektor kegiatan itu terdapat hubungan timbal balik, dimana sektor industri menggunakan hasil produksi sektor pertanian sebagai masukan dan sebaliknya banyak hasil produksi sektor pertanian menggunakan hasil produksi sektor industri sebagai masukan, demikian pula dalam hubungannya dengan sektor jasa. Jadi ada saling ketergantungan di antara berbagai kegiatan produksi dalam perekonomian (lihat Gambar 3.2).
Dari Gambar 3.2. itu tampak ada tiga bidang kegiatan atau sektor usaha yaitu sektor industri, pertanian dan jasa yang masing-masing mempunyai hubungan input-output demi kelangsungan produksi di masing-masing sektor usaha tersebut.
Dalam kegiatannya masing-masing sektor memerlukan berbagai faktor produksi yang berupa kapital, tenaga kerja, skill, teknologi dan barang sumberdaya alam. Barang sumberdaya inilah yang harus disediakan oleh alam dan untuk mengambilnya dari







Target Output Sector Usaha Kombinasi Input
Gambar 3.2.
Kaitan Antara Sektor Industri, Pertanian dan Jasa
Serta Sumberdaya Alam dan Lingkungan
Alam harus
ada perusahaan-perusahaan yang bekerja di bidang tersebut yang juga memerlukan
masukan (input) dari perusahaan lain atau sektor kegiatan lain. Dengan
pengambilan yang terus-menerus guna menjamin lancarnya kegiatan produksi, maka
tersedianya sumberdaya alam di bumi ini akan semakin menipis bila tidak ada
penambahan alamiah terhadap persediaan sumberdaya alam tersebut. Menipisnya
persediaan sumberdaya alam ini akan berakibat pada menurunnya produksi barang
dan jasa; yang berarti dapat menekan kesejahteraan hidup manusia.
Selanjutnya setiap sektor usaha
pasti menghasilkan barang dan jasa demi pemenuhan kebutuhan hidup manusia.
Semakin tinggi jumlah produksi barang dan jasa dalam perekonomian, akan semakin
tinggi pula derajat kesehatan penduduk dalam perekonomian tersebut. Di sisi
lain, peningkatan kegiatan masing-masing sektor usaha akan menghasilkan
pencemaran lingkungan yang mempunyai dampak negatif terhadap kesejahteraan
manusia. Masalahnya sekarang adalah bagaimana tetap mempertahankan produksi
barang dan jasa yang tinggi, namun menekan pencemaran lingkungan dan mengurangi
menipisnya persediaan sumberdaya alam.
Ada dua hal penting yang dapat
dikemukakan dalam kaitannya dengan penggunaan sumberdaya alam yaitu apakah
sumber daya alam itu membatasi pertumbuhan ekonomi dan berapakah tingkat
penggunaan sumberdaya alam yang optimal. Pertanyaan yang pertama berhubungan
dengan berapa cepat sumberdaya alam itu dimanfaatkan/dihabiskan dab bagaimana akibatnya
bila terdapat kekurangan sumberdaya alam tersebut terhadap perkembangan sektor
industri, pertanian maupun jasa. Sesungguhnya Memang tidak mudah untuk
mengatakan apakah pengambilan sumberdaya alam selama ini kita terlalu cepat
atau terlalu lamban kesulitan ini dapat dimengerti karena adanya kesulitan
dalam memahami berapa banyak jumlah persediaan yang dipunyai oleh suatu
masyarakat atau bangsa dan berapa besar kebutuhan akan sumberdaya alam itu
harus dipenuhi disamping tidak adanya kepastian periode waktu bagi pemanfaatan sumberdaya alam
tersebut. Oleh karena itu hal yang perlu diingat pemanfaatan sumberdaya alam
tersebut sebaik mungkin dan selama mungkin. Jadi masalahnya adalah bagaimana
mendistribusikan sumberdaya alam itu antar waktu sedemikian rupa sehingga
kelestariannya tetap dijamin dan dicapai pemanfaatan yang maksimal
Pertanyaan yang kedua lebih bersifat
teoritis yaitu bagimana seharusnya sumberdaya alam itu dimanfaatkan guna
menjamin kelangsungan pertumbuhan ekonomi (Sustaniable growth).
Ramalan yang mungkin paling pesimis
mengenai masyarakat industri adalah komitmen yang berlanjut terhadap
pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang mengakibatkan rusaknya ekologi yang
penting bagi adanya kehidupan manusia. Seperti telah disinggung dimuka,
masyarakat industri dapat hancur dan kualitas kehidupan akan merosot apabila
tejadi kelebihan penduduk, pencemaran lingkungan, dan terkurasnya sumberdaya
alam. Hal tersebut terjadi karena melajunya pertumbuhan ekonomi yang cenderung
mengutas sumberdaya alam yang tak pulih seperti energi minyak dan pencemaran
lingkungan yang tak dapat diobati lagi khususnya terhadap udara dan air. Namun
di sisi lain ada pendapat yang menentang pernyataan bahwa masyarakat industri
akan merusak lingkungannya sendiri, karena adanya perkembangan teknologi yang
dimungkinkan oleh perkembangan dari masyarakat industri itu sendiri dengan cara
menciptakan teknik pemberdayaan sumber energi baru dan teknik pencegahan
pencemaran terhadap tanah, udara dan air (TUA). Apabila argument ini benar maka
pengurasan sumberdaya alam dan pencemaran lingkungan akan sementara saja
sifatnya dalam suatu masyarakat industri dan bukan sebagai masalah yang
menempel dalam masyarakat tersebut secara structural.
Bagi para pecinta lingkungan
(environmentalist) satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dunia ini dari
kehancuran adalah hanya dengan menekan laju pertumbuhan ekonomi. Sedangkan bagi
mereka yang mendukung pertumbuhan ekonomi demi peningkatan kesejahteraan
masyarakat dalam jangka panjang (growthist), berpendapat bahwa gerakan menuju
pada perekonomian yang mapan (steady state economy) justru akan menghambat
investasi dalam bidang perkembangan teknologi yang diperlukan untuk memecahkan
masalah lingkungan.
kelompok environmentalist
menekankan bahwa pencemaran lingkungan dan konsumsi sumberdaya alam yang tidak
pulih berkembang secara eksponential yaitu bahwa pertumbuhan itu sendiri
berkembang dengan laju yang semakin cepat seperti tampak pada Gambar 3.3 kurva
eksponential menunjukkan pertumbuhan konsumsi yang mula-mula lamban, tetapi
setelah waktu tertentu meningkat dengan cepat.
Kelompok Roma dengan menggunakan
model matematis menunjukkan saling ketergantungan di antara lima faktor utama
yang menentukan laju pertumbuhan dan batas pertumbuhan ekonomi di dunia ini.
Faktor-faktor tersebut adalah penduduk, produksi pertanian, sumberdaya alam,
produksi industri pengolahan dan pencemaran lingkungan. Beberapa kesimpulan
dari studi kelompok Roma itu adalah sebagai berikut:
a. Bila kecenderungan pertumbuhan jumlah
penduduk dunia, industrialisasi, pencemaran, produksi pangan, dan pengambilan
sumberdaya alam tetap seperti pada saat ini, batas pertumbuhan di bumi ini akan
tercapai dalam waktu kira-kira 100 tahun lagi. Akibat yang timbul dari dari
tercapainya batas pertumbuhan itu ialah jumlah penduduk akan berkurang secara
drastic demikian pula kapasitas sector industi.
b. Ada kemungkinan untuk mengubah
kecenderungan pertumbuhan dan menciptakan
keadaan ekologi dan ekonomi yang stabil dimasa datang. Keseimbangan
secara global di dunia ini dapat diusahakan sehingga kebutuhan setiap orang di
dunia ini dapat dipuaskan dan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk
merealisasikan potensi-potensi yang dimilikinya.

Gambar 3.3
Kurva
Perubahan Eksponential
c.
Bila penduduk dunia mengambil
keputusan untuk berjuang merealisasikan keadaan pada butir (b), semakin cepat
mereka mulai, semakin cepat pula kemungkinan berhasilnya.
Dari kelima faktor di atas
tampaknya penduduk merupakan faktor yang justru lebih serius di sector
pertanian dibanding sektor diluar pertanian. Seperti telah dikemukakan bahwa
pertumbuhan jumlah penduduk justru mendorong usaha pertumbuhan ekonomi, sebab
kalau tidak ada pertumbuhan ekonomi secara niscaya standar hidup manusia pasti
semakin merosot. Demikian pula pencemaran lingkungan bukan saja merupakan hasil
dari limbah industri, tetapi juga merupakan akibat dari kepadatan jumlah
penduduk.
Laju pertumbuhan penduduk yang
tinggi di Negara-negara yang sedang berkembang merupakan akibat dari penurunan
tingkat kematian dan masih tetap tingginya tingkat kelahiran dan ini terjadi
terutama diluar sektor industri. Tingkat kelahiran di Negara-negara industri
jelas menurun dan bahkan kalau kecenderungan ini berlangsung terus akan dapat
terjadi keadaan penduduk yang “stationer” atau bahkan semakin kecil jumlahya,
seperti yang dialami oleh Swedia, Denmark, Jerman , Austria, Hongaria,
Perancis, Singapore, yang diperkirakan akan dapat mencapai pertumbuhan penduduk
nol (Zero Population Growth = ZPG) pada pertengahan abad ke 21
Menurunnya tingkat kelahiran di
beberapa negara, jelas disebabkan karena perbaikan taraf hidup dan pendidikan
serta efektifitas program keluarga berencana seperti di Indonesia. Dalam
masyarakat industri jumlah keluarga cenderung diperkecil karena kebutuhan,
banyak penundaan perkawinan, dan bahkan semakin besar jumlah penduduk yang
tidak menikah. Memang untuk sampai kepada masyarakat industri, negara-negara
yang bersifat agraris akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Walaupun demikian
tampaknya tekanan penduduk harus dirasakan sebagai faktor yang menekan seluruh perekonomian
baik sektor pertanian maupun sektor bukan
pertanian. Bahkan tekanan penduduk akan dapat menghambat usaha-usaha
penanggulangan pencemaran oleh sektor industri dan pengurangan terhadap
pengurasan sumberdaya alam. Pembangunan ekonomi khsusnya untuk negara-negara
sedang berkembang sangatlah dibutuhkan terutama untuk menghapus kemiskinan di
negara-negara tersebut, yang seringkali kemiskinan itu timbul dari adanya
kepadatan jumlah penduduk. Oleh karena
itu usaha-usaha menekan pertumbuhan jumlah penduduk adalah vital dalam rangka
mengurangi pencemaran lingkungan maupun pengurasan sumberdaya alam.
3.
PENGAMBILAN
SUMBERDAYA ALAM DALAM MASYARAKAT INDUSTRI
Banyak
sumber daya alam yang diperlukan oleh masyarakat industri yang sudah hamper
habis dalam arti bahwa tingkat
penggunaan sekarang terlalu tinggi dalam kaitannya dengan jumlah persediaan
sumberdaya alam yang diketahui. Semua pihak menyetujui pernyataan ini, namun
ada perbedaan pendapat mengenai implikasi kebijakan dan cara penanggulangan
masalah yang ditimbulkannya.
Bagi
mereka yang mendukung pertumbuhan ekonomi, masalah kekurangan sumberdaya alam
hanya sementara sifatnya karena masalah tersebut dapat di atasi dengan kemajuan
teknologi yang dikaitkan dengan penemuan baru, eksplorasi, pengambilan baru,
dan pengolahan sumberdaya alam. Maka dari itu kekurangan sumberdaya alam dalam
arti absolut atau jarang terjadi. Apabila barang sumberdaya alam sudah mulai
berkurang adanya, maka harganya mulai meningkat dan dan ini mendorong adanya
eksplorasi untuk menemukan sumberdaya alam baru atau persediaan baru bagi
sumber daya alam yang sudah diketemukan sebelumnya. Hal ini akan mendorong
diciptakannya teknologi baru dan diusahakannya barang sumberdaya pengganti yang
lebih murah harganya. Dengan kata lain kelompok ini sangat yakin terhadap
perkembangan teknologi asal cukup banyak dana penelitian yang disediakan, untuk
memecahkan kesulitan dalam terbatasnya persediaan sumberdaya alam. Dibelakang
pemikiran ini terdapat anggapan bahwa peningkatan tersedianya sumberdaya alam
dan pengambilannya adalah sangat diperlukan guna berlangsungnya pertumbuhan
ekonomi, dan pertumbuhan ekonomi sangat diperlukan untuk memperbaiki taraf
hidup manusia di bumi ini.
