Senin, 25 November 2019

KAITAN ANTARA KEMISKINAN, INDUSTRIALISASI DAN PENGAMBILAN SUMBERDAY ALAM (Bab 3)


KAITAN ANTARA KEMISKINAN, INDUSTRIALISASI DAN PENGAMBILAN SUMBERDAY ALAM

1.                 PANDANGAN MANUSIA DALAM RUANG DAN WAKTU
Pada kesempatan ini kita ingin sekali lagi memusatkan perhatian kita pada hubungan antara pembangunan ekonomi dan sumber daya alam. Memang sebagian besar teori pertumbuhan ekonomi pada mulanya memusatkan perhatian pada hubungan antara produksi atau output dengan factor produksi kapital dan tenaga kerja. Tetapi akhir-akhir ini mulai terasa perlunya melihat peranan sumberdaya alam dalam hubungannya dengan pertumbuhan ekonomi.
            Kelompok Roma’) sudah merasa khawatir apakah penduduk yang semakin besar jumlahnya diplanet bumi ini akan dapat dipenuhi kebutuhannya dengan sumberdaya alam yang semakin terbatas adanya. Lebih-lebih lagi dengan diketemukannya hubungan yang terbalik anatara pertumbuhan ekonomi dan sumberdaya alam. Semakin pesat pertumbuhan ekonomi, semakin sedikitlah sumber daya alam yang tersedia dibumi ini. Apakah tersediannya sumber daya alam itu tidak membatasi pertumbuhan ekonomi lebih lanjut?
  Selanjutnya kelompok Roma juga mengajak kita untuk menyadari dan sudi berpandangan jauh kedepan serta tidak berpandangan sempit. Artinya kita tidak hanya mementingkan diri kita sendiri, tetapi lebih luas bahkan memikirkan dunia ini sebagai satu kesatuan. Demikian juga kita perlu memikirkan keadaan kita sendiri, Negara dan bangsa, bahkan dunia ini, tidak hanya untuk hari ini atau hari esok, tetapi lebih dari itu 10 tahun bahkan 100 tahun yang akan datang.
Keadaan yang ada pada saat ini ialah bahwa hampir seluruh manusia di bumi ini mempunyai pandangan yang sempit dan pendek baik dalam lingkup waktu dan ruangan dan hanya sedikit yang berpandangan luas dan panjang. Keadaan ini digambarkan dalam Gambar 3.1.
Gambar 3.1. menunjukkan bahwa sumbu horisontal sebagai waktu dalam tahun dan sumbu vertikal sebagai ruang. Semakin jauh dari tiitk (0), semakin lama waktu yang dipakai sebagai pertimbangan pengambilan keputusan, misalnya tahun ini, tahun depan, 30 tahun yang akan datang. Sedangkan sumbu vertikal menunjukan ruang. Semakin jauh dari sumbu (0), semakin luas ruang lingkup pemikiran guna mengambil keputusan misalnya R1  = lingkungan keluarga sendiri, R2 = lingkungan kelurahan R3 = lingkungan kabupaten, R4 = lingkungan provinsi dan R5 = lingkungan Negara, dan seterusnya.
      RUANG         

   
 

    R5

    R4

    R3
        
    R2

          `   R1


 
                   0        5        10      15      20      25      30      35      40      WAKTU
Gambar 3.1.
Pandangan Manusia terhadap Ruang dan Waktu
                Dalam gambar, para individu (pribadi) diwakili oleh titik-titik dan tampak bahwa banyak individu yang berpikir sempit dari segi ruang yaitu terutama membuat pertimbangan untuk diri sendiri dan lingkungan sendiri dan juga pendek dari segi waktu yaitu terutama untuk hari ini dan besok pagi dan paling lama tahun depan. Sedikit sekali berpikir untuk dunia sebagai lingkungan hidup seseorang dan masa untuk 50 tahun yang akan datang. Sebagai akibat dari sempit dan pendeknya kerangka pemikiran para pribadi dalam masyarakat, maka akan ada kecenderungan untuk menguras sumberdaya alam dan sumberdaya alam tersebut akan cepat menjadi habis. Hal yang perlu ditanyakan ialah mengapa manusia pada umumnya berpikir sempit dan pendek?
             Untuk menjawab pertanyaan ini perlu diadakan penelitian yang seksama. Namun untuk sementara dapat diajukan suatu jawaban (sebagai hipotesis) ialah bahwa semakin miskin seseorang maka akan cenderung semakin pendek dan sempit dalam pertimbangan keputusan yang diambilnya. Dengan kata lain karena kemiskinannya, seseorang cenderung untuk memikirkan pemenuhan kebutuhan yang paling mendesak (segera) dan untuk kebutuhan hidupnya sendiri. Semakin tinggi tingkat pendapatannya akan semakin longgar ruang geraknya untuk mengambil keputusan baik untuk janka waktu yang lebih lama maupun untuk kebutuhan yang lebih banyak orang diluar dirinya pribadi. Disisi lain dapat pula ditarik suatu hipotesis yang masih harus diuji kebenarannya yaitu bahwa justru golongan kaya yang mampu menguras sumberdaya alam karena kerakusannya dengan maksud untu mendapatkan keuntungan usaha yang maksimal.

2.                 HUBUNGAN ANTARA PENDUDUK, INDUSTRI DAN SUMBERDAYA ALAM
           
Marilah sekarang kita lihat kaitan antara penduduk, produksi barang dan jasa, serta kegiatan pengolahan sumberdaya alam dalam proses kombinasi dengan masukan-masukan lain seperti kapital, tenaga kerja, skill dam teknologi.
            Seperti telah diuraikan sumberdaya alam merupakan salah satu masukan yang penting dalam kegiatan produksi apa saja baik disektor industry (pabrik), disektor pertanian, maupun disektor jasa. Semua kegiatan dalam ketiga sector itu memberikan hasil (output) berupa barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dengan kata lain sumberdaya alam harus digali guna memenuhi kebutuhan manusia. Semakin banyak jumlah penduduk, lebih-lebih disertai dengan peningkatan dalam taraf hidup yang tercermin pada peningkatan pendapatan per kapita, akan dituntut semakin banyak barang dan jasa yang hrus disediakan dan pada gilirannya akan digali atau dipakai lebih banyak sumberdaya alam.
            Di sisi lain kegiatan produksi yang semakin meningkat disamping menghasilkan alat pemuas kebutuhan yang lebih banyak berupa barang dan jasa juga menghasilkan adanya pencemaran lingkungan (polusi). Pencemaran lingkungan ini mempunyai dampak negatif terhadap kesehatan manusia sehingga akan berarti menekan kesejahteraan hidup manusia. Pemcemaran karena kegiatan produksi lewat industi perpabrikan maupun pertanian terutama sekali akan terasa pada tanah, udara dan air (TUA). Dengan semakin memburuknya kualitas TUA itu, maka semakin tinggi biaya penanggulangannya dan semakin beratlah pencapaian tujuan pembangunan suata bangsa untuk hidup lebih baik secara materiil dan lebih lama di dunia ini.
             Perlu diketahui pula bahwa antara berbagai sektor kegiatan itu terdapat hubungan timbal balik, dimana sektor industri menggunakan hasil produksi sektor pertanian sebagai masukan dan sebaliknya banyak hasil produksi sektor pertanian menggunakan hasil produksi sektor industri sebagai masukan, demikian pula dalam hubungannya dengan sektor jasa. Jadi ada saling ketergantungan di antara berbagai kegiatan produksi dalam perekonomian (lihat Gambar 3.2).
             Dari Gambar 3.2. itu tampak ada tiga bidang kegiatan atau sektor usaha yaitu sektor industri, pertanian dan jasa yang masing-masing mempunyai hubungan input-output demi kelangsungan produksi di masing-masing sektor usaha tersebut.
             Dalam kegiatannya masing-masing sektor memerlukan berbagai faktor produksi yang berupa kapital, tenaga kerja, skill, teknologi dan barang sumberdaya alam. Barang sumberdaya inilah yang harus disediakan oleh alam dan untuk mengambilnya dari



Text Box: S
U
M
B
E
R
D
A
Y
A

A
L
A
M
Text Box: IndustriText Box: JasaText Box: PolusiText Box: PertanianText Box: OutputText Box: Pen-duduk                Target                                   Output                                 Sector Usaha                     Kombinasi Input

Text Box: Kombinasi Input

Kapital

Tenaga Kerja

Sumberdaya Alam

Teknologi














Gambar 3.2.
Kaitan Antara Sektor Industri, Pertanian dan Jasa
Serta Sumberdaya Alam dan Lingkungan




Alam harus ada perusahaan-perusahaan yang bekerja di bidang tersebut yang juga memerlukan masukan (input) dari perusahaan lain atau sektor kegiatan lain. Dengan pengambilan yang terus-menerus guna menjamin lancarnya kegiatan produksi, maka tersedianya sumberdaya alam di bumi ini akan semakin menipis bila tidak ada penambahan alamiah terhadap persediaan sumberdaya alam tersebut. Menipisnya persediaan sumberdaya alam ini akan berakibat pada menurunnya produksi barang dan jasa; yang berarti dapat menekan kesejahteraan hidup manusia.
            Selanjutnya setiap sektor usaha pasti menghasilkan barang dan jasa demi pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Semakin tinggi jumlah produksi barang dan jasa dalam perekonomian, akan semakin tinggi pula derajat kesehatan penduduk dalam perekonomian tersebut. Di sisi lain, peningkatan kegiatan masing-masing sektor usaha akan menghasilkan pencemaran lingkungan yang mempunyai dampak negatif terhadap kesejahteraan manusia. Masalahnya sekarang adalah bagaimana tetap mempertahankan produksi barang dan jasa yang tinggi, namun menekan pencemaran lingkungan dan mengurangi menipisnya persediaan sumberdaya alam.
            Ada dua hal penting yang dapat dikemukakan dalam kaitannya dengan penggunaan sumberdaya alam yaitu apakah sumber daya alam itu membatasi pertumbuhan ekonomi dan berapakah tingkat penggunaan sumberdaya alam yang optimal. Pertanyaan yang pertama berhubungan dengan berapa cepat sumberdaya alam itu dimanfaatkan/dihabiskan dab bagaimana akibatnya bila terdapat kekurangan sumberdaya alam tersebut terhadap perkembangan sektor industri, pertanian maupun jasa. Sesungguhnya Memang tidak mudah untuk mengatakan apakah pengambilan sumberdaya alam selama ini kita terlalu cepat atau terlalu lamban kesulitan ini dapat dimengerti karena adanya kesulitan dalam memahami berapa banyak jumlah persediaan yang dipunyai oleh suatu masyarakat atau bangsa dan berapa besar kebutuhan akan sumberdaya alam itu harus dipenuhi disamping tidak adanya kepastian periode  waktu bagi pemanfaatan sumberdaya alam tersebut. Oleh karena itu hal yang perlu diingat pemanfaatan sumberdaya alam tersebut sebaik mungkin dan selama mungkin. Jadi masalahnya adalah bagaimana mendistribusikan sumberdaya alam itu antar waktu sedemikian rupa sehingga kelestariannya tetap dijamin dan dicapai pemanfaatan yang maksimal
           Pertanyaan yang kedua lebih bersifat teoritis yaitu bagimana seharusnya sumberdaya alam itu dimanfaatkan guna menjamin kelangsungan pertumbuhan ekonomi (Sustaniable growth).
           Ramalan yang mungkin paling pesimis mengenai masyarakat industri adalah komitmen yang berlanjut terhadap pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang mengakibatkan rusaknya ekologi yang penting bagi adanya kehidupan manusia. Seperti telah disinggung dimuka, masyarakat industri dapat hancur dan kualitas kehidupan akan merosot apabila tejadi kelebihan penduduk, pencemaran lingkungan, dan terkurasnya sumberdaya alam. Hal tersebut terjadi karena melajunya pertumbuhan ekonomi yang cenderung mengutas sumberdaya alam yang tak pulih seperti energi minyak dan pencemaran lingkungan yang tak dapat diobati lagi khususnya terhadap udara dan air. Namun di sisi lain ada pendapat yang menentang pernyataan bahwa masyarakat industri akan merusak lingkungannya sendiri, karena adanya perkembangan teknologi yang dimungkinkan oleh perkembangan dari masyarakat industri itu sendiri dengan cara menciptakan teknik pemberdayaan sumber energi baru dan teknik pencegahan pencemaran terhadap tanah, udara dan air (TUA). Apabila argument ini benar maka pengurasan sumberdaya alam dan pencemaran lingkungan akan sementara saja sifatnya dalam suatu masyarakat industri dan bukan sebagai masalah yang menempel dalam masyarakat tersebut secara structural.
               Bagi para pecinta lingkungan (environmentalist) satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dunia ini dari kehancuran adalah hanya dengan menekan laju pertumbuhan ekonomi. Sedangkan bagi mereka yang mendukung pertumbuhan ekonomi demi peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang (growthist), berpendapat bahwa gerakan menuju pada perekonomian yang mapan (steady state economy) justru akan menghambat investasi dalam bidang perkembangan teknologi yang diperlukan untuk memecahkan masalah lingkungan.
                kelompok environmentalist menekankan bahwa pencemaran lingkungan dan konsumsi sumberdaya alam yang tidak pulih berkembang secara eksponential yaitu bahwa pertumbuhan itu sendiri berkembang dengan laju yang semakin cepat seperti tampak pada Gambar 3.3 kurva eksponential menunjukkan pertumbuhan konsumsi yang mula-mula lamban, tetapi setelah waktu tertentu meningkat dengan cepat.
              Kelompok Roma dengan menggunakan model matematis menunjukkan saling ketergantungan di antara lima faktor utama yang menentukan laju pertumbuhan dan batas pertumbuhan ekonomi di dunia ini. Faktor-faktor tersebut adalah penduduk, produksi pertanian, sumberdaya alam, produksi industri pengolahan dan pencemaran lingkungan. Beberapa kesimpulan dari studi kelompok Roma itu adalah sebagai berikut:
a.      Bila kecenderungan pertumbuhan jumlah penduduk dunia, industrialisasi, pencemaran, produksi pangan, dan pengambilan sumberdaya alam tetap seperti pada saat ini, batas pertumbuhan di bumi ini akan tercapai dalam waktu kira-kira 100 tahun lagi. Akibat yang timbul dari dari tercapainya batas pertumbuhan itu ialah jumlah penduduk akan berkurang secara drastic demikian pula kapasitas sector industi.
b.      Ada kemungkinan untuk mengubah kecenderungan pertumbuhan dan menciptakan  keadaan ekologi dan ekonomi yang stabil dimasa datang. Keseimbangan secara global di dunia ini dapat diusahakan sehingga kebutuhan setiap orang di dunia ini dapat dipuaskan dan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk merealisasikan potensi-potensi yang dimilikinya.

       konsumsi                                                      konsumsi sumberdaya alam





                         0                                                                         waktu
                                                         Gambar 3.3
                                         Kurva Perubahan Eksponential

c.     

        Bila penduduk dunia mengambil keputusan untuk berjuang merealisasikan keadaan pada butir (b), semakin cepat mereka mulai, semakin cepat pula kemungkinan berhasilnya.
               Dari kelima faktor di atas tampaknya penduduk merupakan faktor yang justru lebih serius di sector pertanian dibanding sektor diluar pertanian. Seperti telah dikemukakan bahwa pertumbuhan jumlah penduduk justru mendorong usaha pertumbuhan ekonomi, sebab kalau tidak ada pertumbuhan ekonomi secara niscaya standar hidup manusia pasti semakin merosot. Demikian pula pencemaran lingkungan bukan saja merupakan hasil dari limbah industri, tetapi juga merupakan akibat dari kepadatan jumlah penduduk.
               Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi di Negara-negara yang sedang berkembang merupakan akibat dari penurunan tingkat kematian dan masih tetap tingginya tingkat kelahiran dan ini terjadi terutama diluar sektor industri. Tingkat kelahiran di Negara-negara industri jelas menurun dan bahkan kalau kecenderungan ini berlangsung terus akan dapat terjadi keadaan penduduk yang “stationer” atau bahkan semakin kecil jumlahya, seperti yang dialami oleh Swedia, Denmark, Jerman , Austria, Hongaria, Perancis, Singapore, yang diperkirakan akan dapat mencapai pertumbuhan penduduk nol (Zero Population Growth = ZPG) pada pertengahan abad ke 21
               Menurunnya tingkat kelahiran di beberapa negara, jelas disebabkan karena perbaikan taraf hidup dan pendidikan serta efektifitas program keluarga berencana seperti di Indonesia. Dalam masyarakat industri jumlah keluarga cenderung diperkecil karena kebutuhan, banyak penundaan perkawinan, dan bahkan semakin besar jumlah penduduk yang tidak menikah. Memang untuk sampai kepada masyarakat industri, negara-negara yang bersifat agraris akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Walaupun demikian tampaknya tekanan penduduk harus dirasakan sebagai faktor yang menekan seluruh perekonomian baik sektor pertanian maupun sektor bukan  pertanian. Bahkan tekanan penduduk akan dapat menghambat usaha-usaha penanggulangan pencemaran oleh sektor industri dan pengurangan terhadap pengurasan sumberdaya alam. Pembangunan ekonomi khsusnya untuk negara-negara sedang berkembang sangatlah dibutuhkan terutama untuk menghapus kemiskinan di negara-negara tersebut, yang seringkali kemiskinan itu timbul dari adanya kepadatan jumlah penduduk.  Oleh karena itu usaha-usaha menekan pertumbuhan jumlah penduduk adalah vital dalam rangka mengurangi pencemaran lingkungan maupun pengurasan sumberdaya alam.
3.                 PENGAMBILAN SUMBERDAYA ALAM DALAM MASYARAKAT INDUSTRI
                Banyak sumber daya alam yang diperlukan oleh masyarakat industri yang sudah hamper habis dalam arti bahwa  tingkat penggunaan sekarang terlalu tinggi dalam kaitannya dengan jumlah persediaan sumberdaya alam yang diketahui. Semua pihak menyetujui pernyataan ini, namun ada perbedaan pendapat mengenai implikasi kebijakan dan cara penanggulangan masalah yang ditimbulkannya.
                Bagi mereka yang mendukung pertumbuhan ekonomi, masalah kekurangan sumberdaya alam hanya sementara sifatnya karena masalah tersebut dapat di atasi dengan kemajuan teknologi yang dikaitkan dengan penemuan baru, eksplorasi, pengambilan baru, dan pengolahan sumberdaya alam. Maka dari itu kekurangan sumberdaya alam dalam arti absolut atau jarang terjadi. Apabila barang sumberdaya alam sudah mulai berkurang adanya, maka harganya mulai meningkat dan dan ini mendorong adanya eksplorasi untuk menemukan sumberdaya alam baru atau persediaan baru bagi sumber daya alam yang sudah diketemukan sebelumnya. Hal ini akan mendorong diciptakannya teknologi baru dan diusahakannya barang sumberdaya pengganti yang lebih murah harganya. Dengan kata lain kelompok ini sangat yakin terhadap perkembangan teknologi asal cukup banyak dana penelitian yang disediakan, untuk memecahkan kesulitan dalam terbatasnya persediaan sumberdaya alam. Dibelakang pemikiran ini terdapat anggapan bahwa peningkatan tersedianya sumberdaya alam dan pengambilannya adalah sangat diperlukan guna berlangsungnya pertumbuhan ekonomi, dan pertumbuhan ekonomi sangat diperlukan untuk memperbaiki taraf hidup manusia di bumi ini.
                 Disisi lain para environmentalist menyatakan bahwa permintaan terhadap sumberdaya alam menigkat secara eksponensial, dan cara pemecahan yang telah ditempuh dan berhasil di masa lampau, tidak lagi dapat dipercaya untuk masa yang akan datang. Demikian pula ada “dimishing returns” dalam teknologi, karena sumberdaya alam yang tersedia semakin langka maka energi yang diperlukan untuk menemukan dan mengambilnya menjadi makin besar. Disamping itu banyak cara yang dipakai untuk menanggulangi kekurangan sumberdaya alam tersebut akan menimbulkan pencemaran lingkungan.
                 Apakah masalah pengambilan sumberdaya alam itu bersifat temporer atau permanen, tetapi yang jelas adalah bahwa persoalan itu ada dan sesungguhnya hanya ada tiga kemungkinan cara pemecahannya.
a.      Cara yang pertama adalah meningkatkan tersedianya sumberdaya alam pada laju yang paling tidak sama dengan laju penggunaan sumberdaya alam. Kebijakan yang sekarang ini ditempuh dalam kebanyakan negara industri diarahkan untuk meningkatkan tersedianya sumberdaya alam seperti mengintensifkan penelitian sumber-sumber minyak dan gas baru.
b.      Cara pemecahan yang kedua ialah meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya alam yang sekarang ini sudah kita kuasai dan kita ketahui persediaannya. Kita harus menggunakan “technical fix” yaitu pemecahan masalah yang secara teknis dan ekonomis layak atas dasar standar saat ini dan tidak memerlukan perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan yang berarti. Sebagai missal adalah diciptakannya mobil-mobil model baru yang hemat bahan bakar.
c.       cara pemecahan masalah yang keitiga adalah berupa penekanan permintaan terhadap sumberdaya alam. Sebagai contoh dari cara ini adalah penggunaan kendaraan angkutan umum untuk menggantikan kendaraan-kendaraan pribadi. Cara yang ketiga ini menghendaki adanya perubahan cara hidup atau gaya hidup para pribadi dalam masyarakat.
              Masing-masing dari ketiga cara di atas tidak berarti harus saling meniadakan satu sama lain, melainkan ketiga cara tersebut justru dapat dipakai secara bersama-sama. Beberapa tindakan konservasi sumberdaya alam dapat digunakan bersama-sama dengan tindakan untuk menemukan sumberdaya alam baru guna menunjang pertumbuhan permintaan akan sumberdaya alam. Dalam jangka panjang tampaknya mau tidak mau harus dilaksanakan. Permintaan terhadap sumber daya energi dan sumber daya lain meningkat terus dengan cepat, dan semakin lama kita meunggu kapan akan dilaksanakan kebijakan konservasi maka akan semakin sulit usaha konservasi itu dapat dilaksanakan. Demikian pula semakin banyak teknologi yang dikaitkan dengan usaha peningkatan pertumbuhan ekonomi, semakin sedikit macam teknologi tepat guna yang diarahkan  untuk pertumbuhan ekonomi yang pantas (tidak terlalu cepat). Sekali sumberdaya alam tak pulih (Minyak) itu habis, maka apapun cara pemecahan yang dipakai akan sulit untuk berhasil.

4.                 SUMBERDAYA ALAM DAN PENCEMARAN DALAM MASYARAKAT INDUSTRI
             Memburuknya lingkungan dan terkurasnya seumberdaya alam sangat dipengaruhi oleh perkembangan sektor industri. Sebagai misal pengurasan sumberdaya energi sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi, kemudian dengan semakin cepatnya pertumbuhan ekonomi akan mempercepat pegurasan sumberdaya tersebut. Proses ini akan menghambat pertumbuhan ekonomi lebih lanjut. Jadi karena sumberdaya alam tersebut dibutuhkan untuk pembangunan, suatu kekurangan dalam sumberdaya energi akan memperlambat pertumbuhan ekonomi baik secara langsung ataupun tidak langsung. Secara langsung misalnya, dengan tidak tersediannya sumberdaya energi, dan secara tidak langsung misalnya,dengan adanya kenaikan harga barang sumberdaya tersebut sehingga menghambat penambahan kapital yang diperlukan untuk perbaikan teknik produksi.
             Apakah pencemaran lingkungan dan pengurasan sumberdaya alam selalu terjadi dalam masyarakat industri? Apabila memang demikian maka:
a. Mungkin tidak ada cara untuk menghindari pencemaran dan pengurasa sumberdaya alam
    kalau tingkat perkembangan ekonomi tertentu harus dicapai.
b. Perubahan sosial yang cepat dan struktur masyarakat yang kompleks akan tidak
    memungkinkan untuk menemukan dan melaksanakan pemecahan terhadap masalah
    tersebut.
             Pertanyaan yang pertama memang berkaitan dengan masalah pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh indutrialisasi. Ancaman terhadap ekosistem dunia disebabkan oleh adanya negara industri, terutama negar industri maju seperti Amerika Serikat. Mobil merupakan sumber yang utama dari pencemaran udara diAmerika Serikat karena banyak jumlah mobil, dan ini adalah sebagai akibat dari kemakmuran yang diciptakan di negara tersebut sebagai hasil industrialisasi. Industri pengolahan dan pabrik-pabrik pembangkit listrik yang dibutuhkan oleh masyarakat industri secara langsung bertanggung jawab terhadap pencemaran lingkungan dan air. Industri adalah penyebab yang kedua setelah mobil dalam mencemari lingkungan di Amerika Serikat, sedangkan indsutri merupakan sumber pencemaran lingkungan utama di Rusia maupun negara lain yang memiliki lebih sedikit jumlah kendaraan bermotor. Tetapi hendaklah dimengerti bahwa industrialisasi memang mencemari lingkungan, namun tidak harus berarti bahwa masalah pencemaran lingkungan hanya menempel atau ada dalam kehidupan industri.
             Ada yang mengatakan bahwa memburuknya lingkungan bukan merupakan akibat dari industrialisasi melainkan karena kapitalisme dalam indsutrialisasi tersebut. Pemilikan swasta terhadap alat-alat produksi, perekonomian pasar, dan motif mencari laba, telah menyebabkan perekonomian terikat pada tujuan demi untuk pertumbuhan ekonomi, sehingga perubahan-perubahan kecil akan lenyap bila tidak bekerja efisien. Target pertumbuhan seringkali mengabaikan dampak negatif yang merusak lingkungan asalkan banyak barang baru dapat diciptakan, dan mungkin sekali tidak mempertimbangkan apakah sumberdaya alam itu dapat diperbaharui atau tidak. Argumen di atas menyimpulkan bahwa perekonomian kapitalis memerlukan pertumbuhan agar dapat hidup, tetapi disisis lain pertumbuhan itu memerlukan pengorbanan lingkungan. Di pihak lain ada sistem ekonomi sosialis yang lebih menempatkan keadilan dan demokrasi diatas pertumbuhan ekonomi. Sayangnya untuk menerima pernyataan bahwa hanya masyarakat kapitalis mudah, karena memang sulit untuk menemukan contohnya. Rusia yang merupakan negara industri dan sekaligus sebagai negara bukan kapitalis, mengalami permasalahan yang sama dan juga menekankan adanya pertumbuhan.
            Sebagai suatu kesimpulan adalah bahwa ada hubungan yang jelas antara indsutrialisasi dan memburuknya lingkungan serta berkurangnya sumberdaya alam, walaupun pada derajat yang berbeda-beda. Hubungan antara industrialisasi dan lingkungan serta pengurasan sumberdaya alam berkembang secara eksponensial dan ada bahaya yang nyata dan akan ada saat di mana kegiatan harus jalan terus dan akan membawa kepada kehancuran dan cara kehidupan industri itu sendiri. Pemecahannya apabila dengan terus meningkatkan pertumbuhan dan kemajuan teknik untuk mengatasi masalah tersebut, maka rasanya tidak ada masalah dalam masyarakat indsutrin tetapi bila yang ditempuh adalah tanpa pertumbuhan, maka kita akan membawa masyarakat kita kembali ke zaman tradisional dengan kehidupan sederhana.
5.                 PEMBANGUNAN DAN LINGKUNGAN HIDUP DI INDONESIA
Pada tahun 1985, undang-Undang Lingkungan Hidup untuk Indonesia dipersiapkan. Salah satu alasannya adalah untuk mempertahankan keseimbangan antara kelestaraian lingkungan dengan pembangunan yang sedang dilaksanakan. Maksudnya ilang pembangunan industri di suatu wilayah perlu memperlihatkan lingkungan. Jangan sampai terjadi peningkatan kegiatan ekonomi melalui industrilisasi namun sektor pertanian atau sektor kehutanan menjadi rusak dan lingkungan pengembangan industri jangan hanya membuahkan manfaat yang temporer saja tanpa memperhatikan damapak negatif dalam jangka panjang.
Sebaliknya yang diperlukan adalah manfaat yang berkelanjutan untuk kesejahteraan, sehingga pengelolaan sumber daya alam dalam kaitannya dengan pengelolaan lingkungan tidak hanya mempertimbangkan manfaat kekayaan alam itu dalam sesaat dengan keuntungan yang sebesar-besarnya tetapi yang diperlukan adalah pengelolan yang tepat demi kelestarian pembangunan dalam jangka panjang.
Cara yang sering digunakan adalah pengelolaan lingkungan ini ialah dengan menginternalisasikan eksternalitas negatif yang disebabkan oleh pembangunan ekonomi. Dalam hal ini kita tidak menganut aliran ekonomi klasik maupun neo-klasik, yang menilai setiap harga barang ditentukan oleh pasar. Dalam kedua aliran tersebut, barang-barang sumber daya alam yang “tidak mempunyai harga” seperti air, udara sering tidak diperhitungkan dalam perhitungan ragu-laba. Karena tidak ada perhitungan inilah sering terjadi pencemaran, yang akhirnya menjadi masalah yang luar biasa. Biaya yang akan dikeluarkan untuk menangani masalah seperti itu akan sangat besar.
Oleh karena itu munculnya ekonomi lingkungan merupakan suatu tindakan yang sangat tepat, sehingga ekonomi yang dihasilkan pada gilirannya akan mengerti masalah pengembangan sektor industri dengan tetap memperhitungkan kepentingan lingkungan.
Suatu contoh untuk keserasian guna pemeliharaan lingkungan dan pembangunan apabila kita mengadakan intervensi terhadap alam, misalnya pembuatan waduk, terlebih dahulu kita perhatikan dampak positif dan negatifnya. Untuk itulah dikembangkan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). AMDAL merupakan suatu instrumen yang memungkinkan untuk melakukan pelestarian yang serasi dan seimbang tersebut.
Sebagai contoh, dalam pembuatan kawasan industri terlebih dahulu harus dibuat AMDAL nya. Kalau lingkungan industri tersebut memiliki dampak positif yang lebih besar disbanding dengan dampak negatifnya terhadap lingkungan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat maka proyek tersebut dapat diteruskan. Tetapi bila lebih besar dampak negatifnya, maka lokasi kawasan industri tersebut harus dipindahkan.
Selain itu kita kenal pula SEMDAL (Studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan). Ini adalah instrument yang dapat dipergunakan untuk mengukur dampak yang telah terjadi dan tindakan yang harus dilakukan untuk menanggulangi dampak tersebut. Jadi ini diterapkan pada kegiatan yang sudah berjalan.
Dua instrument tersebut merupakan kelanjutan dari UULH No. 4 Tahun 1982 yang dapat digunakan untuk mengoptimalkan pemanfaaatan sumberdaya alam secara tangguh. AMDAL merupakan keputusan Menteri KLH atas dasar PP No. 29/86 dan telah diganti dengan PP No. 51/1993 dan keluarnya atas dasar UULH No. 4 Tahun 1982 pasal 16 yang mengharuskan adanya Peraturan Pemerintah (PP) tentang hal ini. Dalam Peraturan Pemerintah (PP) ini atur adanya pedoman-pedoman, maka keluarlah keputusan-keputusan Menteri KLH No. 50/87 mengenai AMDAL dan No. 51 mengenai SEMDAL.
Sering terjadi banyak pihak yang kurang memahami tentang lingkungan. Misalnya para kontraktor mengadakan penggalian pasir di sekitar jembatan, padahal jelas penggalian di sekitar jembatan itu akan mengakibatkan erosi di sekitar pondasi jembatan. Ini jelas sangat membahayakan. Namun hal ini sering juga dilakukan oleh instansi yang memberi izin, yang tidak mengetahui bahwa daerah yang akan digali adalah daerah terlarang, sehingga apabila penggalian telah dilaksanakan akan terjadi kelongsoran dan erosi.
Untuk itu dianjurkan agar para pemberi izin bekerja sama dengan Departemen Geologi yang mengetahui daerah mana yang boleh ditambang, sehingga memberi manfaat.
Terdapat pemikiran yang keliru dalam masyarakat bahwa bahwa pekarangan yang disemen akan menampakkan modernisasi, padahal ini justru menampakkan ketidakmengertiannya terhadap lingkungan. Karena pada akhirnya tanah tidak mampu menyerap air, sehingga cadangan air tanah akan berkurang, karena air akan langsung mengalir ke sungai. Di pedesaan kini diadakan program pagarisasi desa dengan tembok. Padahal yang baik adalah pagarisasi dengan tanaman, karena dengan cara ini akan mempertahankan sirkulasi O2.
Kalau dibandingkan dengan negara yang sedang berkembang lainnya, kita belum terlambat dalam menetapkan UULH. Perencanaan kita bukan sekedar untuk waktu sekarang, tetapi untuk jangka panjang atau masa yang akan datang dengan memperhatikan lingkungan hidup.
Kelestarian sumber daya alam akan dapa dipertahankan, karena kita melihat sebagian besar masyarakat masih sadar akan lingkungan alam sekitarnya. Dalam peringatan-peringatan hari besar tentu sering kita menjumpai penanaman pohon, baik di kantor, sekolah maupun instansi. Melalui lembaga-lembaga swadaya masyarakat kini mulai dikembangkan pentingnya lingkugan hidup.
Pembicaraan yang lebih rinci dan luas mengenai penelolaan lingkungan hidup dan AMDAL disajikan pada Bab 16.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENGARUH BERBAGAI VARIABEL EKONOMI TERHADAP KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM (Bab 7)

BAB 7 PENGARUH BERBAGAI VARIABEL EKONOMI TERHADAP KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM Seperti sudah sebagian besar disinggung bahwa banyak va...