BAB 9
Batas antara sumberdaya alam tak puiih
(exhaustible resources) dan sumberdaya alam pulih (renewable resources) tidak
selalu jelas diketahui. Perubahan teknologi dan cara eksplorasi secara
kuantitatif dapat membuat sumberdaya alam tak pulih menjadi sumberdaya alam
yang pulih atau yang dapat diperbarui dengan adanya penemuan deposit baru dan
pemanfaatan sumberdaya alam yang lebih rendah mutunya. Jadi sumberdaya alam tak
pulih itu dapat diperbarui. Sebaliknya sumberdaya alam yang dapat diperbarui
dapat pula habis (exhausted) yaitu bila digali atau dimanfaatkan dengan tidak
hati hati. Contoh yang jelas dari sumberdaya alam yang dapat diperbarui ini
adalah ikan atau sumberdaya biologis lainnya yang dapat punah bila tidak
dikelola dengan baik. Para ahli biologis mengatakan bahwa kerusakan yang
terjadi pada sumberdaya biologis (species) kebanyakan disebabkan oleh kerusakan
habitat tempat mereka hidup. Kerusakan habitat sebagai akibat pembangunan
ekonomi yang diselenggarakan di suatu daerah tertentu merupakan biaya
pembangunan. Namun sering kali biaya yang sifatnya eksternal ini tidak
diperhitungkan sebagai biaya dalam pengambilan keputusan rencana perorangan
seperti oleh perusahaan perusahaan.
*)Pembicaraan dalam bab ini sebagian besar
disadur dari A.C. Fisher, Natural Resources and Environmental Economics,
Cambridge University Press, London, chapter 3.
Pada bagian ini akan dibahas perihal penggunaan
rasional dari sumberdaya alam yang dapat diperbarui sehingga tidak mengurangi
populasinya dalam jangka panjang. Kata rasional ini digunakan untuk menjelaskan
pola penggunaan sumberdaya alam yang tidak akan menyebabkan populasinya habis.
Hal yang perlu diketahui agar diperoleh
keuntungan dalam melindungi persediaan dari pemanenan atau pengambilan yang
menghabiskan adalah meneliti pola dari cara-cara panen tersebut. Dalam hal ini
adalah cara-cara panen yang dilakukan oleh individu atau perorangan.
Contoh dari hal tersebut di atas adalah
pada penangkapan ikan di lautan atau samudera. Dalam hal ini sering terjadi
pemanenan atau penangkapan yang berlebihan. Tiap pemanen (nelayan) akan
berusaha untuk mengambil sebanyak-banyaknya, tidak seperti bila sumberdaya alam
itu dimiliki sendiri oleh perorangan.
Studi tentang cara-cara pemanenan atau
pengambilan sumber daya alam milik bersama itu sudah dilakukan, namun
pengawasan atas penggunaan pemilikan bersama ini sangat sulit dilakukan.
Kenyataannya, para ekonom yang mengkaji masalah penguasaan sumber daya alam,
umumnya menyarankan suatu cara pengelolaan yang menyangkut pendefinisian yang
jelas mengenai hak milik atau kekuasaan (property right) guna melindungi
sumberdaya alam agar tidak habis atau punah.
Sumberdaya alam yang pulih atau yang dapat
diperbarui ini berbeda sifatnya dengan sumberdaya alam tidak pulih dalam arti
bahwa sumberdaya yang dapat diperbarui tercipta kembali secara alamiah. Memang
menebang pohon dan menangkap ikan akan mengurangi populasi pohon dan ikan, tetapi
hanya temporer sifatnya, kecuali jika populasinya telah berkurang sedemikian
rupa sehingga suatu pengurangan lebih jauh lagi akan membawa pada kepunahan.Dalam
waktu yang tidak terlalu lama, pertumbuhan alami akan mengganti kehilangan karena
pengambilan tadi. Hal ini tidak akan terjadi dalam sumberdaya alam yang tak
pulih seperti misalnya sumberdaya minyak, karena satuan-satuan yang tersisa di
dalam tanah sebagai persediaan tidak tumbuh atau berkembang dalam waktu singkat.