Disisi
lain para environmentalist menyatakan bahwa permintaan terhadap sumberdaya alam
menigkat secara eksponensial, dan cara pemecahan yang telah ditempuh dan
berhasil di masa lampau, tidak lagi dapat dipercaya untuk masa yang akan
datang. Demikian pula ada “dimishing returns” dalam teknologi, karena
sumberdaya alam yang tersedia semakin langka maka energi yang diperlukan untuk
menemukan dan mengambilnya menjadi makin besar. Disamping itu banyak cara yang
dipakai untuk menanggulangi kekurangan sumberdaya alam tersebut akan
menimbulkan pencemaran lingkungan.
Apakah
masalah pengambilan sumberdaya alam itu bersifat temporer atau permanen, tetapi
yang jelas adalah bahwa persoalan itu ada dan sesungguhnya hanya ada tiga
kemungkinan cara pemecahannya.
a. Cara yang
pertama adalah meningkatkan tersedianya sumberdaya alam pada laju yang paling
tidak sama dengan laju penggunaan sumberdaya alam. Kebijakan yang sekarang ini
ditempuh dalam kebanyakan negara industri diarahkan untuk meningkatkan
tersedianya sumberdaya alam seperti mengintensifkan penelitian sumber-sumber
minyak dan gas baru.
b. Cara
pemecahan yang kedua ialah meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya alam
yang sekarang ini sudah kita kuasai dan kita ketahui persediaannya. Kita harus
menggunakan “technical fix” yaitu pemecahan masalah yang secara teknis dan
ekonomis layak atas dasar standar saat ini dan tidak memerlukan
perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan yang berarti. Sebagai missal adalah
diciptakannya mobil-mobil model baru yang hemat bahan bakar.
c. cara
pemecahan masalah yang keitiga adalah berupa penekanan permintaan terhadap
sumberdaya alam. Sebagai contoh dari cara ini adalah penggunaan kendaraan
angkutan umum untuk menggantikan kendaraan-kendaraan pribadi. Cara yang ketiga
ini menghendaki adanya perubahan cara hidup atau gaya hidup para pribadi dalam
masyarakat.
Masing-masing dari ketiga cara di atas tidak berarti harus saling
meniadakan satu sama lain, melainkan ketiga cara tersebut justru dapat dipakai
secara bersama-sama. Beberapa tindakan konservasi sumberdaya alam dapat
digunakan bersama-sama dengan tindakan untuk menemukan sumberdaya alam baru
guna menunjang pertumbuhan permintaan akan sumberdaya alam. Dalam jangka
panjang tampaknya mau tidak mau harus dilaksanakan. Permintaan terhadap sumber
daya energi dan sumber daya lain meningkat terus dengan cepat, dan semakin lama
kita meunggu kapan akan dilaksanakan kebijakan konservasi maka akan semakin
sulit usaha konservasi itu dapat dilaksanakan. Demikian pula semakin banyak
teknologi yang dikaitkan dengan usaha peningkatan pertumbuhan ekonomi, semakin
sedikit macam teknologi tepat guna yang diarahkan untuk pertumbuhan ekonomi yang pantas (tidak
terlalu cepat). Sekali sumberdaya alam tak pulih (Minyak) itu habis, maka
apapun cara pemecahan yang dipakai akan sulit untuk berhasil.
4.
SUMBERDAYA ALAM DAN PENCEMARAN DALAM MASYARAKAT INDUSTRI
Memburuknya lingkungan dan terkurasnya
seumberdaya alam sangat dipengaruhi oleh perkembangan sektor industri. Sebagai
misal pengurasan sumberdaya energi sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi,
kemudian dengan semakin cepatnya pertumbuhan ekonomi akan mempercepat pegurasan
sumberdaya tersebut. Proses ini akan menghambat pertumbuhan ekonomi lebih
lanjut. Jadi karena sumberdaya alam tersebut dibutuhkan untuk pembangunan,
suatu kekurangan dalam sumberdaya energi akan memperlambat pertumbuhan ekonomi
baik secara langsung ataupun tidak langsung. Secara langsung misalnya, dengan
tidak tersediannya sumberdaya energi, dan secara tidak langsung misalnya,dengan
adanya kenaikan harga barang sumberdaya tersebut sehingga menghambat penambahan
kapital yang diperlukan untuk perbaikan teknik produksi.
Apakah pencemaran lingkungan dan pengurasan sumberdaya alam selalu terjadi dalam masyarakat industri? Apabila memang demikian maka:
Apakah pencemaran lingkungan dan pengurasan sumberdaya alam selalu terjadi dalam masyarakat industri? Apabila memang demikian maka:
a. Mungkin tidak ada cara untuk
menghindari pencemaran dan pengurasa sumberdaya alam
kalau tingkat perkembangan ekonomi tertentu harus dicapai.
kalau tingkat perkembangan ekonomi tertentu harus dicapai.
b. Perubahan sosial yang cepat
dan struktur masyarakat yang kompleks akan tidak
memungkinkan untuk menemukan dan melaksanakan pemecahan terhadap masalah
tersebut.
memungkinkan untuk menemukan dan melaksanakan pemecahan terhadap masalah
tersebut.
Pertanyaan yang pertama memang berkaitan
dengan masalah pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh indutrialisasi.
Ancaman terhadap ekosistem dunia disebabkan oleh adanya negara industri,
terutama negar industri maju seperti Amerika Serikat. Mobil merupakan sumber
yang utama dari pencemaran udara diAmerika Serikat karena banyak jumlah mobil,
dan ini adalah sebagai akibat dari kemakmuran yang diciptakan di negara
tersebut sebagai hasil industrialisasi. Industri pengolahan dan pabrik-pabrik
pembangkit listrik yang dibutuhkan oleh masyarakat industri secara langsung
bertanggung jawab terhadap pencemaran lingkungan dan air. Industri adalah
penyebab yang kedua setelah mobil dalam mencemari lingkungan di Amerika
Serikat, sedangkan indsutri merupakan sumber pencemaran lingkungan utama di
Rusia maupun negara lain yang memiliki lebih sedikit jumlah kendaraan bermotor.
Tetapi hendaklah dimengerti bahwa industrialisasi memang mencemari lingkungan,
namun tidak harus berarti bahwa masalah pencemaran lingkungan hanya menempel
atau ada dalam kehidupan industri.
Ada yang mengatakan bahwa memburuknya lingkungan bukan merupakan akibat dari industrialisasi melainkan karena kapitalisme dalam indsutrialisasi tersebut. Pemilikan swasta terhadap alat-alat produksi, perekonomian pasar, dan motif mencari laba, telah menyebabkan perekonomian terikat pada tujuan demi untuk pertumbuhan ekonomi, sehingga perubahan-perubahan kecil akan lenyap bila tidak bekerja efisien. Target pertumbuhan seringkali mengabaikan dampak negatif yang merusak lingkungan asalkan banyak barang baru dapat diciptakan, dan mungkin sekali tidak mempertimbangkan apakah sumberdaya alam itu dapat diperbaharui atau tidak. Argumen di atas menyimpulkan bahwa perekonomian kapitalis memerlukan pertumbuhan agar dapat hidup, tetapi disisis lain pertumbuhan itu memerlukan pengorbanan lingkungan. Di pihak lain ada sistem ekonomi sosialis yang lebih menempatkan keadilan dan demokrasi diatas pertumbuhan ekonomi. Sayangnya untuk menerima pernyataan bahwa hanya masyarakat kapitalis mudah, karena memang sulit untuk menemukan contohnya. Rusia yang merupakan negara industri dan sekaligus sebagai negara bukan kapitalis, mengalami permasalahan yang sama dan juga menekankan adanya pertumbuhan.
Sebagai suatu kesimpulan adalah bahwa ada hubungan yang jelas antara indsutrialisasi dan memburuknya lingkungan serta berkurangnya sumberdaya alam, walaupun pada derajat yang berbeda-beda. Hubungan antara industrialisasi dan lingkungan serta pengurasan sumberdaya alam berkembang secara eksponensial dan ada bahaya yang nyata dan akan ada saat di mana kegiatan harus jalan terus dan akan membawa kepada kehancuran dan cara kehidupan industri itu sendiri. Pemecahannya apabila dengan terus meningkatkan pertumbuhan dan kemajuan teknik untuk mengatasi masalah tersebut, maka rasanya tidak ada masalah dalam masyarakat indsutrin tetapi bila yang ditempuh adalah tanpa pertumbuhan, maka kita akan membawa masyarakat kita kembali ke zaman tradisional dengan kehidupan sederhana.
Ada yang mengatakan bahwa memburuknya lingkungan bukan merupakan akibat dari industrialisasi melainkan karena kapitalisme dalam indsutrialisasi tersebut. Pemilikan swasta terhadap alat-alat produksi, perekonomian pasar, dan motif mencari laba, telah menyebabkan perekonomian terikat pada tujuan demi untuk pertumbuhan ekonomi, sehingga perubahan-perubahan kecil akan lenyap bila tidak bekerja efisien. Target pertumbuhan seringkali mengabaikan dampak negatif yang merusak lingkungan asalkan banyak barang baru dapat diciptakan, dan mungkin sekali tidak mempertimbangkan apakah sumberdaya alam itu dapat diperbaharui atau tidak. Argumen di atas menyimpulkan bahwa perekonomian kapitalis memerlukan pertumbuhan agar dapat hidup, tetapi disisis lain pertumbuhan itu memerlukan pengorbanan lingkungan. Di pihak lain ada sistem ekonomi sosialis yang lebih menempatkan keadilan dan demokrasi diatas pertumbuhan ekonomi. Sayangnya untuk menerima pernyataan bahwa hanya masyarakat kapitalis mudah, karena memang sulit untuk menemukan contohnya. Rusia yang merupakan negara industri dan sekaligus sebagai negara bukan kapitalis, mengalami permasalahan yang sama dan juga menekankan adanya pertumbuhan.
Sebagai suatu kesimpulan adalah bahwa ada hubungan yang jelas antara indsutrialisasi dan memburuknya lingkungan serta berkurangnya sumberdaya alam, walaupun pada derajat yang berbeda-beda. Hubungan antara industrialisasi dan lingkungan serta pengurasan sumberdaya alam berkembang secara eksponensial dan ada bahaya yang nyata dan akan ada saat di mana kegiatan harus jalan terus dan akan membawa kepada kehancuran dan cara kehidupan industri itu sendiri. Pemecahannya apabila dengan terus meningkatkan pertumbuhan dan kemajuan teknik untuk mengatasi masalah tersebut, maka rasanya tidak ada masalah dalam masyarakat indsutrin tetapi bila yang ditempuh adalah tanpa pertumbuhan, maka kita akan membawa masyarakat kita kembali ke zaman tradisional dengan kehidupan sederhana.
5.
PEMBANGUNAN
DAN LINGKUNGAN HIDUP DI INDONESIA
Pada tahun 1985, undang-Undang Lingkungan Hidup untuk
Indonesia dipersiapkan. Salah satu alasannya adalah untuk mempertahankan
keseimbangan antara kelestaraian lingkungan dengan pembangunan yang sedang
dilaksanakan. Maksudnya ilang pembangunan industri di suatu wilayah perlu
memperlihatkan lingkungan. Jangan sampai terjadi peningkatan kegiatan ekonomi
melalui industrilisasi namun sektor pertanian atau sektor kehutanan menjadi
rusak dan lingkungan pengembangan industri jangan hanya membuahkan manfaat yang
temporer saja tanpa memperhatikan damapak negatif dalam jangka panjang.
Sebaliknya yang diperlukan adalah manfaat yang berkelanjutan
untuk kesejahteraan, sehingga pengelolaan sumber daya alam dalam kaitannya
dengan pengelolaan lingkungan tidak hanya mempertimbangkan manfaat kekayaan
alam itu dalam sesaat dengan keuntungan yang sebesar-besarnya tetapi yang
diperlukan adalah pengelolan yang tepat demi kelestarian pembangunan dalam
jangka panjang.
Cara yang sering digunakan adalah pengelolaan lingkungan ini
ialah dengan menginternalisasikan eksternalitas negatif yang disebabkan oleh
pembangunan ekonomi. Dalam hal ini kita tidak menganut aliran ekonomi klasik
maupun neo-klasik, yang menilai setiap harga barang ditentukan oleh pasar.
Dalam kedua aliran tersebut, barang-barang sumber daya alam yang “tidak
mempunyai harga” seperti air, udara sering tidak diperhitungkan dalam
perhitungan ragu-laba. Karena tidak ada perhitungan inilah sering terjadi
pencemaran, yang akhirnya menjadi masalah yang luar biasa. Biaya yang akan
dikeluarkan untuk menangani masalah seperti itu akan sangat besar.
Oleh karena itu munculnya ekonomi lingkungan merupakan suatu
tindakan yang sangat tepat, sehingga ekonomi yang dihasilkan pada gilirannya
akan mengerti masalah pengembangan sektor industri dengan tetap memperhitungkan
kepentingan lingkungan.
Suatu contoh untuk keserasian guna pemeliharaan lingkungan
dan pembangunan apabila kita mengadakan intervensi terhadap alam, misalnya
pembuatan waduk, terlebih dahulu kita perhatikan dampak positif dan negatifnya.
Untuk itulah dikembangkan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). AMDAL
merupakan suatu instrumen yang memungkinkan untuk melakukan pelestarian yang
serasi dan seimbang tersebut.
Sebagai contoh, dalam pembuatan kawasan industri terlebih
dahulu harus dibuat AMDAL nya. Kalau lingkungan industri tersebut memiliki
dampak positif yang lebih besar disbanding dengan dampak negatifnya terhadap
lingkungan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat maka proyek tersebut dapat
diteruskan. Tetapi bila lebih besar dampak negatifnya, maka lokasi kawasan
industri tersebut harus dipindahkan.
Selain itu kita kenal pula SEMDAL (Studi Evaluasi Mengenai
Dampak Lingkungan). Ini adalah instrument yang dapat dipergunakan untuk
mengukur dampak yang telah terjadi dan tindakan yang harus dilakukan untuk
menanggulangi dampak tersebut. Jadi ini diterapkan pada kegiatan yang sudah
berjalan.
Dua instrument tersebut merupakan kelanjutan dari UULH No. 4
Tahun 1982 yang dapat digunakan untuk mengoptimalkan pemanfaaatan sumberdaya
alam secara tangguh. AMDAL merupakan keputusan Menteri KLH atas dasar PP No.
29/86 dan telah diganti dengan PP No. 51/1993 dan keluarnya atas dasar UULH No.
4 Tahun 1982 pasal 16 yang mengharuskan adanya Peraturan Pemerintah (PP)
tentang hal ini. Dalam Peraturan Pemerintah (PP) ini atur adanya
pedoman-pedoman, maka keluarlah keputusan-keputusan Menteri KLH No. 50/87
mengenai AMDAL dan No. 51 mengenai SEMDAL.
Sering terjadi banyak pihak yang kurang memahami tentang
lingkungan. Misalnya para kontraktor mengadakan penggalian pasir di sekitar
jembatan, padahal jelas penggalian di sekitar jembatan itu akan mengakibatkan
erosi di sekitar pondasi jembatan. Ini jelas sangat membahayakan. Namun hal ini
sering juga dilakukan oleh instansi yang memberi izin, yang tidak mengetahui
bahwa daerah yang akan digali adalah daerah terlarang, sehingga apabila
penggalian telah dilaksanakan akan terjadi kelongsoran dan erosi.
Untuk itu dianjurkan agar para pemberi izin bekerja sama
dengan Departemen Geologi yang mengetahui daerah mana yang boleh ditambang,
sehingga memberi manfaat.
Terdapat pemikiran yang keliru dalam masyarakat bahwa bahwa
pekarangan yang disemen akan menampakkan modernisasi, padahal ini justru
menampakkan ketidakmengertiannya terhadap lingkungan. Karena pada akhirnya
tanah tidak mampu menyerap air, sehingga cadangan air tanah akan berkurang,
karena air akan langsung mengalir ke sungai. Di pedesaan kini diadakan program
pagarisasi desa dengan tembok. Padahal yang baik adalah pagarisasi dengan
tanaman, karena dengan cara ini akan mempertahankan sirkulasi O2.
Kalau dibandingkan dengan negara yang sedang berkembang
lainnya, kita belum terlambat dalam menetapkan UULH. Perencanaan kita bukan
sekedar untuk waktu sekarang, tetapi untuk jangka panjang atau masa yang akan
datang dengan memperhatikan lingkungan hidup.
Kelestarian sumber daya alam akan dapa dipertahankan, karena
kita melihat sebagian besar masyarakat masih sadar akan lingkungan alam
sekitarnya. Dalam peringatan-peringatan hari besar tentu sering kita menjumpai
penanaman pohon, baik di kantor, sekolah maupun instansi. Melalui
lembaga-lembaga swadaya masyarakat kini mulai dikembangkan pentingnya lingkugan
hidup.
Pembicaraan yang lebih rinci dan luas mengenai penelolaan
lingkungan hidup dan AMDAL disajikan pada Bab 16.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar