BAB
6
KONSERVASI
SUMBERDAYA ALAM
Koservasi
mempunyai konotasi yang bermacam-macam yaitu: bagi para teknisi dapat diartikan
sebagai usaha mengurangi pengguaan sumberdaya alam secara fisik misalnya
mengurangi erosi tanah, mengurangi penebangan hutan, menunda penggalian minyak
bumi dan sebagainya. Sedangkan sebagian orang merasakan sebagai persoalan moral
yang menuntutnya untuk melindungi suatu jenis sumberdaya tertentu misalnya
tidak mengambil air tanah di daerah tertentu. Dalam bab ini kita akan
membicarakan penggunaan sumberdaya yang optimum dalam jangka panjang. Para
penggarap lahan pertanian sering dihadapkan pada persoalan apakah ia harus
memaksimumkan penghasilannya dalam jangka pendek, diikuti dengan pengurasan
kesuburan tanah yang diusahakannya, atau ia mempertahankan kesubura tanahnya
tetapi dengan pendapatan yang relative rendah demi kelestarian pendapatannya
dalam jangka panjang.
Konservasi
seringkali diartikan sebagai tindakan perlindungan, pengawetan, pemeliharaan
dan pengumpulan barang-barang yang ada. Ide untuk pengawetan sumberdaya lahan
bagi pemakaian di masa yang akan datang, merupakan ide yang paling banyak mendapat
perhatian. Dalam bagian ini kita akan melihat pada pentingnya penggunaan
sumberdaya alam yang efisien dan teratur, dengan mengurangi pemborosan baik
secara ekonomi maupun social, dan memaksimumkan pendapatan bersih sepanjang
waktu. Dengan demikian dapat dikatakan pula bahwa konservasi merupakan
pemakaian sumberdaya dengan bijaksana dan pertimbangan unsur waktu.
1.
Tingkat
Bunga dan Waktu
Keputusan
konservasi merupakan kegiatan mempertimbangkan penggunaan sumberdaya alam
antara penggunaan saat ini dan penggunaan pada masa yang akan datang. Dalam
proses pembuatan keputusan, pengambil
keputusan harus mempertimbangkan manfaat yang diharapkan dari sumberdaya yang
dimilikinya, kemudian dibandingkan dengan biaya-biaya yang akan dikeluarkan
selama jangka waktu perencanaan tertentu. Setelah semuan, pengambil keputusan
harus mempertimbangkan manfaat yang diharapkan dari sumberdaya yang
dimilikinya, kemudian dibandingkan dengan biaya-biaya yang akan dikeluarkan
selama jangka waktu perencanaan tertentu. Setelah semuanya dinyatakan dalam
nilai sekarang (present value), maka apabila konservasi mendatangkan manfaat
dalam nilai sekarang (present value of benefits) lebih besar daripada nilai
sekarang dari biaya-biaya yang dikeluarkan, maka konservasi tersebut layak dijalankan.
Perhitungan dengan nilai sekarang itu dimaksudkan untuk memperoleh suatu ukuran
yang sama antara manfaat dan biaya, di samping pada umumnya orang menghargai
uang lebih tinggi pada saat sekarang daripada pada masa yang akan datang. Untuk
mendapatkan nilai sekarang itu dipakai tingkat diskonto yang tergantung pada
besarnya tingkat bunga.
Penggunaan
tingkat bunga mempunyai pengaruh penting dalam pengambilan keputusan untuk
konservasi. Pada umumnya pengambil keputusan menggunakan nilai sekarang untuk
manfaat yang akan diterimanya, dan menggunakan perhitungan bunga majemuk untuk
pengeluaran-pengeluaran yang dilaksanakannya. Menghitung nilai sekarang
(mendiskonto) artinya mengubah nilai penerimaan yang akan datang ke nilai pada
saat ini, sedangkan menghitung bunga majemuk (compounding) artinya mengubah
nilai pengeluaran sekarang ke nilai di masa yang akan datang. Yang menjadi
persoalan sekarang adalah tingkat bunga mana yang akan kita pakai untuk membuat
perhitungan nilai sekarang itu, sebab kenyataannya tingkat bunga itu banyak
macamnya dan tidak seragam.