Oleh karena itu syarat-syarat bagi pengambilan sumberdaya alam secara optimal
untuk sumberdaya alam pulih akan berbeda dengan sumberdaya alam tak pulih.
Pengamubilan secara optimal bagi sumberdaya
alam yang pulih seyogyanya didasarkan pada konsep "steady state” yaitu pengambilan
sumberdaya alam yang optimal dengan mengindahkan pemeliharaan persediaan. Kita
akan mempertimbangkan apakan hasil optimai yang mantap sama artinya dengan
hasil maksimum yang mantap.
Dalam analisis berikut, akan dibicarakan
sumberdaya alam yang dapat mewakili sumberdaya alam yang pulih dan yang
sekaligus merupakan milik umum. Namun hasil-analisisnya tidak akan persis sama,sehingga
sifat-sifat atau bentuk pertumbuhan alami bagi sumberdaya alam tertentu harus
dipahami secara sendiri-sendiri.
Pengelolaan sumberdaya alam yang pulih
(renewable resources) pada umumnya didasarkan pada konsep "hasil maksimum
yang mantap"(Maximum Sustainable Yield = MSY).lni barangkali
merupakan tujuan pengelolaan sumberdaya alam yang paling sederhana yang
memperhitungkan fakta bahwa persediaan sumberdaya biologis jangan dimanfaatkan
atau diambil terlalu berat,karena akan menyebabkan hilangnya produktivitas
sumberdaya alam tersebut.
Konsep MSY itu sendiri didasarkan atas model
pertumbuhan biologis yang menganggap bahwa pada setiap tingkat populasi
tertentu yang lebih rendah dari titik Xc pada Gambar 9.1, Suplus produksi
terjadi dan dapat dipanen selamanya tanpa mengurangi jumlah persediaan(populasi)
tersebut. Jika surpius itu tidak dipanen, maka hal ini akan menyebabkan
peningkatan dalam jumlah persediaan dan semakin mendekati daya tampung
lingkungan Xc (carrying capacity) di mana surplus produksi menurun menjadi nol.
Apabila surplus produksi sama dengan hasii
yang mantap (sustainabie yield),ini berarti bahwa MSY dicapai pada tingkat
populasi dengan surplus produksi yangi tertinggi yaitu pada laju pertumbuhan
populasi yang maksimum atau pada jumlah populasi setinggi Xm pada Gambar 9.1.
Untuk sebagian besar populasi "sumber daya alam pulih", MSY diketemukan
berada di antara 40 sampai 60 persen dari daya dukung lingkungan.
Namun demikian pada akhir-akhir ini telah
diketahui bahwa konsep MSY terlalu sederhana sebagai dasar pengelolaan sumber
daya alam yang pulih. Hal ini karena MSY hanya melibatkan unsur manfaat dari
eksploitasi sumber daya alam dan tidak memperhatikan unsur biaya eksploitasinya.
Berhubung dengan kekurangan dalam konsep MSY itu,maka ada kecenderungan untuk
menggantikannya dengan konsep Optimum Sustainable Yield (OSY). Konsep OSY ini
didasarkan pada "kriteria manfaat dan biaya" dan standar yang
memaksimumkan nilai sekarang dari penerimaan bersih. Kriteria ini cocok bagi
pengelolaan sumber daya alam oleh swasta maupun oleh pemerintah meskipun
perhitungan biayanya berbeda yaitu pengelola swasta biasanya menggunakan biaya
aktual (yang sungguh-sungguh) dikeluarkan oleh perusahaan, sedangkan pemerintah
sering memperhatikan biaya sosial. Namun demikian untuk memudahkan analisis,
kita akan memulai dengan memahami konsep MSY terlebih dahulu.
Kita memulai pembicaraan kita dengan ”hukum
pertumbuhan alami” (natural growth law), sedangkan uraian selanjutnya hampir
mirip dengan model dalam pengelolaan sumber daya alam yang tak pulih. Asumsi
yang dianut dalam sumber daya alam pulih adalah bahwa pertumbuhan merupakan
fungsi sederhana dari besarnya persediaan (populasi) sumber daya alam, dan
hubungannya ialah pertumbuhan Itu muIa-mula meningkat dengan berkembangnya
persediaan, namun kemudian menurun. Alasan bagi adanya tltlk balik Itu (turning
point) adalah bahwa lingkungan alami memiliki apa yang disebut daya dukung
tertentu (carrying capacity), yaitu merupakan jumlah populasi maksimum yang
dapat ditampung oleh lingkungan alam. Semakin dekat populasi Itu dengan titik
"carrying capacity”, maka semakin lamban laju pertumbuhan populasi Itu dan
akhirnya sama dengan nol atau tanpa pertumbuhan sampai sama sekali.
Kita dapat menggambarkan kurva pertumbuhan
sumberdaya alam itu seperti pada Gambar 9.1. Dalam gambar tersebut sumbu horisontal
menunjukkan jumlah persediaan atau populasi sumberdaya alam yang pulih dan
sumbu vertikal menunjukkan laju pertumbuhannya.
Laju
pertumbuhan populasi sumber daya alam itu merupakan fungsi dari persediaan atau
besarnya populasi itu sendiri ( g(X)) dan dalam hal ini X merupakan jumlah
populasi. Ujung-ujung kurva itu
rizkinurfifah166@gmail.comadalah X = 0 dan X=Xc, keduanya menunjukkan tidak adanya pertumbuhan
sumberdaya alam pulih atau pertumbuhannya sama dengan nol.
Titik Xm merupakan jumlah persediaan yang menunjukkan
adanya pertumbuhan yang maksimum atau merupakan populasi yang mampu
menghasilkan laju pertumbuhan sumberdaya alam yang tertinggi dan sekaligus
menunjukkan tingkat panenan atau produksi yang maksimum yang dapat
dipertahankan secara kekal. Keadaan ini disebut dengan "hasil maksimum
yang berkelanjutan" (Maximum Sustainable Yield = MSY).
Besarnya persediaan atau populasi dapat
digambarkan sebagai fungsi dari waktu. Perkembangan ini mula-mula meningkat
secara eksponensial kemudian semakin menurun dan mencapai titik maksimum (Lihat
Gambar 9.2).
Sekarang kita amati bagaimana seorang
perencana akan memaksimumkan nilai dari sumberdaya alam tersebut. Kita dapat
memulai dengan seorang perencana yang memaksimumkan nilai sekarang (present
value) dari manfaaat sosial bersih, kemudian menunjukkan pola penggunaan yang
sama pada pasar persaingan sempurna dengan anggapan masing-masing perusahaan
mempunyai hak penguasaan yang jelas. Selanjutnya bagaimana pola penggunaannya
bila sumberdaya alam itu merupakan milik umum (common property resources)
Bagi pemilik perorangan terhadap sumberdaya
alam yang pulih, ia akan berusaha mendapatkan keuntungan yang maksimal dengan
menyamakan harga barang sumberdaya alam itu dengan biaya pengambilannya
ditambah dengan besarnya royalty, seperti halnya dalam sumberdaya alam tak
pulih. Biaya pengambilan sumberdaya alam itu sendiri merupakan fungsi dari. banyaknya
produksi barang sumberdaya alam dan besarnya persediaan atau populasi sumberdaya
alam.
Dalam hal sumberdaya alam pulih, persediaan
sumberdaya alam itu dapat berkembang secara alami, sehingga hal ini akan
menambah nilai royalty dan dapat dianggap sebagai dividen karena menyimpan satu-satuan
sumberdaya alam sebagai persediaan. Pola perkembangan pengambilan sumberdaya
alam itu tetap mendekati keadaan yang mantap (steady state) dengan catatan
tidak ada perubahan dalam persediaan dan royalty. Masalahnya sekarang bagaimana
menentukan nilai optimal dalam kondisi mantap dari persediaan dan produksi
barang sumber daya alam itu.
Untuk menjelaskan masalah ini kita akan
menggunakan Gambar 9.3. dan Gambar 9.4. Kita nyatakan bahwa biaya pengambilan
merupakan fungsi dari jumlah produksi pada setiap tingkat persediaan seperti
diiukiskan pada Gambar 9.3.

Gambar
9.3
Pengambilan
Sumber Daya Alam Secara Optimal
dengan
Biaya Sebagai Fungsi Jumlah Produksi
dimana
C = Biaya pengambilan
y = jumlah produksi barang sumberdaya alam
= harga barang sumber daya alam
X = Jumlah persediaan sumber daya alam.
Terdapat suatu hasil optimal untuk
masing-masing jumlah persediaan. Hasil Optimal pada jumlah persediaan setinggi
X1 adalah y* (X1) dan hasil optimal pada jumlah persediaan setinggi X2 adalah
y* (X2). Letak dari nilai-nilai persediaan dan produksi yang diperoleh disebut
sebagai lokasi penangkapan (catch locus) dalam model pengelolaan sumber daya
ikan, yaitu bahwa pada titik-titik itu miringnya garis biaya sama dengan miringnya
garis penerimaan atau MC = MR.
Jumiah optimal persediaan dan hasil
produksi tergantung pada biaya produksi dan penerimaannya. Dari Gambar 9.3.
tampak bahwa hasil produksi untuk suatu persediaan tertentu cenderung berkurang
bila biaya marginal lebih tinggi atau bila harga lebih rendah, ataupun
kedua-duanya. Lokasi atau titik penangkapan Yc* pada Gambar 9.4. mencerminkan
bahwa ikan menjadi sulit ditangkap atau harga menjadi murah sekali atau
kedua-duanya. Dalam hal Inl jumlah persediaan pada kondisi mantap adalah Xc yaitu
jumlah populasi tanpa adanya eksploitasi.
Titik ekstrem lain adalah lokasi
penangkapan YA. Dalam hal ini ikan mudah ditangkap meskipun persediaan sedikit
atau harga ikan mahal sekali. Jumlah ikan lama-lama akan punah karena tingkat
pengambilan lebih besar dari pada tingkat pertumbuhannya. Dalam kasus ini
terbukti bahwa kepunahan dapat pula terjadi dengan pemilikan perorangan,
demikian pula kepunahan lebih pasti akan terjadi dengan adanya pemilikan secara
umum.
Kasus yang lebih umum adalah lokasi
pengambilan.Selama garis lokasi penangkapan memotong kurva pertumbuhan
sumberdaya ikan g(X) dari bawah, maka hasil pengambilan dan laju pertumbuhan
akan saling mengkoreksi bila terjadi penyimpangan dari keseimbangan:
Jadi sesungguhnya tidak ada di antara kasus-kasus itu yang merupakan
MSY yang optimal. MSY hanya merupakan rekomendasi dari para ahli biologi dan
para ahli lainnya yang berhubungan dengan pengelolaan sumberdaya alam.
Dalam hal tingkat bunga sama dengan nol,
dan biaya tidak berubah dengan adanya pengambilan, maka berhubung royalty tidak
berubah pada kondisi mantap, dan laju pertumbuhan juga sama dengan nol, maka
persediaan akan memberikan nilai yang
maksimum dan mantap pula (persediaan MSY). Dalam kasus khusus ini MSY terjadi
bersamaan dengan titik ekonomi optimum. Jadi sangatlah masuk akal untuk memungut
hasil dan menentukan persediaan yang memberikan hasil tertinggi untuk jangka
panjang. Bila kita bergerak ke kanan pada gambar 9.4., biaya pengambilan
meningkat, sedangkan bila bergerak ke kiri akan terjadi pengurangan persediaan
di masa depan.
Sekarang bagaimana kalau tingkat bunga
tidak sama dengan no tetapi positif (r > 0) dan biaya produksi tidak
terpengaruh oleh persediaan sumberdaya aIam. Sebagai akibatnya persediaan pada
kondisi mantap berada d bawah MSY yang bersangkutan. Persediaan itu menyusut
karena kerugian di masa datang didiskonto dan kecil nilainya serta tidak ada
tambahan biaya dengan ditingkatkannya pengambilan. Untuk sumberdaya alam
pulih,persediaan sumberdaya alam meningkat nilainya (ada capital gain), di samping
itu secara fisik sumberdaya alam ini bertambah atau berkembang volumenya (ada
dividen).
Telah diperlihatkan bahwa kepunahan dapat terjadi
sebagai akibat ekspioitasi terhadap sumberdaya alam yang pulih oleh seorang
pemilik tunggal. Kepunahan akan dapat terjadl pula dengan adanya pemilikan
sumberdaya alam Itu oleh umum. Dasar pemikirannya adalah bila perusahaan (firm)
memasuki suatu bidang usaha (Industri) secara bebas dan tak ada perjanjian kerja
sama, maka maslng-masing perusahaan akan mengabaikan biaya alternatif (user
cost= royalty) dalam mengambil sumberdaya alam saat ini. Oleh karena Itu keuntungan
dari menylmpan sumberdaya alam itu akan hilang dan keadaan di mana keuntungan
sama dengan nol dilukiskan dengan garis linier pada Gambar 9.3. yang dipasang
oleh garis TC. Titik penangkapan itu ditemukan pada saat terjadi perpotongan
antara garis penerimaan total (TR = p. yt) dan biaya total (C) untuk
masing masing persediaan.
Titik-titik penangkapan untuk sumberdaya
alam milik umum pada Gambar 9.4. adalah garis YA**, YB**, dan YC**.Untuk suatu
jumlah persediaan tertentu, jumlah produksi akan lebih tinggi dalam hal
pemilikan sumber daya alam secara umum dibanding di bawah pemilikan individu.
Perpotongan antara garis lurus TK dengan kurva biaya TC untuk suatu persediaan
tertentu terletak di sebelah kanan titik persamaan marginal (dc/ dy = p -p).
Namun kelebihan produksi tidak akan dapat dipertahankan dalam jangka panjang
karena persediaan sumberdaya alam milik umum (populasi) biasanya lebih rendah
daripada persediaan di bawah pemilikan secara pribadi dan ini cenderung menghasilkan
produk barang sumberdaya alam yang rendah pula jumlahnya.
a).
Pembatasan Eksploitasi yang Berlebihan
Eksploitasi yang berlebihan terhadap sumber daya alam milik umum
dapat diatasi dengan beberapa cara. Cara yang paling sederhana adalah
mendefinisikan hak penguasaan atau hak pemilikan sumberdaya alam tersebut dan rnempercayakan
pada kehendak masing-masing penguasa yang bersangkutan. Sebagai contoh penegasan
hak penguasaan (property right) adalah diakuinya zone 200 mil (two hundred mile
economic zone) dari pantai.
Cara pengawasan yang lain dapat berupa
penerapan pembatasan alat tangkap ikan. Cara yang lain lagi adalah pembatasan
jumlah ikan yang ditangkap. Tetapi pembatasan yang demikian ini sering diterobos
dengan cara menambah armada penangkapan ikan. Akibatnya periode panen akan
menjadi lebih pendek dan dapat pula semakin mengurangi jumlah persediaan atau
populasi sumberdaya ikan. Di Ambon dan Irian Jaya terkenal pembatasan menurut
waktu yang disebut "sasi" di mana pada masa tertentu orang tidak
diperkenankan menangkap ikan. Bahkan "sasi" juga diterapkan untuk
tanam-tanaman seperti kelapa.

Sebagai
kesimpulan pengelolaan sumberdaya alam yang pulih dapat dinyatakan bahwa
produsen selalu berusaha mengambil barang sumberdaya alam untuk memaksimumkan
keuntungan/manfaat yaitu menyamakan harga dengan biaya pengambilan ditambah
royalty. Biaya pengambilan barang sumberdaya alam juga dipengaruhi oleh
banyaknya produksi barang sumberdaya alam dan besarnya persediaan atau populasi
sumberdaya alam tersebut, besarnya persediaan atau populasi berkembang secara
alami, sehingga untuk sumberdaya alam jenis ini akan tercipta baik keuntungan
capital (capital gain) maupun dividen karena menunda pengambilan barang sumberdaya
tersebut.
Di
bawah kepemilikan pribadi, pengambilan sumberdaya alam akan optimum bila biaya
marginal (MC) sama dengan penerimaan marginal (MR). Pada berbagai jumlah
persediaan (populasi) akan diperoleh tingkat pengambilan optimum tertentu,
sehingga akan dapat diperoleh lokasi penangkapan (catch locus). Lokasi
penangkapan untuk sumberdaya alam milik umum terletak lebih ke kiri
daripada untuk sumberdaya alam milik
pribadi, sehingga di bawah kepemilikan umum sumberdaya alam pulih ini akan cenderung
diambil secara berlebihan. Hal ini benar karena orang atau perusahaan tidak
memperhatikan biya alternative dalam menunda pengambilan barang sumberdaya alam
milik umum.
Kesesakan/kepadatan dapat. terjadi dalam
berbagai bentuk, mulai dari kemacetan lalu lintas pada jam-jam pulang kantor
sampai dengan kesesakan di taman-taman rekreasi. Dalam bidang sumberdaya alam,kesesakan
merupakan hal yang sangat penting terutama dalam kaitannya dengan rekreasi di
luar rumah.
Kesesakan (congestion) dapat dipandang
sebagai saling terganggunya setiap Individu yang sama-sama menggunakan
fasilitas publik (umum). Saling mengganggu ini dapat dalam bentuk fisik seperti
halnya kendaraan-kendaraan di jalan raya dan pintu “tol”, kapal-kapal di
pelabuhan dan sebagainya di mana masing-masing mempunyai fungsi produksi yang
saling bergantung satu sama lain.Contoh lain lagi adalah menurunnya
kenikmatan/kesenangan karena adanya orang yang lalu lalang apabila kita sedang
duduk-duduk di taman rekreasi.
Fasilitas publik yang digunakan biasanya
disediakan oleh pemerintah baik pusat ataupun daerah, walaupun tidak selalu
demikian. Contoh yang paling umum adalah jalan raya, pelabuhan, lapangan udara,
pantai, taman, hutan wisata dan lain-lain. Hal yang perlu diperhatikan adalah
bahwa kapasitas dari fasilitas publik itu tidak dapat ditambah begitu saja
dalam jangka pendek sebagai respon terhadap perubahan permintaan.
Sebagai misal adanya kesesakan atau
kepadatan adalah terlalu banyak orang yang datang ke taman wisata pada waktu
menjelang hari Natal. Dampak negatif yang timbul terutama adalah menurunnya
kenikmatan atau kesenangan para pengunjung serta berkurangnya kesediaan untuk
membayar bagi jasa rekreasi tersebut.
Jadi biaya bagi suatu kesesakan dapat
dilukiskan sebagai suatu penurunan dalam hal kesediaan untuk membayar
(willingnes to pay) bagi penggunaan fasilitas publik apabila dampak negatif itu
mempengaruhi tingkat kepuasan konsumen. Gambar 9.5. menunjukkan kesediaan membayar
atas penggunaan fasilitas publik bila tidak ada kesesakan atau disebut
penerimaan toral (TR). TC1 menunjukkan biaya variabel total yang merupakan
fungsi dari tingkat penggunaan atau arus lalu lintas X. Biaya itu mula”mula
dipikul oleh pengelola atau pemerintah tetapi kemudian biaya itu dilimpahkan
kepada mereka yang menggunakan fasilitas publik itu lewat pungutan atau
bayaran. TC2 menunjukkan biaya variabel .yang meliputi biaya kesesakan dalam
bentuk risiko kecelakaan yang semakin tinggi. Biaya kesesakan ltu dipikul oleh
individu yang memanfaatkannya.Tanpa adanya kesesakan, Xb merupakan titik
penggunaan yang optimum yaitu pada saat biaya marginal sama dengan penerimaan
atau manfaat marginal (lereng TR1=lereng TC1). Dengan adanya kesesakan, maka
tingkat penggunaan sosial yang optimum iaiah X* yaitu pada saat lereng kurva TR
sama dengan lereng kurva TC2 atau manfaat marginal sama dengan biaya marginal.
Bila pungutan yang dikenakan sebesar biaya
marginal untuk masing-masing pemakai, sehingga semua pemakai membayar cX* untuk
fasilitas yang digunakan, membayar bc untuk biaya kesesakan, dan menikmati
manfaat bersih sebesar db.
Apabila dianggap bahwa kesesakan itu
sama-sama mempengaruhi semua pemakai dan pungutan yang sama dikenakan pada semua
pemakai, maka setiap pemakai akan memikul biaya rata-rata dan bukan biaya
marginal. Dalam Gambar 9.5. biaya rata-rata ditunjukkan oleh garis yang
menghubungkan titik pada kurva biaya TC2 dengan titik asal 0. Pemakai fasilitas
akan terus menggunakannya sampai kesediaan untuk membayar sama dengan biaya
variabel rata-rata (MR = AC), dan titik itu tercapai pada tingkat penggunaan setinggi
XC, yaitu bahwa total manfaat menurun dan biaya kesesakan lebih tinggi.Jadi
sebenarnya keunikan dalam penggunaan sumber daya milik umum itu bukanlah pada
penggunaannya yang berlebihan, tetapi disebabkan oleh kegagalan untuk
memperhitungkan seluruh biaya marginal yang dikenakan dalam suatu sistem, yaitu
kelebihan biaya marginal di atas biaya rata-rata.
Lingkungan, udara dan air yang luas
(lautan, danau) serta pemandangan merupakan sumberdaya alam milik umum yang
sering dipakai sebagai tempat membuang .limbah. Biasanya semua pihak boleh
membuang asap pabrik maupun bau busuk ke udara, air limbah dibuang ke sungai
atau danau, serta rusaknya pemandangan karena munculnya bangunan-bangunan
pencakar langit. Namun penggunaan lingkungan. ini telah dibatasi dengan
aturan-aturan yang resmi dari Pemerintah, hanya saja perundang-undangan peraturan
itu sering masih terlalu sempit. Dengan ratusan orang atau perusahaan yang
menimbulkan pencemaran, bagaimana menentukan pencemaran tertentu oleh orang
atau perusahaan tertentu? Demikian pula apabila terjadi konflik antar-penyebab
pencemaran, mana yang akan dimenangkan?

Dalam hal kesesakan, konflik terjadi antar
para pemakai fasilitas publik.Dalam hal ini Informasi mengenai dampak keputusan
mereka merupakan umpan balik bagi para pemakai fasilitas itu melalui
pasar.Umpan balik ini cenderung membatasi penggunaan yang berlebihan sampai
pada suatu titik di mana tidak ada manfaat lagi bagi masyarakat. Dalam hal
pencemaran, maka akan timbul suatu kerugian sosial neto dari penggunaan sumber
daya alam itu.
Ada dua cara di mana jasa lingkungan dapat
masuk ke sistem pasar dengan lebih efektif, yaitu dengan membatasi kebebasan
mendapatkan barang/jasa lingkungan melalui pungutan atau bayaran tertentu, dan
dengan memberikan nilai pada lingkungan ,kemudian memasukkan nilai tersebut ke
dalam harga barang dan jasa akhir. Sekali lagi pendekatan ini disebut sebagai
pendekatan atas dasar mekanisme pasar (marketbased incentive)yang dilawankan
terhadap pendekatan atas dasar peraturan (regulatory=command and control).
Pendekatan atas dasar peraturan ini biasanya menggunakan "baku mutu
lingkungan" atau "baku mutu kualitas udara” ataupun "baku mutu
kualitas air" misalnya. Baku mutu ini didukung oleh peraturan
perundang-undangan, tanpa mekanisme pasar.
Para ekonom sudah lama menyatakan bahwa
pendekatan mekanisme pasar jauh lebih efisien daripada sistem pengawasan dan komando
(commando and control), namun kenyataannya banyak negara yang masih menganut
sistem pengawasan dan komando tersebut.
Sistem pengawasan dan komando memiliki
kelemahan di antaranya akan memerlukan biaya yang mahal untuk mengumpulkan informasi
dari para produsen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar