Senin, 25 November 2019

PENGERTIAN KONSERVASI, DEPLISI DAN PERSEDIAAN (Bab 2)

PENGERTIAN KONSERVASI,
DEPLISI DAN PERSEDIAAN


1.    KONSERVASI, DEPLISI DAN PERSEDIAAN

a.    Konservasi
      
      Pengertian konservasi, deplisi dan persediaan perlu ditegaskan karena akan mendasari analisis kita selanjutnya mengenai pengelolaan dan pengembangan sumberdaya alam. Gifford Pinchot mengartikan konservasi sebagai penggunaan sumberdaya alam untuk kebaikan secara optimal, dalam jumlah yang terbanyak dan untuk jangka waktu yang paling lama. Lebih dari itu konservasi diartikan sebagai pengembangan dan proteksi terhadap sumberdaya alam.

    Selanjutnya Profesor Wantrup menyatakan bahwa konservasi sumberdaya alam bukanlah memelihara persediaan secara permanen, tanpa pengurangan dan perusakan. Apabila konservasi diartikan demikian, tingkat penggunaan sama dengan nol; sedangkan konservasi itu sebenarnya tidaklah berarti tidak ada penggunaan sama sekali. Sering pula konservasi diartikan sebagai pengurangan atau peniadaan penggunaan karena lebih mengutamakan bentuk penggunaan lain dalam hal sumberdaya alam itu memiliki penggunaan yang bermacam-macam(multiple use resource).

 Jadi dapat kita simpulkan bahwa konservasi adalah suatu tindakan untuk mencegah  pengurasan sumberdaya alam dengan cara pengambilan yang tidak berlebihan sehingga dalam jangka panjang sumber daya alam tetap tersedia. Konservasi dapat juga diartikan menjaga kelestarian terhadap alam demi kelangsungan hidup manusia. Tindakan-tindakan konservasi dapat berupa beberapa cara antara lain :

1.    Melakukan perencanaan terhadap pengambilan sumberdaya alam, yaitu dengan pengambilan secara terbatas, dan tindakan yang mengarah pada pengurasan perlu dicegah.
2.    Mengusahakan eksploitasi sumberdaya alam secara efisien yakni dengan limbah sesedikit mungkin.
3.    Mengembangkan sumberdaya alternatif atau mencari sumberdaya pengganti sehingga sumberdaya alam yang terbatas jumlahnya dapat disubtitusikan dengan sumberdaya alam jenis lain.
4.    Menggunakan unsur-unsur teknologi yang sesuai dalam mengeksploitasi sumberdaya alam agar dapat menghemat penggunaan sumberdaya tersebut dan tidak merusak lingkungan.
5.    Mengurangi, membatasi dan mengatasi pencemaran lingkungan karena pencemaran akan mengakibatkan cadangan sumberdaya alam semakin cepat habis karena kepunahan, seperti ikan, tanah dan sebagainya.

     Tindakan konservasi ini  amat perlu khususnya bagi sumberdaya alam yang sifatnya tidak dapat pulih dengan sendirinya. Tindakan konservasi bagi sumberdaya alam yang dapat pulih (renewable resources) dapat dilakukan dengan hati-hati, misalnya untuk konservasi hutan dapat dilakukan dengan berbagai system tebang pilih, reboisasi dan penghijauan.

b.    Deplisi

       Deplisi berasal dari kata “depletion” yang berarti suatu cara pengambilan sumberdaya alam secara besar-besaran, yang biasanya demi memenuhi kebutuhan akan bahan mentah. Dalam proses pembangunan yang mengejar tingkat pertumbuhan yang tinggi, pelaksana cenderung mengarah pada pengurasan isi alam sehingga terasa kurang adanya penghargaan terhadap sumberdaya alam yang ada. Bagi sumberdaya alam yang tak dapat diperbaharui (tidak pulih) deplisi berarti pengurasan sumberdaya yang ada; sedangkan untuk sumberdaya alam yang dapat pulih, deplisi walaupun dapat diimbangi dengan usaha konservasi, namun dampaknya terhadap lingkungan hidup masih akan tetap membekas dan membutuhkan waktu lama untuk pemulihannya. Misalnya dengan adanya penebangan hutan secara besar-besaran, hal ini  akan dapat menimbulkan adanya erosi, sedangkan usaha penghijauan atau reboisasi hanya dapat dilakukan dalam waktu yang lama untuk memulihkan kesuburan tanah kembali seperti semula. Sesungguhnya kepunahan sumberdaya alam itu pada dasarnya dapat disebabkan oleh adanya dua kelompok masyarakat yaitu kelompok kapitalis yang bekerja untuk memaksimumkan laba, sehingga mereka ini berusaha untuk menggali sumberdaya alam sebanyak mungkin dalam jangka waktu tertentu; dan kelompok lain, yaitu kelompok miskin yang terpaksa menguras sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhannya yang subsisten karena kemiskinannya tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan yang sesungguhnya adalah tempat mereka sendiri menumpang hidup. Dengan kata lain deplisi dapat diartikan sebagai perubahan distribusi antar waktu dalam tingkat penggunaan ke masa sekarang, sedangkan konservasi menunjukan perubahan distribusi antar waktu dalam tingkat penggunaan kemasa yang akan datang.

c.    Persediaan atau Cadangan

      Selanjutnya reserve atau stock atau cadangan sumberdaya alam merupakan sumberdaya alam yang sudah kita ketahui  dan terbukti (identified and proven) dan bernilai ekonomis. Cadangan ini sudah kita ketahui dan terbukti baik dari segi jumlah atau besarnya deposit yang diukur seperti satuan-satuan ton, dan telah diketahui pula manfaatnya serta langkah adanya (bernilai ekonomis). Jadi meskipun secara teoritis sumber daya alam itu telah ditemukan, tetapi karena belum dapat diidentifikasi secara geologis dan belum diketahui penggunaannya sertah masih berlimpah adanya, maka ini belum tergolang dalam persediaan (reserve). Dengan kata lain sumberdaya alam itu baru diketahui persediaannya setelah menjadi kepentingan manusia. Cadangan sumberdaya akan meningkat bila terjadi penemuan baru (discovery), peningkatan cadangan yang telah terbukti (extension) dan revisi (revision) cadangan sebagai akibat kebutuhan informasi mengenai kondisi pasar dan teknologi baru.

2.    PESIMISME DAN OPTIMISME TERHADAP SUMBERDAYA ALAM
         
       Mengenai sejauh mana sumberdaya alam itu dapat melayani kebutuhan manusia ada dua kelompok pemikir yang masing-masing berpendapat. Satu kelompok merasa optimis mengenai tersedianya sumberdaya alam dan kelompok satu lagi merasa pesimis.

a. Kelompok Pesimis menyatakan bahwa sumberdaya alam itu terbatas adanya, sehingga apa bila terus diambil/diolah, maka persediaannya makin lama akan semakin berkurang dan sampai pada saatnya nanti pasti akan habis. Pemikiran yang pesimis ini sudah diawali oleh tokoh-tokoh ekonomi terkenal seperti Adam Smith dan David Ricardo. Demikian pula Thomas Robert Malthus sudah melihat lebih awal bahwa pertumbuhan penduduk akan selalu mengikuti deret ukur, sedangkan pertumbuhan pemuas kebutuhan manusia, khususnya pangan akan meningkat sesuai dengan deret hitung, sehingga manusia dimuka bumi ini pada suatu saat akan mengalami kekurangan bahan makan dan kebutuhan lainnya.

      Tersedianya sumberdaya alam dimuka bumi ini adalah terbatas baik dalam arti kuantitas maupun dalam arti kualitas. Menurut David Ricardo, manusia selalu menggunakan sumberdaya alam yang paling tinggi kualitasnya terlebih dahulu. Kemudian karena kuantitas sumberdaya yang tinggi kualitasnya ini akan habis, manusia beralih menggunakan sumberdaya alam yang lebih rendah kualitasnya. Kejadian ini akan berlangsung terus sampai pada sumberdaya alam yang sangat marginal kualitasnya. Sebagai akibatnya biaya pengambilan atau pengolahannya akan semakin meningkat, dan pada gilirannya harga barang-barang sumberdaya itu akan semakin mahal. Kasus yang ditonjolkan oleh David Ricardo adalah hal yang berkaitan dengan sewa tanah yang harus dibayar dalam penggunaan sumberdaya tanah. Manusia harus mengolah tanah dari yang paling subur terlebih dahulu, kemudian kalau tanah yang paling subur itu sudah langka adanya, maka manusia beralih ketanah yang tingkat kesuburannya lebih rendah, dan akhirnya tinggal tanah-tanah yang kurang subur yang dalam pengolahannya pasti memerlukan biaya yang sangat mahal, disamping produktivitas tanah yang semakin merosot. Disini mulai tampak bahwa harga barang akan menjadi sangat mahal pula karena biaya produksi persatuan luaran yang sudah sangat mahal itu. Dengan kata lain kelompok pesimis ini khawatir akan adanya kelangkaan sumberdaya alam yang dari hari ke hari semakin berat dirasakan. Peranan perkembangan teknologi dan transportasi telah dilupakan oleh kelompok pesimis ini, bahkan mereka mengira bahwa perkembangan teknologi justru akan semakin menguras adanya sumberdaya alam yang ada dibumi ini.

       Sebuah kelompok pemikir akhir-akhir ini muncul dengan berbagai pemikiran agar kita memperhatikan keadaan dunia yang semakin dilanda oleh kemajuan teknologi ini mengemukakan pertanyaan apa dan bagaimanakehidupan penduduk dunia yang semakin besar jumlahnya ini dapat didukung oleh tersedianya sumberdaya alam yang justru semakin langka adanya. Persediaan sumberdaya alam, khususnya bahn-bahan mental dan mineral, termasuk minyak bumi yang akan habis dalam waktu 50 tahun, bila tingkat konsumsi tetap tumbuh seperti sekarang ini dan tidak ada upaya untuk menguranginya, maka kehancuran kehidupan masyarakat dengan kepunahan sumberdaya alam yang tidak dapat dipulihkan kembali (irreversible) tak lagi dapat dielakkan.

       Jadi kelompok Roma mempertanyakan apakah penduduk yang semakin banyak jumlahnya itu akan dapat didukung oleh tersedianya sumberdaya alam yang ada. Adalah tidak dapat dihindari bahwa berbagai macam pemuas kebutuhan yang semuanya harus dihasilkan dari sumberdaya alam harus disediakan bagi penduduk yang jumlahnya semakin besar. Disamping itu pengambilan sumberdaya alam beserta pengolahannya seringkali dihasilkan adanya pencemaran lingkungan. Pencemaran ini mempunyai dampak negative terhadap kehidupan manusia dan sekaligus mempercepat kepunahan sumberdaya alam itu sendiri, khususnya yang bersifat dapat diperbaharui akan adanya kelangkaan sumberdaya alam yang dari hari ke hari semakin berat dirasakan. Peranan perkembangan teknologi  dan transportasi telah dilupakan oleh kelompok pesimis ini,  Bahkan mereka mengira perkembangan teknologi justru akan semakin menguras adanya sumberdaya alam yang ada di bumi ini.

    Sebuah kelompok pemikir akhir-akhir ini muncul dengan berbagai pemikiran agar kita memperhatikan keadaan dunia yang semakin dilanda oleh kemajuan teknologi ini mengemukakan pertanyaan apa dan bagaimana kehidupan penduduk dunia yang semakin besar jumlahnya ini dapat di dukung oleh tersedianya sumberdaya alam yang justru semakin langka adanya ini. Persediaan sumberdaya alam, khususnya bahan-bahan metal dan mineral, termasuk minyak bumi akan segera habis dalam waktu 50 tahun, bila tingkat konsumsi tetap tumbuh seperti sekarang ini dan tidak ada upaya untuk menguranginya, ,maka kehancuran kehidupan masyarakat dengan kepunahan sumberdaya alam yang tidak dapat dipulihkan kembali (irreversible) tak lagi dapat dijelaskan.
   Jadi kelompok Roma mempertanyakan apakah penduduk yang semakin banyak jumlahnya itu akan dapat didukung oleh tersedianya sumberdaya alam yang ada. Adalah tidak dapat dihindari bahwa berbagai macam pemuas kebutuhan yang semuanya harus disediakan bagi penduduk yang jumlahnya semakin besar. Disamping itu pengambilan sumberdaya alam beserta pengolahannya sering kali menghasilkan adanya pencemaran lingkungan. Pencemaran ini mempunyai dampak negatif terhadap kehidupan manusia dan sekaligus mempercepat kepunahan sumberdaya alam itu sendiri, khususnya yang bersifat dapat diperbaharui.
   Selanjutnya kelompok Roma menguraikan bahwa pada umumnya manusia itu hanya berpikir untuk kepentingannya sendiri dan berpikir untuk jangka pendek saja. Cara berpikir yang demikian ini seringkali disebabkan oleh adanya tingkat hidup yang masih rendah, sehinggah karena kekurangannya, hanya memikirkan apa yang dibutuhkan oleh dirinya, keluarganya, baru lingkungannya yang lebih luas, dan akhirnya baru keadaan dunia. Dari segi waktu,manusia akan melihat keadaan yang paling dekat yang akan terjadi. Misalnya nanti, besok pagi, minggu depan, bulan depan, tahun depan sepuluh tahun yang akan datang dan mungkin 50 tahun yang akan datang semakin tinggi tingkat hidupnya akan semakin luas dan panjanglah jangkauan pemikirannya, karena kebutuhan-kebutuhan pribadi dan yang paling mendesak sudah dapat teratasi. Oleh karena itu peningkatan taraf hidup  sangatlah dianjurkan.
   Pendapat kelompok pesimis ini dapat kita sederhanakan sebagai berikut:
1)    Dunia ini berbatas adanya, sehingga terbatas pulalah sumberdaya alam yang ada, dan ini membatasi pula tersedianya barang-barang produksi kebutuhan manusia.
2)    Hampir semua kegiatan produksi saat ini pertumbuhannya bersifat eksponensial.
3)    Produksi barang dan jasa pasti akan berhenti bila batas persediaan sumberdaya alam itu sudah tercapai.
4)    Batas persediaan itu akan segera tercapai.
5)    Dampak dalam proses menuju batas tersebut  bersifat kehancuran.
6)    Akhirnya kita berusaha untuk mengubah tendensi pertumbuhan yang sifatnya exponensial itu dan membatasi kegiatan manusia sesuai dengan batasan-batasan alamiah.

    Dari uraian di atas diusulkan beberapa pemikiran bahwa dengan semakin meningkatnya kemajuan teknologi akan mendorong pertumbuhan ekonomi semakin pesat lagi, sehingga dengan adanya peringatan dari kelompok Roma itu manusia harus dapat menentukan batas pertumbuhan ekonomi sendiri, yang pada gilirannya tentu akan membatasi tingkat pengambilan sumberdaya alam. Suatu ilternatif lain telah dapat saja perekonomian berkembang terus, tetapi harus diketemukan  teknologi yang akan menghemat penggunaan sumberdaya alam. Dengan demikian kelompok pesimis ini walaupun cemas terhadap perkembangan ekonomi dunia, namun tidak berarti bahwa mereka ini putus asa, bahkan justru menyarankan agar dicari jalan keluarnya. Memang dunia ini terbatas adanya, banyak sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui mendekati titik kehabisan dalam persediannya, dan banyak sumberdaya alam yang dapat pulih telah dipergunakan secara berlebihan (over used)

b. Kelompok Optimis. Di sisi lain terdapat kelompok yang optimis dalam hal sumberdaya alam. Mereka berpendapat bahwa sumberdaya alam itu tersedia melimpah dan tidak akan pernah habis, lebih-lebih untuk sumberdaya yang dapat diperbaharui. Memang kelompok optimis mengakui adanya pengurasan sumberdaya alam dan juga adanya pencemaran yang semakin membahayakan manusia, sehingga perlu diambil suatu tindakan untuk mencegahnya. Kelompok optimis belum  melihat tanda-tanda menipisnya persediaan sumberdaya alam, bahkan sebaliknya persediaan sumberdaya alam dikatakan masih cukup banyak. Sebagai contoh minyak bumi yang pada tahun 1970-an diperkirakan akan habis, tetapi terbukti pada awal dan pertengahan tahun 1980-an dunia justru kebanjiran minyak bumi. Sehingga mampu menekan harga minyak bumi menjadi hanya U$$8 per barel.
      Sebuah hasil pendirian yang dlaksanakan oleh Barnett dan Morse terhadap kebangkaan sumberdaya alam, memberikan kesimpulan bahwa apa yang dikhawatirkan oleh kelompok pesimis  tentang semakin langkahnya sumberdaya alam tidaklah terbukti atas dasar data-data empiris. Hasil perhitungan mereka terhadap biaya satuan (unit cost) bagi pengolahan sumberdaya alam telah menurun dari waktu ke waktu. Hal ini disebabkan oleh semakin banyak barang sumberdaya yang dapat dihasilkan atau dapat diambil dari alam dengan sejumlah kapital dan tenaga tertentu. Di samping itu telah diketemukan pula bahwa harga-harga barang sumberdaya terutama barang-barang ekstraktif (extractive products) juga telah menurun dari waktu ke waktu, kecuali untuk komoditi pertanian dan kehutanan. Dalam hal ini kelompok optimis menyatakan bahwa perkembangan teknologi tidak menguras sumberdaya alam, namun sesungguhnya justru cenderung mengurangi pengurasan sumberdaya alam dengan memberikan penjelasan sebagai berikut:
1)    Perkembangan teknologi dalam bentuk penemuan cara-cara produksi baru dapat berupa penghematan penggunaan barang-barang sumberdaya alam sebagai masukan dalam proses produksi dengan jumlah faktor produksi lain tetap.
2)    Dengan teknologi baru sumberdaya alam itu dapat digunakan berulang kali lewat proses pengolahan kembali limbah produksi  (daur ulang = recycle).
3)    Dengan teknologi baru akan lebih mudah diketemukan cadangan sumberdaya alam baru, sehingga meningkatkan jumlah persediaan sumberdaya alam.
4)    Dengan teknologi baru akan lebih dimungkinkan untuk menemukan sumberdaya  alam pengganti atau sumberdaya alam alternatif, sehingga dimungkinkan adanya konservasi sumberdaya alam.

     Lebih lanjut dikatakan bahwa tanpa adanya teknologi baru, maka sumberdaya alam yang ada tidak lebih dari barang rongsokan saja. Akhirnya kelompok optimis menyarankan agar sumberdaya alam diusahakan dengan cara yang lebih efisien, yaitu dengan tingkat produksi tertentu digunakan sumberdaya alam yang sesedikit mungkin dan juga derajat pencemaran lingkungan yang minimal. Kelompok optimis juga tidak menolak bahwa pengambilan sumberdaya alam yang berlebihan dan sembrono akan merusak potensi sumberdaya alam itu sendiri.
     Dalam banyak hal penggunaan sumberdaya alam seperti minyak bumi, batu bara, kayu hutan air dan sebagainya, bagian manusia berupa aliran barang sumberdaya alam lewat pengambilan atau panenan. Macam sumberdaya alam lain seperti keindahan alam dari danau dan waduk yang memberikan jasa hiburan., rekreasi, kenyamanan hutan keindahan pemandangan, memberikan kepuasan kepada masyarakat lewat persediaan (stock) sumberdaya alam itu.

3. GERAKAN KONSERVASI DI AMERIKA SERIKAT
     Gelfort Pinchor adalah seorang ahli kehutanan Amerika Serikat yang mendapatkan pendidikan di Jerman bertanggung jawab untuk mengembangkan sektor kehutanan secara ilmiah di Amerika Serikat dan disertai untuk mengelola tanah-tanah hutan di Amerika Serikat. Ia dikenal sebagai pendiri dan gerakan konservasi Amerika Serikat. Seperti telah disinggung sebelumnya ia menyatakan bahwa konservasi berarti penggunaan sumberdaya alam secara paling bermanfaat bagi jumlah orang yang sebanyak mungkin dan untuk waktu yang paling lama, dan konservasi itu berarti pembangunan dan sekaligus perlindungan terhadap sumberdaya alam. Pernyataan terakhir itu dapat diterima dan diterapkan dan pengelolaan hutan misalnya yaitu mengembangkan produksi hasil hutan dan sekaligus melindunginya dari kebakaran dan penggunaan yang sewenang-wenang. Tetapi prinsip ini belum tentu dapat digunakan pada sektor lain, misalnya dalam pembangunan waduk Kedung Ombo di Jawa Tengah yang selesai dibangun dan mulai digenangi air pada tahun 1989. Dengan adanya waduk itu berarti ada kehilangan keindahan dan kehilangan desa-desa yang memiliki keunikannya tersendiri.
      Dalam tubuh gerakan konservasi itu sendiri terdapat pertentangan pendapat, khususnya yang berhubungan dengan masalah pembangunan (development) dan pelestarian sumberdaya alam (presenation) Pembangunan dapat diartikan sebagai pengelolaan sumberdaya alam secara ilmiah atas dasar produksi yang dapat dipertahankan terus-menerus. Sedangkan pelestarian diartikan sebagai sedikit atau tanpa campur tangan manusia terhdap alam. Alam diberikan utuh bagi kenikmatan manusia pada saai ini maupun yang akan datang. Konflik ini menyebabkan adanya perpecahan dalam tubuh gerakan konservasi di Amerika Serikat pada masa pemerintahan Presiden Roosevelt.
      Kelompok yang ingin melestarikan alam telah banyak mengkritik Dinas Taman Nasional Amerika Serikat yang telah mengizinkan pengembangan dan komersialisasi taman nasional. Sekarang ini banyak daerah liar yang dibiarkan begitu saja oleh Dinas Taman Nasional, namun juga mendapatkan kritikan dari banyak golongan terhadap keputusan itu.
      Orang lain, Anthony Scott dalam bukunya Natural Resources The Economics of Conservation, 1973, menyatakan bahwa konservsi merupakan kebijakan pemerintah yang berusaha meningkatkan tersedianya sumberdaya alam untuk generas yang akan datang sebagai akibat tindakan generasi yang sekarang. Demikian pula Herfindal menyatakan bahwa tindakan konservasi berupa tindakan untuk menghemat sesuatu bagi penggunaan di masa mendatang.
     Ketergantungan manusia terhadap alam tidak hanya dikaitkan dengan kebutuhan pangan dan mineral saja, tetapi saling tergantung dan berinteraksi dalam bidang materi maupun nonmateri. Namun manusia di manapun juga selalu merupakan agen perusak. Pendapat ini kemudian menjadi bagian penting dari pendapat kaum pencinta konservasi (conservasionist)
     Suatu perkembangan terakhir dalam usaha konservasi adalah apa yang disebut “Pelestarian Ilmiah” sebagai suatu usaha yang menggabungkan pendekatan ilmiah dengan usaha pelestari pembangunan, agar dilaksanakan observasi secara hati-hati. Dengan ini mulailah diadakan penilaian terhadap rekreasi, kemudian terhadap kualitas air dan udara. Banyak studi yang kemudian mulai mengkuantifisasikan kerusakan-kerusakan yang timbul oleh adanya pencemaran udara dan air, dan pula manfaat dari adanya perbaikan lingkungan hidup.
     Akhirnya gerakan konservasi ilmiah merupakan gerakan kaum elit yang menghendaki penggunaan metode teknis maupun ilmiah untuk memutuskan dan menggunakan kebijakan sumberdaya alam melalui lembaga pemerintah. Hal yang menarik ialah bahwa banyak perusahaan-perusahaan besar, seperti pengusaha hutan, dan peternak besar justru dapat melaksanakan konservasi dengan baik daripada unit unit usaha yg kecil kecil . isu yg ada kemudian ialah berkaitan dgn konsep efiensi yaitu penggunaan sumberdaya alam dengar cara yang paling baik dan pengembalian kondisi sumber daya alam.
     Akhirnya terbentuklah kelompok yg benar benar ingin menterapkan pengelolaan sumberdaya alam secara ilmiah. Kelompok ini merupakan kelompok konservasi di samping ada pula kelompok yg menghendaki adanya pelestarian sumberdaya alam.
     Gerakan konservasi ilmiah merupakan gerakan yg cukup elit yg bermaksud untuk menggunakan metode ilmiah dalam mengambil keputusan dan mengtur penggunaan sumberdaya alam melalui lembaga pemerintah pusat.
    Gerakan konservasi di indonesia belum tampak dengan jelas sampai dengan permulaan repelita 1 tahun 1969. Masalah lingkungan hidup belum banyak di kenal ketika itu, lebih lebih dalam hubungannya dengan proses pembangunan, sehingga masih banyak timbul kerusakan lingkungan. Lingkungan hidup dlm kaitannya dengan pembangunan baru dimulai dikenal pula di kalangan pemerintah dunia pd tahun 1972. Mulai saat itu dirintislah berbagai langkah langkah pengembangan pola pd pembangunanyg tdk merusak lingkungan indonesia secara tegas baru memasukkan  dimensi lingkungan dlm pembangunan mulai repelita kedua (1979-1983). Sejak saat itu di usahakan berbagai instrumen kebijakan pembangunan yg mengendalikan dampak negatif dan postif pembangunan terhadap lingkungan.
   Namun demikian dar suatu penelitian sejarah tercatat bahwa pd tahun 1854 ada org belanda sebagai pecinta alam benama jungjuhn dan hoogewerf sebagai bapak konservasi indonesia yg memulai menunjuk ujung kulon sebagai kawasan cagar alam.

1.    KONSERVASI DAN INVESTASI


    Ada baiknya untuk melihat perbedaan antara pengertian konservasi dan investasi serta anbtara deplisi dan penegertian mengurangi investasi (disinvestasi). Konservasi dan deplisi sebagaimana telah kita ketahui menunjukan perubahan fisik dlm distribusi waktu tingkat penggunaan sumberdaya alam.
    Sedangkan investasi dan disinvestasi tdk ada kaitannya dengan distribusi waktu tingkat penggunaan sumberdaya alam, meskipun kedua pengertian ini seringkali digunakan secara agak membinggungkan tetapi banyak ahli ekonomi yg menyetujui  bahwa investasi dan disinvestasi berkaitan dgn perubahan nilai barang modal seseorang , perusahaan ataupun masyarakat secara keseluruhan sebagai akibat dari perubahan dalam tingkat pendapatan maupun tingkat konsumsi yg bersangkutan, dan bukan berhubungan dgn perubahan fisik penggunaan sumberdaya alam milik seseorang.
     Memang seringkali investasi menghasilkan adanya deplisi dan disinvestasi menghasilkan konservasi sebagai misal karena adanya perubahan teknik produksi maka terjadi invest yg bersifat meningkat produksi sehingga semakin banyak menguras sumberdaya alam (deplisi). Demikian pula misalnya tindakan untuk menggantikan tanaman ubi kayu dengan tanaman rumput gajah di proyek Bangun Desa Yogyakarta akan bersifat konservasi.
     Bahkan meskipun istilah investasi & diinvestasi digunakan dalam pengertian yg populer & tdk ilmiah , mereka tetap diartikan tdk sama dgn istilah konservasi & deplisi sumber daya alam. Sebagai contoh investasi dalam bidang sumur minyak, bidang kehutanan, maupun pertambangan dengan  cara pembelian, tidaklah berarti bahwa investasi di sini sama artinya dengan konservasi. Dalam hal ini yang berubah hanya status pemilikan dan bukan pola distribusi waktu penggunaan sumber daya alam.
     Penurunan nilai atau harga suatu barang sumberdaya alam tertentu dapat cenderung menyebabkan terjadinya suatu disinvestasi, dan selanjutnya justru akan terjadi konservasi dalam rencana pemanfaatan sumberdaya alam. Sebaliknya suatu kenaikan harga barang sumberdaya alam akan berakibat mendorong investasi dan selanjutnya mengakibatkan adanya deplesi sumber daya alam. Apakah konservasi atau deplisi yang akan terjadi tergantung pada bagaimana harga-harga yang diharapkan untuk barang sumberdaya, tersebut didistribusikan sepanjang waktu dan bagaimana tingkat penggunaan dalam periode perencanaan tertentu dihubungkan lewat penerimaan (revenues) dan biaya (costs).
    Pembedaan pengertian antara konservasi dan investasi atau antara deplisi dan disinvestasi dianggap perlu tidak hanya dalam arti formal berkaitan dengan ekonomi teori, tetapi juga dalam arti praktis untuk pengambilan keputusan oleh seorang wiraswasta (enterpreneus) maupun oleh pemerintah. Selanjutnya pembicaraan mengenai masalah sumberdaya alam dalam kaitannya dgn pengertian investasi  & diinvestasi dikaitkan dgn nilai kapital & keseluruhan sumber daya alam yg berbeda-beda.

2.    PENGGUNAAN LESTARI SEBAGAI TUJUAN EKONOMI


     Setiap tindakan yang diarahkan kepada kelestarian penggunaan sumber daya alam dapat diartikan sebagai suatu tindakan konservasi. Tindakan-tindakan tersebut bersifat konservasi sampai suatu penggunaan maksimum yang lestari (maximum sustained use) dapat dicapai.
     Penggunaan sumberdaya alam secara maksimum dan lestari kadang-kadang dianggap sebagai suatu tujuan dalam usaha konservasi sumberdaya alam oleh swasta maupun oleh pemerintah. Tetapi konsep penggunaan sumber daya alam yang lestari dan maksimum itu berlaku, misalnya untuk sumberdaya ikan, hanya dibawah tiga asumsi berikut ini:
a.    Harus ada panenan maksimum yang dapat dilaksanakan secara periodik tanpa mempengaruhi pertumbuhan alami.

b.    Tidaklah ekonomis untuk meningkatkan atau menstabilkan pertumbuhan alamiah beserta pemanenannya dengan cara cara tertentu, misalnya dengan menggunakan perbaikan lingkungan hidup, pemberian makan, penyebaran serangga (predator) untuk memakan serangga lain.

c.    Biaya untuk panen dan permintaan terhadap produk tidak ekonomis sifatnya bila dilaksanakan di bawah jumlah panenan maksimum menurut kondisi alami.
     Selanjutnya dapat dimengerti bahwa dalam kenyataannya anggapan-anggapan itu tidak selalu dapat dipenuhi. Namun akan keliru bila kita menyimpulkan bahwa tujuan konservasi secara umum didefinisikan dalam arti kondisi fisik biologis saja, & bukan secara sosial ekonomis.

6.  STANDAR MINIMUM YANG AMAN UNTUK KONSERVASI


     Standar minimum yang aman bagi konservasi dapat di capai dengan menghindari daerah kritis (critical zone), yaitu kondisi fisik yang karena ulah manusia akan berakibat tidak ekonomis untuk menghentikan atau membalik tindakan deplisi. Atau dengan kata lain daerah kritis ini di rumuskan sebagai tingkat di bawah mana suatu penurunan dalam aliran tidak dapat lagi di kembalikan secara ekonomis atas dasar kondisi yang dapat di mengerti sekarang ini. Suatu standar minimum yang aman sesungguhnya  merupakan suatu peningkatan fleksibilitas dalam melanjutkan pembangunan dalam masyarakat. Lebih praktis lagi kiranya untuk mendefinisikan standar minimum yang aman sebagai suatu tindakan konservasi yang di rancang untuk menghindari daerah kritis. Sebagai contoh dalam hal sumberdaya tanah, suatu standar minimum yang aman adalah penghindaran tingkat erosi yg maksimum sedangkan dalam sumber daya hutan berupa usaha menghindari tingkat kebakaran hutan yang maksimum, dan dalam usaha sumberdaya air standar minimum yang aman berarti pencegahan pencemaran  tertinggi terhadap air minum. Kebijakan konservasi sangat di kaitkan dengan kelompok sumberdaya alam yang memiliki daerah kritis yaitu dengan dihancurkannya lingkungan habitat sumberdaya itu akan punah , seperti pada ikan, tumbuhan, air dan sebagainya. Oleh karena itu suatu standar minimum yang aman sangat berarti bagi kebijaksanaan konservasi khususnya bagi sumberdaya alam yg memiliki daerah kritis.
     Selanjutnya kita pertanyakan berapa biaya untuk mempertahankan standar minimum konservasi yang aman itu. Biaya untuk memprtahankan standar minimum yang aman itu sangatlah rendah apabila ada tindakan yang tepat yang di lakukan dalam waktu serta menggunakan alat kebijaksanaan yang tepat pula. Dengan adanya standar minimum yang aman memang ada kerugian yang berupa penggunaan yang hilang, karena hanya menyangkut suatu perubahan dalam cara penggunaan. Perubahan cara penggunaan ini dapat memerlukan biaya tetapi dapat pula tidak memerlukan biaya. Apalagi bila dibandingkan dengan kerugian yang dapat timbul yang berupa menurunnya fleksibilitas dalam melestarikan pembangunan seandainya tidak ada usaha standar minimum yang aman itu, maka biaya yang dikeluarkan untuknya tidaklah berarti sama sekli.
     Manfaat dari penetuan standar minimum yang aman itu adalah tingkat adaptasi yang tinggi terhadap kondisi lokal serta adanya kemudahan dalam pemahaman bagi para pemakai sumberdaya alam; sayangnya tidak begitu mudah menentukan derajat adanya daerah kritis bagi suatu sumberdaya tertentu. Selanjutnya pelaksanaan dari standar minimum yang aman harus dilaksanakan dengan biaya sosial yang seminimal mungkin.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENGARUH BERBAGAI VARIABEL EKONOMI TERHADAP KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM (Bab 7)

BAB 7 PENGARUH BERBAGAI VARIABEL EKONOMI TERHADAP KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM Seperti sudah sebagian besar disinggung bahwa banyak va...