Tingkat
bunga yang dipakai oleh pengambil keputusan untuk konservasi sumberdaya alam
ditentukan oleh dua factor yaitu:
a) Derajat
preferensi waktu si pengambil keputusan,dan
b) Penyesuaian-penyesuaian
yang dibuat untuk masalah-masalah ketidakpastian.
Di
antara keduanya itu biasanya derajat preferensi waktu dianggap lebih penting. Selanjutnya
biaya alternative, kebutuhan akan pendapatan, dan rasa optimis atau pesimis
akan bersama-sama mempengaruhi pengambilan keputusan untuk konservasi
sumberdaya alam.
2.
Penggunaan
Sumberdaya Yang Bijaksana Sepanjang Waktu
Konservasi
dimaksudkan sebagai penggunaan yang bijaksana sepanjang waktu. Hal ini
berbeda-beda bagi masing-masing tipe sumberdaya. Untuk sumberdaya yang tak
pulih (exhaustible resources), konservasi dimaksudkan agar dapat mengembangkan
penggunaan sumberdaya itu untuk memenuhi kebutuhan dalam jangka waktu yang
lebih lama, misalnya untuk mengurangi tingkat konsumsi, atau menggunakan
teknologi baru yang menghemat penggunaan sumberdaya alam seperti beralihnya
penggunaan dari minyak ke energy surya. Bagi sumberdaya alam yang dapat
diperbarui (renewable resources), dimaksudkan untuk mengurangi pemborosan baik
yang bersifat ekonomi maupun social, dan sekaligus memaksimumkan penggunaan
secara ekonomis. Untuk sumberdaya biologis, konservasi dimaksudkan sebagai
penggunaan yang menghasilkan penerimaan bersih yang maksimum, dan sekaligus
dapat memperbaiki kapasitas produksinya.
Apabila kita berusaha menentukan tingkat
optimum penggunaan sumberdaya alam, maka masalah-masalah penting akan timbul
untuk masing-masing jenis sumberdaya itu. Perbedaan pendapat sering terjadi
karena terbatasnya waktu perencanaan seorang pelaksana dalam menentukan pilihan
tentang tingkat bunga, biaya penerimaan yang diharapkan. Perencana harus
melakukan pilihan antara pengambilan sumberdaya pada waktu sekarang atau
sumberdaya disimpan dahulu untuk penggunaan di masa yang akan datang.
Faktor-faktor seperti tingginya penerimaan
social dan ekonomi yang diharapkan, derajat perferensi waktu (time preference
rate), kemauan menanggung resiko, tingginya biaya pengusahaan sumberdaya alam, ketidakpastian
penawaran, permintaan dan harga di masa yang akan datang, sering mendorong
adanya pengembangan dan perbaikan sumberdaya alam sedini mungkin. Faktor-faktor
lain seperti tidak sempurnanya pasar, lembaga pemilikan yang tidak jelas, terbatasnya
keuangan, tingginya biaya pengolahan, kurangnya permintaan akan produk
tersebut, serta harapan akan tingginya harga di masa yang akan datang, dapat
menyebabkan para pemilik sumberdaya alam menangguhkan usaha pembangunan yang
dimungkinkan.
Sumberdaya alam yang tak dapat
diperbaharui (exhaustible) biasanya dapat dihemat dengan mudah, sedangkan sumberdaya
alam yang dapat diperbaharui (renewable resources) biasanya mudah diboroskan
dan hilang dengan mudah. Karena seringkali pemilik sumberdaya yang dapat
diperbaharui tu mengambil kebijaksanaan untuk menggunakannya saja. Sebagian
orang bertindak sebagai speculator dengan harapan mendapatkan penerimaan yang
lebih tinggi dengan menunda penggunaan di kemudian hari. Sebaliknya sebagian
orang lainnya justru ingin segera menggunakannya sekarang karena takut kalua
dikemudian hari nilai sumberdaya alam tersebut justru akan menurun.
Penggunaan sumberdaya alam yang
bijaksana dapat diartikan pula sebagai penggunaan yang menghasilkan penerimaan
dan kepuasan ekonomi yang maksimal. Hal ini dijelaskan sehubungan dengan
masing-masing jenis sumberdaya alam.
Sumberdaya alam yang dapat diperbaharui
atau yang pulih dapat digunakan secara bijaksana yaitu untuk menghsilkan
penerimaan dan kepuasan ekonomi yang makimum dengan mengusahakannya untuk
bermacam-macam tujuan. Sebagai contoh air sungai dapat digunakan untuk mengairi
sawah, dapat juga untuk kegiatan pelayaran komersial, untuk pembangunan PLTA, dan
untuk rekreasi.
Setiap pengelola sumberdaya alam yang
tak dapat diperbaharui (exhaustible resources) pasti mengetahui bahwa
sumberdaya alam yang ada di bawah kekuasaannya tidak akan selamanya berada
dalam jumlah yang cukup banyak, sehingga pengambilan sumberdaya alam ini tidak
akan memberikan penawaran yang cukup. Oleh karena itu harus dipikirkan agar
dengan sumberdaya alam yang terbatas itu dapat diciptakan kegunaan yang tinggi.
Perencanaan untuk pengambilan yang lebih awal memang lebih mudah dan biaya
pengambilannya tidak terlalu tinggi. Yang menjadi masalah ialah bagaimana
memaksimumkan nilai sekarang (present value) sesuai dengan skala dan waktu yang
optimum. Yang diharapkan oleh pengelola dalam menentukan skala waktu yang
optimum ialah bahwa skala pengambilan sumberdaya tersebut akan dapat
mendatangkan keuntungan yang maksimum dan dalam waktu yang selama mungkin.
Konservasi dan penggunaan sumberdaya
biologis secara bijaksana ditujukan untuk pelaksanaan pengaturan yang
memaksimumkan penerimaan bersih pengelola, yaitu bahwa dalam waktu
yangbersamaan dapat memelihara dan memperbaiki kapasitas sumberdaya tersebut
untuk masa mendatang. Tanaman pangan tumbuh dan berkembang selama beberapa
bulan, sedangkan peternakan, tanaman keras dan hutan memerlukan waktu beberapa tahun.
Masalah ekonomi yang perlu diperhatikan di sini adalah waktu yang optimum bagi
pelaksanaan usahanya. Oleh karenanya perlu diperhatikan tingkat diskonto yang
akan dipakai untuk menghitung nilai sekarang dari investasi dalam bidang
sumberdaya alam. Tingkat diskonto yang rendah akan menghasilkan nilai sekarang yang
tinggi.
Konservasi sumberdaya tanah merupakan
suatu sistem penggunaan dan pengolahan tanah yang didasarkan atas pembawaan
atau keadaan tanah itu sendiri, yang meliputi penerapan cara-cara atau
praktik-praktik terbaik yang diketahui yang ditujukan untuk memperoleh produksi
tertinggi tanpa merusak tanah yang bersangkutan. Oleh karena itu konservasi
tanah lebih diartikan sebagai penggunaan tanah yang tepat, melindungi tanah
dari erosi, memperbaiki tanah yang buruk mutunya, melindungi kelembaban untuk
kebutuhan tanaman, kombinasi pertanian kering dan pengairan sesuai dengan
kebutuhan, yang semuanya dimaksudkan untuk mendapatkan nilai maksimum. Dengan
definisi yang luas ini, maka konservasi tanah hendaknya merupakan suatu alat
untuk penataan penggunaan tanah yang baik. Pengelola selamanya dapat memilih di
antara berbagai alternative praktik pengaturan.
3.
Beberapa
Masalah Konservasi
Ada
tiga pertanyaan yang perlu dipertimbangkan dalam mengadakan konservasi sumberdaya
alam yaitu:
a)
Apakah konservasi itu
akan menguntungkan.
b)
Apakah masyarakat
menghendaki adanya konservasi itu.
c)
Bagaimana
menanggulanginya kalua ada hambatan untuk konservasi.
a) Apakah
konservasi itu akan menguntungkan
Pertanyaan ini penting bagi pengusaha. Sebagai
warga negara yang baik ia harus menyetujui prinsip-prinsip konservasi dan
menyongkong tujuan konservasi pada umumnya. Sebagai pengusaha ia akan selalu
memperhitungkan untung dan ruginya. Ia akan bersedia menanam modal hanya bila
yakin bahwa ia akan mendapatkan keuntungan dari hasil investasinya itu. Pengalaman
menunjukkan bahwa investasi itu akan benar-benar menguntungkan bila unsur waktu
benar-benar diperhitungkan. Namun sering terjadi pula konservasi sumberdaya
alam tidak menguntungkan si pengelola, dan tidaknya konservasi sumberdaya alam
tergantung pada beberapa factor berikut:
1).
Jangka waktu yang direncanakan sebagai pengelola.
2).
Aspek-aspek investasi dari konservasi
3).
Kemampuan pelaksana dalam memilih alternative cara konservasi
4).
Adanya dampak konservasi sumberdaya tertentu terhadap konservasi sumberdaya
lain.
Adapun uraiannya
adalah sebagai berikut:
1). Jangka waktu
yang direncanakan oleh seorang pengelola
Bila seorang pengelola memutuskan
untuk mengadakan konservasi, maka keputusannya itu tidak mengikat sepanjang
waktu. Ia dapat menyesuaikan rencananya dengan adanya perubahan-perubahan keadaan.
Contohnya, seorang yang menentukan untuk memelihara sumberdaya hutan selama 25
tahun, kemudian ia mengubah rencananya menjadi 15 tahun saja karena dianggapnya
periode ini lebih menguntungkan berhubung ia mempunyai rencana untuk menjual
setelah 15 tahun. Oleh karena itu ia
cenderung untuk segera menguras sumberdaya alam yang ada didalamnya. Sebaliknya
bila ia ingin menggunakannya dalam jangka panjang, maka ia akan lebih
berhati-hati dalam mengelola sumberdaya itu. Semakin pendek peroide yang
direncanakan oleh pengelola, akan semakin cepat pengurasan sumberdaya alam itu.
2). Aspek-aspek
investasi dari konservasi
Seorang pengusaha tidak akan
tertarik untuk menginvestasikan modalnya guna konservasi sumberdaya alam bila
penggunaannya di waktu yang akan datang belum pasti. Ia pasti mengharapkan agar
invsetasinya terbayar dalam jangka waktu yang direncanakannya. Misalnya
sekarang ia menunda pengeboran minyaknya, hal ini tentunya dikarenakan ia
mengharapkan adanya harga dan penerimaan yang menguntungkan dari usaha
konservasi itu di masa datang. Di samping harga, penerimaan yang lebih tinggi
juga dimungkinkan oleh karena kualitas yang lebih tinggi sebagai akibat adanya
penundaan pengeboran itu. Kalau menurut pertimbangannya konservasi tidak
menguntungkan, maka ia akan mengadakan investasi tidak menguntungkan, maka ia
akan mengadakan investasi jangka pendek sebagai alternatif.
3). Kemampuan
pelaksana dalam memilih alternatif cara konservasi
Dengan berbagai alternative cara
konservasi, pengelola akan dapat menentukan rencana-rencana yang dikuasainya
dan memberikan prospek yang lebih baik. Pemilihan cara ini tentu saja akan mempengaruhi
tingkat keuntungan yang diharapkan dari investasi dalam sumberdaya itu.
4). Dampak
konservasi sumberdaya tertentu terhadap sumberdaya lain.
Pengelola kadang-kadang menemukan
adanya hubungan subtitusi antar sumberdaya alam dalam suatu kegiatan produksi. Program
konservasi yang dipilih tentu saja akan memberikan keuntungan yang tertinggi. Namun
ia harus mempertimbangkan juga bagaimana pengaruhnya terhadap sumberdaya lain, sehingga
dapat dipertimbangkan menguntungkan atau tidaknya konservasi sumberdaya
tersebut.
b) Hasrat
masyarakat untuk konservasi
Terdapat perbedaan antara hasrat
masyarakat dan hasrat perorangan dalam konservasi. Pada umunya pengelola
pribadi menginginkan derajat preferensi waktu (time preference rate) yang
tinggi dan pendek dalam jangka waktunya. Sebaliknya masyarakat menghendaki
adanya derajat preferensi waktu yang panjang jangka waktunya dan tingkat
diskonto yang lebih rendah. Hal ini karena masyarakat atau public menginnginkan
kesejahteraan bagi generasi yang akan datang.
c) Penanggulangan
hambatan konverensi
Dalam pelaksanaan konservasi sering
ditemui hambatan-hambatan yang dapat kita bedakan menjadi hambatan-hambatan
fisik, hambatan-hambatan ekonomi, hambatan-hambatan kelembagaan dan
hambatan-hambatan teknologi.
1). Hambatan
fisik
Biasanya sumberdaya alam didapatkan
dalam keadaan yang sudah tertentu tempatnya dan terjadinya, sehingga untuk
menggunakan manusia harus menyesuaikan diri. Misalnya di daerah lereng bukit,
kalau kita hendak memanfaatkan lahan disitu, maka kita harus membuat teras
terlebih dahulu dan mengaktifkan penghijauan.
2). Hambatan
ekonomi
Hambatan ekonomi biasanya disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan
permodalan, dan hal ini dapat diatasi dengan memberikan pendidikan dan bantuan
kredit permodalan. Di samping itu ada kesulitan karena tidak adanya kestabilan
perekonomian, berhubung biaya dan pasar itu sulit untuk diramalkan. Oleh karena
itu seringkali pelaksana menggunakan perencanaan jangka pendek dan tingkat
diskonto yang tinggi. Keadaan ini dapat diatasi oleh pemerintah dengan cara
mengurangi ketidakpastian, dan lebih menstabilkan perekonomian.
3). Hambatan
kelembagaan
Banyak orang tidak melakukan konservasi karena kebiasaan atau karena
adat, juga karena mereka kurang memperhatikan manfaatnya. Bahkan ada adat yang
cenderung menguras sumberdaya alam yang ada. Hal ini dapat diatasi dengan
pendidikan.
4). Hambatan
teknologi
Penggunaan sumberdaya alam akan tergantung antara lain pada bentuk
penyesuaian diri manusia dan teknologi yang ada. Hubungan antara sumberdaya
ala, dan macam serta tingkat teknologi sangat erat. Misalnya energy surya dulu
belum banyak digunakan secara jauh lebih luas. Hambatan-hambatan seperti ini
dapat diatasi dengan perbaikan tingkat teknologi misalnya dengan meniru atau
mempelajari teknologi yang ada di negara yang sudah maju atau mengadakan riset
sendiri.
4.
Alokasi
Sumberdaya Alam Antar Waktu
Sesungguhnya konservasi
berhubungan dengan alokasi sumberdaya alam antar waktu. Tidak ada alasan untuk
menganggap bahwa alokasi sumberdaya alam yang efisien antar waktu akan menjamin
adanya keadilan antar generasi dalam hal alokasi sumberdaya alam. Ada beberapa
permasalahan dalam hal pengambilan keputusan untuk mengalokasikan sumberdaya
alam antar waktu karena sangat lamanya periode waktu perencanaan, adanya resiko
dan ketidakpastian, serta tidak dapat dikembalikannya kepada bentuk asal suatu
jenis sumberdaya.
a) Periode waktu perencanaan yang
sangat panjang
Dalam membicarakan alokasi sumberdaya
alam yang menyangkut beberapa periode waktu yang berurutan, maka suatu tindakan
yang diambil dalam suatu periode waktu tertentu akan mempengaruhi
kesempatan-kesempatan pada periode lainnya. Apabila deposit sumberdaya mineral
itu habis seluruhnya, sumberdaya tersebut tidak dapat diciptakan kembali secara
cepat. Oleh karena itu tingkah laku masyarakat dalam jangka waktu yang sangat panjang dalam kaitannya dengan
sumberdaya alam jenis mineral tidak mudah dianalisis dengan teori ekonomi.
b) Resiko dan ketidakpastian
Seperti telah diketahui resiko dapat
diperkirakan sebelumnya, tetapi ketidakpastian (uncertainty) tidak dapat
diperkirakan sebelumnya. Masa yang akan datang sangatlah tidak memperkecil dampak negative dari teknologi
tersebut. Dalam membuat perencanaan jangka panjang, beberapa jenis
ketidakpastian mempunyai pengaruh yang berarti, diantaranya ialah
ketidakpastian teknologi dan ketidakpastian permintaan.
Ketidakpastian teknologi merupakan
kekurangan dalam pengetahuan mengenai dampak negative dari teknologi baru yang akan berkembang pada masa yang akan
datang. Sebagai misal adalah teknologi baru yang memungkinkan tersedianya
dengan mudah sumberdaya alam yang siap mengganti sumberdaya yang tidak pulih
apabila persediaanya habis. Optimisme yang berlebihan tentang perkembangan
teknologi baru akan meningkatkan
pengambilan sumberdaya tak pulih pada laju yang sangat tinggi yang pada
gilirannya akan mengakibatkan adanya biaya yang mahal bagi generasi mendatang. Sebaliknya
bila kita terlalu pesimis mengenai perkembangan teknologi di masa datang,maka
tingkat pengambilan sumberdaya alam akan berada pada laju yang sangat rendah
dan tidak efisien. Ketidakpastian teknologi berkaitan dengan teknologi bagi
penggunaan sumberdaya alam. Perkembangan teknologi dapat berupa penemuan baru
sumberdaya alam baru yang semula tidak dianggap sebagai sumberdaya alam dan
masih rendah nilainya. Sebagai misal penemuan obat-obatan baru yang berasal
dari jenis kehidupan biologis. Ini merupakan alasan bagi pelestarian
jenis-jenis kehidupan yang mulai langka.
Sumberdaya alam didefinisikan sebagai
sesuatu yang bernilai karena memang berguna dan langka. Selera dan preferensi
perorangan pada generasi yang akan datang dapat berbeda denga selera dan
preferensi perorangan pada generasi sekarang. Di samping itu juga tidak mudah
untuk memperkirakan jumlah penduduk dan pendapatan per kapita dari generasi
mendatang. Oleh karena itu, akan nada ketidakpastian mengenai bagaimana
perubahan pola permintaan di masa depan dalam kaitannya dengan kelangkaan
sumberdaya alam. Kelangkaan dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran, dan
teknologi mempengaruhi pula permintaan dan penawaran. Teknologi mampu
memperkenalkan barang-barang baru dan alat pemuas kebutuhan baru, tetapi
permintaan efektif terhadap barang-barang baru tersebut tidak akan ada
sampai barang-barang baru tersebut
benar-benar tersedia dalam masyarakat.
c) Tidak dapat dikembalikan ke
bentuk semula (irreversibility)
Banyak masalah yang berkaitan dengan
keputusan untuk menggunakan sumberdaya alam yang harus diketahui oleh pengambil
keputusan agar tidak ada penyesalan dikemudian hari, sehingga ia dapat mengubah
arah dari keputusan itu agar kerugian-kerugian yang mungkin timbul dapat
ditekan.
Banyak kesempatan yang kalua tidak diambil
sekarang akan tetap ada di masa yang akan datang, tetapi ada pula kesempatan
yang kalua tidak digunakan sekarang akan hilang di masa yang akan datang. Keputusan
untuk meniadakan pengambilan barang sumberdaya pada saat ini akan berarti
kehilangan di masa depan (irreversibility). Memang ide mengenai
“irreversibility” bermanfaat karena hal ini menarik perhatian kita terhadap
pilihan-pilihan yang dapat dikembalikan ke bentuk asalnya tetapi memerlukan
biaya yang sangat mahal.
Habisnya sumberdaya biologis bersifat
irreversible. Demikian pula adanya limbah nuklir dan juga limbah-limbah kimia
yang lain adalah irreversible sifatnya. Generasi yang akan datang mungkin dapat
menanggulangi pencemaran akibat dari limbah tersebut, tetapi harus mengeluarkan
biaya yang besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar