Kamis, 28 November 2019

KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM (Bab 6)


BAB 6
KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM
Koservasi mempunyai konotasi yang bermacam-macam yaitu: bagi para teknisi dapat diartikan sebagai usaha mengurangi pengguaan sumberdaya alam secara fisik misalnya mengurangi erosi tanah, mengurangi penebangan hutan, menunda penggalian minyak bumi dan sebagainya. Sedangkan sebagian orang merasakan sebagai persoalan moral yang menuntutnya untuk melindungi suatu jenis sumberdaya tertentu misalnya tidak mengambil air tanah di daerah tertentu. Dalam bab ini kita akan membicarakan penggunaan sumberdaya yang optimum dalam jangka panjang. Para penggarap lahan pertanian sering dihadapkan pada persoalan apakah ia harus memaksimumkan penghasilannya dalam jangka pendek, diikuti dengan pengurasan kesuburan tanah yang diusahakannya, atau ia mempertahankan kesubura tanahnya tetapi dengan pendapatan yang relative rendah demi kelestarian pendapatannya dalam jangka panjang.
Konservasi seringkali diartikan sebagai tindakan perlindungan, pengawetan, pemeliharaan dan pengumpulan barang-barang yang ada. Ide untuk pengawetan sumberdaya lahan bagi pemakaian di masa yang akan datang, merupakan ide yang paling banyak mendapat perhatian. Dalam bagian ini kita akan melihat pada pentingnya penggunaan sumberdaya alam yang efisien dan teratur, dengan mengurangi pemborosan baik secara ekonomi maupun social, dan memaksimumkan pendapatan bersih sepanjang waktu. Dengan demikian dapat dikatakan pula bahwa konservasi merupakan pemakaian sumberdaya dengan bijaksana dan pertimbangan unsur waktu.
1.     Tingkat Bunga dan Waktu
Keputusan konservasi merupakan kegiatan mempertimbangkan penggunaan sumberdaya alam antara penggunaan saat ini dan penggunaan pada masa yang akan datang. Dalam proses pembuatan  keputusan, pengambil keputusan harus mempertimbangkan manfaat yang diharapkan dari sumberdaya yang dimilikinya, kemudian dibandingkan dengan biaya-biaya yang akan dikeluarkan selama jangka waktu perencanaan tertentu. Setelah semuan, pengambil keputusan harus mempertimbangkan manfaat yang diharapkan dari sumberdaya yang dimilikinya, kemudian dibandingkan dengan biaya-biaya yang akan dikeluarkan selama jangka waktu perencanaan tertentu. Setelah semuanya dinyatakan dalam nilai sekarang (present value), maka apabila konservasi mendatangkan manfaat dalam nilai sekarang (present value of benefits) lebih besar daripada nilai sekarang dari biaya-biaya yang dikeluarkan, maka konservasi tersebut layak dijalankan. Perhitungan dengan nilai sekarang itu dimaksudkan untuk memperoleh suatu ukuran yang sama antara manfaat dan biaya, di samping pada umumnya orang menghargai uang lebih tinggi pada saat sekarang daripada pada masa yang akan datang. Untuk mendapatkan nilai sekarang itu dipakai tingkat diskonto yang tergantung pada besarnya tingkat bunga.
Penggunaan tingkat bunga mempunyai pengaruh penting dalam pengambilan keputusan untuk konservasi. Pada umumnya pengambil keputusan menggunakan nilai sekarang untuk manfaat yang akan diterimanya, dan menggunakan perhitungan bunga majemuk untuk pengeluaran-pengeluaran yang dilaksanakannya. Menghitung nilai sekarang (mendiskonto) artinya mengubah nilai penerimaan yang akan datang ke nilai pada saat ini, sedangkan menghitung bunga majemuk (compounding) artinya mengubah nilai pengeluaran sekarang ke nilai di masa yang akan datang. Yang menjadi persoalan sekarang adalah tingkat bunga mana yang akan kita pakai untuk membuat perhitungan nilai sekarang itu, sebab kenyataannya tingkat bunga itu banyak macamnya dan tidak seragam.
Tingkat bunga yang dipakai oleh pengambil keputusan untuk konservasi sumberdaya alam ditentukan oleh dua factor yaitu:
a)      Derajat preferensi waktu si pengambil keputusan,dan
b)      Penyesuaian-penyesuaian yang dibuat untuk masalah-masalah ketidakpastian.
Di antara keduanya itu biasanya derajat preferensi waktu dianggap lebih penting. Selanjutnya biaya alternative, kebutuhan akan pendapatan, dan rasa optimis atau pesimis akan bersama-sama mempengaruhi pengambilan keputusan untuk konservasi sumberdaya alam.
2.     Penggunaan Sumberdaya Yang Bijaksana Sepanjang Waktu
       Konservasi dimaksudkan sebagai penggunaan yang bijaksana sepanjang waktu. Hal ini berbeda-beda bagi masing-masing tipe sumberdaya. Untuk sumberdaya yang tak pulih (exhaustible resources), konservasi dimaksudkan agar dapat mengembangkan penggunaan sumberdaya itu untuk memenuhi kebutuhan dalam jangka waktu yang lebih lama, misalnya untuk mengurangi tingkat konsumsi, atau menggunakan teknologi baru yang menghemat penggunaan sumberdaya alam seperti beralihnya penggunaan dari minyak ke energy surya. Bagi sumberdaya alam yang dapat diperbarui (renewable resources), dimaksudkan untuk mengurangi pemborosan baik yang bersifat ekonomi maupun social, dan sekaligus memaksimumkan penggunaan secara ekonomis. Untuk sumberdaya biologis, konservasi dimaksudkan sebagai penggunaan yang menghasilkan penerimaan bersih yang maksimum, dan sekaligus dapat memperbaiki kapasitas produksinya.
      Apabila kita berusaha menentukan tingkat optimum penggunaan sumberdaya alam, maka masalah-masalah penting akan timbul untuk masing-masing jenis sumberdaya itu. Perbedaan pendapat sering terjadi karena terbatasnya waktu perencanaan seorang pelaksana dalam menentukan pilihan tentang tingkat bunga, biaya penerimaan yang diharapkan. Perencana harus melakukan pilihan antara pengambilan sumberdaya pada waktu sekarang atau sumberdaya disimpan dahulu untuk penggunaan di masa yang akan datang.
      Faktor-faktor seperti tingginya penerimaan social dan ekonomi yang diharapkan, derajat perferensi waktu (time preference rate), kemauan menanggung resiko, tingginya biaya pengusahaan sumberdaya alam, ketidakpastian penawaran, permintaan dan harga di masa yang akan datang, sering mendorong adanya pengembangan dan perbaikan sumberdaya alam sedini mungkin. Faktor-faktor lain seperti tidak sempurnanya pasar, lembaga pemilikan yang tidak jelas, terbatasnya keuangan, tingginya biaya pengolahan, kurangnya permintaan akan produk tersebut, serta harapan akan tingginya harga di masa yang akan datang, dapat menyebabkan para pemilik sumberdaya alam menangguhkan usaha pembangunan yang dimungkinkan.
       Sumberdaya alam yang tak dapat diperbaharui (exhaustible) biasanya dapat dihemat dengan mudah, sedangkan sumberdaya alam yang dapat diperbaharui (renewable resources) biasanya mudah diboroskan dan hilang dengan mudah. Karena seringkali pemilik sumberdaya yang dapat diperbaharui tu mengambil kebijaksanaan untuk menggunakannya saja. Sebagian orang bertindak sebagai speculator dengan harapan mendapatkan penerimaan yang lebih tinggi dengan menunda penggunaan di kemudian hari. Sebaliknya sebagian orang lainnya justru ingin segera menggunakannya sekarang karena takut kalua dikemudian hari nilai sumberdaya alam tersebut justru akan menurun.
       Penggunaan sumberdaya alam yang bijaksana dapat diartikan pula sebagai penggunaan yang menghasilkan penerimaan dan kepuasan ekonomi yang maksimal. Hal ini dijelaskan sehubungan dengan masing-masing jenis sumberdaya alam.
        Sumberdaya alam yang dapat diperbaharui atau yang pulih dapat digunakan secara bijaksana yaitu untuk menghsilkan penerimaan dan kepuasan ekonomi yang makimum dengan mengusahakannya untuk bermacam-macam tujuan. Sebagai contoh air sungai dapat digunakan untuk mengairi sawah, dapat juga untuk kegiatan pelayaran komersial, untuk pembangunan PLTA, dan untuk rekreasi.
         Setiap pengelola sumberdaya alam yang tak dapat diperbaharui (exhaustible resources) pasti mengetahui bahwa sumberdaya alam yang ada di bawah kekuasaannya tidak akan selamanya berada dalam jumlah yang cukup banyak, sehingga pengambilan sumberdaya alam ini tidak akan memberikan penawaran yang cukup. Oleh karena itu harus dipikirkan agar dengan sumberdaya alam yang terbatas itu dapat diciptakan kegunaan yang tinggi. Perencanaan untuk pengambilan yang lebih awal memang lebih mudah dan biaya pengambilannya tidak terlalu tinggi. Yang menjadi masalah ialah bagaimana memaksimumkan nilai sekarang (present value) sesuai dengan skala dan waktu yang optimum. Yang diharapkan oleh pengelola dalam menentukan skala waktu yang optimum ialah bahwa skala pengambilan sumberdaya tersebut akan dapat mendatangkan keuntungan yang maksimum dan dalam waktu yang selama mungkin.
         Konservasi dan penggunaan sumberdaya biologis secara bijaksana ditujukan untuk pelaksanaan pengaturan yang memaksimumkan penerimaan bersih pengelola, yaitu bahwa dalam waktu yangbersamaan dapat memelihara dan memperbaiki kapasitas sumberdaya tersebut untuk masa mendatang. Tanaman pangan tumbuh dan berkembang selama beberapa bulan, sedangkan peternakan, tanaman keras dan hutan memerlukan waktu beberapa tahun. Masalah ekonomi yang perlu diperhatikan di sini adalah waktu yang optimum bagi pelaksanaan usahanya. Oleh karenanya perlu diperhatikan tingkat diskonto yang akan dipakai untuk menghitung nilai sekarang dari investasi dalam bidang sumberdaya alam. Tingkat diskonto yang rendah akan menghasilkan nilai sekarang yang tinggi.
        Konservasi sumberdaya tanah merupakan suatu sistem penggunaan dan pengolahan tanah yang didasarkan atas pembawaan atau keadaan tanah itu sendiri, yang meliputi penerapan cara-cara atau praktik-praktik terbaik yang diketahui yang ditujukan untuk memperoleh produksi tertinggi tanpa merusak tanah yang bersangkutan. Oleh karena itu konservasi tanah lebih diartikan sebagai penggunaan tanah yang tepat, melindungi tanah dari erosi, memperbaiki tanah yang buruk mutunya, melindungi kelembaban untuk kebutuhan tanaman, kombinasi pertanian kering dan pengairan sesuai dengan kebutuhan, yang semuanya dimaksudkan untuk mendapatkan nilai maksimum. Dengan definisi yang luas ini, maka konservasi tanah hendaknya merupakan suatu alat untuk penataan penggunaan tanah yang baik. Pengelola selamanya dapat memilih di antara berbagai alternative praktik pengaturan.
3.     Beberapa Masalah Konservasi
Ada tiga pertanyaan yang perlu dipertimbangkan dalam mengadakan konservasi sumberdaya alam yaitu:
a)      Apakah konservasi itu akan menguntungkan.
b)      Apakah masyarakat menghendaki adanya konservasi itu.
c)      Bagaimana menanggulanginya kalua ada hambatan untuk konservasi.

a)      Apakah konservasi itu akan menguntungkan
      Pertanyaan ini penting bagi pengusaha. Sebagai warga negara yang baik ia harus menyetujui prinsip-prinsip konservasi dan menyongkong tujuan konservasi pada umumnya. Sebagai pengusaha ia akan selalu memperhitungkan untung dan ruginya. Ia akan bersedia menanam modal hanya bila yakin bahwa ia akan mendapatkan keuntungan dari hasil investasinya itu. Pengalaman menunjukkan bahwa investasi itu akan benar-benar menguntungkan bila unsur waktu benar-benar diperhitungkan. Namun sering terjadi pula konservasi sumberdaya alam tidak menguntungkan si pengelola, dan tidaknya konservasi sumberdaya alam tergantung pada beberapa factor berikut:
1). Jangka waktu yang direncanakan sebagai pengelola.
2). Aspek-aspek investasi dari konservasi
3). Kemampuan pelaksana dalam memilih alternative cara konservasi
4). Adanya dampak konservasi sumberdaya tertentu terhadap konservasi sumberdaya lain.
Adapun uraiannya adalah sebagai berikut:
1). Jangka waktu yang direncanakan oleh seorang pengelola
            Bila seorang pengelola memutuskan untuk mengadakan konservasi, maka keputusannya itu tidak mengikat sepanjang waktu. Ia dapat menyesuaikan rencananya dengan adanya perubahan-perubahan keadaan. Contohnya, seorang yang menentukan untuk memelihara sumberdaya hutan selama 25 tahun, kemudian ia mengubah rencananya menjadi 15 tahun saja karena dianggapnya periode ini lebih menguntungkan berhubung ia mempunyai rencana untuk menjual setelah 15 tahun. Oleh  karena itu ia cenderung untuk segera menguras sumberdaya alam yang ada didalamnya. Sebaliknya bila ia ingin menggunakannya dalam jangka panjang, maka ia akan lebih berhati-hati dalam mengelola sumberdaya itu. Semakin pendek peroide yang direncanakan oleh pengelola, akan semakin cepat pengurasan sumberdaya alam itu.
2). Aspek-aspek investasi dari konservasi
            Seorang pengusaha tidak akan tertarik untuk menginvestasikan modalnya guna konservasi sumberdaya alam bila penggunaannya di waktu yang akan datang belum pasti. Ia pasti mengharapkan agar invsetasinya terbayar dalam jangka waktu yang direncanakannya. Misalnya sekarang ia menunda pengeboran minyaknya, hal ini tentunya dikarenakan ia mengharapkan adanya harga dan penerimaan yang menguntungkan dari usaha konservasi itu di masa datang. Di samping harga, penerimaan yang lebih tinggi juga dimungkinkan oleh karena kualitas yang lebih tinggi sebagai akibat adanya penundaan pengeboran itu. Kalau menurut pertimbangannya konservasi tidak menguntungkan, maka ia akan mengadakan investasi tidak menguntungkan, maka ia akan mengadakan investasi jangka pendek sebagai alternatif.
3). Kemampuan pelaksana dalam memilih alternatif cara konservasi
            Dengan berbagai alternative cara konservasi, pengelola akan dapat menentukan rencana-rencana yang dikuasainya dan memberikan prospek yang lebih baik. Pemilihan cara ini tentu saja akan mempengaruhi tingkat keuntungan yang diharapkan dari investasi dalam sumberdaya itu.
4). Dampak konservasi sumberdaya tertentu terhadap sumberdaya lain.
            Pengelola kadang-kadang menemukan adanya hubungan subtitusi antar sumberdaya alam dalam suatu kegiatan produksi. Program konservasi yang dipilih tentu saja akan memberikan keuntungan yang tertinggi. Namun ia harus mempertimbangkan juga bagaimana pengaruhnya terhadap sumberdaya lain, sehingga dapat dipertimbangkan menguntungkan atau tidaknya konservasi sumberdaya tersebut.
b)      Hasrat masyarakat untuk konservasi
      Terdapat perbedaan antara hasrat masyarakat dan hasrat perorangan dalam konservasi. Pada umunya pengelola pribadi menginginkan derajat preferensi waktu (time preference rate) yang tinggi dan pendek dalam jangka waktunya. Sebaliknya masyarakat menghendaki adanya derajat preferensi waktu yang panjang jangka waktunya dan tingkat diskonto yang lebih rendah. Hal ini karena masyarakat atau public menginnginkan kesejahteraan bagi generasi yang akan datang.
c)      Penanggulangan hambatan konverensi
     Dalam pelaksanaan konservasi sering ditemui hambatan-hambatan yang dapat kita bedakan menjadi hambatan-hambatan fisik, hambatan-hambatan ekonomi, hambatan-hambatan kelembagaan dan hambatan-hambatan teknologi.
1). Hambatan fisik
            Biasanya sumberdaya alam didapatkan dalam keadaan yang sudah tertentu tempatnya dan terjadinya, sehingga untuk menggunakan manusia harus menyesuaikan diri. Misalnya di daerah lereng bukit, kalau kita hendak memanfaatkan lahan disitu, maka kita harus membuat teras terlebih dahulu dan mengaktifkan penghijauan.
2). Hambatan ekonomi
              Hambatan ekonomi biasanya disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan permodalan, dan hal ini dapat diatasi dengan memberikan pendidikan dan bantuan kredit permodalan. Di samping itu ada kesulitan karena tidak adanya kestabilan perekonomian, berhubung biaya dan pasar itu sulit untuk diramalkan. Oleh karena itu seringkali pelaksana menggunakan perencanaan jangka pendek dan tingkat diskonto yang tinggi. Keadaan ini dapat diatasi oleh pemerintah dengan cara mengurangi ketidakpastian, dan lebih menstabilkan perekonomian.
3). Hambatan kelembagaan
               Banyak orang tidak melakukan konservasi karena kebiasaan atau karena adat, juga karena mereka kurang memperhatikan manfaatnya. Bahkan ada adat yang cenderung menguras sumberdaya alam yang ada. Hal ini dapat diatasi dengan pendidikan.
4). Hambatan teknologi
              Penggunaan sumberdaya alam akan tergantung antara lain pada bentuk penyesuaian diri manusia dan teknologi yang ada. Hubungan antara sumberdaya ala, dan macam serta tingkat teknologi sangat erat. Misalnya energy surya dulu belum banyak digunakan secara jauh lebih luas. Hambatan-hambatan seperti ini dapat diatasi dengan perbaikan tingkat teknologi misalnya dengan meniru atau mempelajari teknologi yang ada di negara yang sudah maju atau mengadakan riset sendiri.

4.     Alokasi Sumberdaya Alam Antar Waktu
        Sesungguhnya konservasi berhubungan dengan alokasi sumberdaya alam antar waktu. Tidak ada alasan untuk menganggap bahwa alokasi sumberdaya alam yang efisien antar waktu akan menjamin adanya keadilan antar generasi dalam hal alokasi sumberdaya alam. Ada beberapa permasalahan dalam hal pengambilan keputusan untuk mengalokasikan sumberdaya alam antar waktu karena sangat lamanya periode waktu perencanaan, adanya resiko dan ketidakpastian, serta tidak dapat dikembalikannya kepada bentuk asal suatu jenis sumberdaya.
a)      Periode waktu perencanaan yang sangat panjang
      Dalam membicarakan alokasi sumberdaya alam yang menyangkut beberapa periode waktu yang berurutan, maka suatu tindakan yang diambil dalam suatu periode waktu tertentu akan mempengaruhi kesempatan-kesempatan pada periode lainnya. Apabila deposit sumberdaya mineral itu habis seluruhnya, sumberdaya tersebut tidak dapat diciptakan kembali secara cepat. Oleh karena itu tingkah laku masyarakat dalam jangka waktu  yang sangat panjang dalam kaitannya dengan sumberdaya alam jenis mineral tidak mudah dianalisis dengan teori ekonomi.
b)      Resiko dan ketidakpastian
      Seperti telah diketahui resiko dapat diperkirakan sebelumnya, tetapi ketidakpastian (uncertainty) tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Masa yang akan datang sangatlah tidak  memperkecil dampak negative dari teknologi tersebut. Dalam membuat perencanaan jangka panjang, beberapa jenis ketidakpastian mempunyai pengaruh yang berarti, diantaranya ialah ketidakpastian teknologi dan ketidakpastian permintaan.
     Ketidakpastian teknologi merupakan kekurangan dalam pengetahuan mengenai dampak negative dari teknologi baru  yang akan berkembang pada masa yang akan datang. Sebagai misal adalah teknologi baru yang memungkinkan tersedianya dengan mudah sumberdaya alam yang siap mengganti sumberdaya yang tidak pulih apabila persediaanya habis. Optimisme yang berlebihan tentang perkembangan teknologi baru akan meningkatkan  pengambilan sumberdaya tak pulih pada laju yang sangat tinggi yang pada gilirannya akan mengakibatkan adanya biaya yang mahal bagi generasi mendatang. Sebaliknya bila kita terlalu pesimis mengenai perkembangan teknologi di masa datang,maka tingkat pengambilan sumberdaya alam akan berada pada laju yang sangat rendah dan tidak efisien. Ketidakpastian teknologi berkaitan dengan teknologi bagi penggunaan sumberdaya alam. Perkembangan teknologi dapat berupa penemuan baru sumberdaya alam baru yang semula tidak dianggap sebagai sumberdaya alam dan masih rendah nilainya. Sebagai misal penemuan obat-obatan baru yang berasal dari jenis kehidupan biologis. Ini merupakan alasan bagi pelestarian jenis-jenis kehidupan yang mulai langka.
       Sumberdaya alam didefinisikan sebagai sesuatu yang bernilai karena memang berguna dan langka. Selera dan preferensi perorangan pada generasi yang akan datang dapat berbeda denga selera dan preferensi perorangan pada generasi sekarang. Di samping itu juga tidak mudah untuk memperkirakan jumlah penduduk dan pendapatan per kapita dari generasi mendatang. Oleh karena itu, akan nada ketidakpastian mengenai bagaimana perubahan pola permintaan di masa depan dalam kaitannya dengan kelangkaan sumberdaya alam. Kelangkaan dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran, dan teknologi mempengaruhi pula permintaan dan penawaran. Teknologi mampu memperkenalkan barang-barang baru dan alat pemuas kebutuhan baru, tetapi permintaan efektif terhadap barang-barang baru tersebut tidak akan ada sampai  barang-barang baru tersebut benar-benar tersedia dalam masyarakat.
c)      Tidak dapat dikembalikan ke bentuk semula (irreversibility)
     Banyak masalah yang berkaitan dengan keputusan untuk menggunakan sumberdaya alam yang harus diketahui oleh pengambil keputusan agar tidak ada penyesalan dikemudian hari, sehingga ia dapat mengubah arah dari keputusan itu agar kerugian-kerugian yang mungkin timbul dapat ditekan.
     Banyak kesempatan yang kalua tidak diambil sekarang akan tetap ada di masa yang akan datang, tetapi ada pula kesempatan yang kalua tidak digunakan sekarang akan hilang di masa yang akan datang. Keputusan untuk meniadakan pengambilan barang sumberdaya pada saat ini akan berarti kehilangan di masa depan (irreversibility). Memang ide mengenai “irreversibility” bermanfaat karena hal ini menarik perhatian kita terhadap pilihan-pilihan yang dapat dikembalikan ke bentuk asalnya tetapi memerlukan biaya yang sangat mahal.
      Habisnya sumberdaya biologis bersifat irreversible. Demikian pula adanya limbah nuklir dan juga limbah-limbah kimia yang lain adalah irreversible sifatnya. Generasi yang akan datang mungkin dapat menanggulangi pencemaran akibat dari limbah tersebut, tetapi harus mengeluarkan biaya yang besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENGARUH BERBAGAI VARIABEL EKONOMI TERHADAP KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM (Bab 7)

BAB 7 PENGARUH BERBAGAI VARIABEL EKONOMI TERHADAP KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM Seperti sudah sebagian besar disinggung bahwa banyak va...