Senin, 25 November 2019

PENGELOAAN SUMBERDAYA ALAM PULIH (Bab 9)


BAB 9                      
Batas antara sumberdaya alam tak puiih (exhaustible resources) dan sumberdaya alam pulih (renewable resources) tidak selalu jelas diketahui. Perubahan teknologi dan cara eksplorasi secara kuantitatif dapat membuat sumberdaya alam tak pulih menjadi sumberdaya alam yang pulih atau yang dapat diperbarui dengan adanya penemuan deposit baru dan pemanfaatan sumberdaya alam yang lebih rendah mutunya. Jadi sumberdaya alam tak pulih itu dapat diperbarui. Sebaliknya sumberdaya alam yang dapat diperbarui dapat pula habis (exhausted) yaitu bila digali atau dimanfaatkan dengan tidak hati hati. Contoh yang jelas dari sumberdaya alam yang dapat diperbarui ini adalah ikan atau sumberdaya biologis lainnya yang dapat punah bila tidak dikelola dengan baik. Para ahli biologis mengatakan bahwa kerusakan yang terjadi pada sumberdaya biologis (species) kebanyakan disebabkan oleh kerusakan habitat tempat mereka hidup. Kerusakan habitat sebagai akibat pembangunan ekonomi yang diselenggarakan di suatu daerah tertentu merupakan biaya pembangunan. Namun sering kali biaya yang sifatnya eksternal ini tidak diperhitungkan sebagai biaya dalam pengambilan keputusan rencana perorangan  seperti oleh perusahaan perusahaan.




 
*)Pembicaraan dalam bab ini sebagian besar disadur dari A.C. Fisher, Natural Resources and Environmental Economics, Cambridge University Press, London, chapter 3.

Pada bagian ini akan dibahas perihal penggunaan rasional dari sumberdaya alam yang dapat diperbarui sehingga tidak mengurangi populasinya dalam jangka panjang. Kata rasional ini digunakan untuk menjelaskan pola penggunaan sumberdaya alam yang tidak akan menyebabkan populasinya habis.
Hal yang perlu diketahui agar diperoleh keuntungan dalam melindungi persediaan dari pemanenan atau pengambilan yang menghabiskan adalah meneliti pola dari cara-cara panen tersebut. Dalam hal ini adalah cara-cara panen yang dilakukan oleh individu atau perorangan.
Contoh dari hal tersebut di atas adalah pada penangkapan ikan di lautan atau samudera. Dalam hal ini sering terjadi pemanenan atau penangkapan yang berlebihan. Tiap pemanen (nelayan) akan berusaha untuk mengambil sebanyak-banyaknya, tidak seperti bila sumberdaya alam itu dimiliki sendiri oleh perorangan.
Studi tentang cara-cara pemanenan atau pengambilan sumber daya alam milik bersama itu sudah dilakukan, namun pengawasan atas penggunaan pemilikan bersama ini sangat sulit dilakukan. Kenyataannya, para ekonom yang mengkaji masalah penguasaan sumber daya alam, umumnya menyarankan suatu cara pengelolaan yang menyangkut pendefinisian yang jelas mengenai hak milik atau kekuasaan (property right) guna melindungi sumberdaya alam agar tidak habis atau punah.
Sumberdaya alam yang pulih atau yang dapat diperbarui ini berbeda sifatnya dengan sumberdaya alam tidak pulih dalam arti bahwa sumberdaya yang dapat diperbarui tercipta kembali secara alamiah. Memang menebang pohon dan menangkap ikan akan mengurangi populasi pohon dan ikan, tetapi hanya temporer sifatnya, kecuali jika populasinya telah berkurang sedemikian rupa sehingga suatu pengurangan lebih jauh lagi akan membawa pada kepunahan.Dalam waktu yang tidak terlalu lama, pertumbuhan alami akan mengganti kehilangan karena pengambilan tadi. Hal ini tidak akan terjadi dalam sumberdaya alam yang tak pulih seperti misalnya sumberdaya minyak, karena satuan-satuan yang tersisa di dalam tanah sebagai persediaan tidak tumbuh atau berkembang dalam waktu singkat. Oleh karena itu syarat-syarat bagi pengambilan sumberdaya alam secara optimal untuk sumberdaya alam pulih akan berbeda dengan sumberdaya alam tak pulih.
Pengamubilan secara optimal bagi sumberdaya alam yang pulih seyogyanya didasarkan pada konsep "steady state” yaitu pengambilan sumberdaya alam yang optimal dengan mengindahkan pemeliharaan persediaan. Kita akan mempertimbangkan apakan hasil optimai yang mantap sama artinya dengan hasil maksimum yang mantap.
Dalam analisis berikut, akan dibicarakan sumberdaya alam yang dapat mewakili sumberdaya alam yang pulih dan yang sekaligus merupakan milik umum. Namun hasil-analisisnya tidak akan persis sama,sehingga sifat-sifat atau bentuk pertumbuhan alami bagi sumberdaya alam tertentu harus dipahami secara sendiri-sendiri.

Pengelolaan sumberdaya alam yang pulih (renewable resources) pada umumnya didasarkan pada konsep "hasil maksimum yang mantap"(Maximum Sustainable Yield = MSY).lni barangkali merupakan  tujuan pengelolaan sumberdaya alam yang paling sederhana yang memperhitungkan fakta bahwa persediaan sumberdaya biologis jangan dimanfaatkan atau diambil terlalu berat,karena akan menyebabkan hilangnya produktivitas sumberdaya alam tersebut.
Konsep MSY itu sendiri didasarkan atas model pertumbuhan biologis yang menganggap bahwa pada setiap tingkat populasi tertentu yang lebih rendah dari titik Xc pada Gambar 9.1, Suplus produksi terjadi dan dapat dipanen selamanya tanpa mengurangi jumlah persediaan(populasi) tersebut. Jika surpius itu tidak dipanen, maka hal ini akan menyebabkan peningkatan dalam jumlah persediaan dan semakin mendekati daya tampung lingkungan Xc (carrying capacity) di mana surplus produksi menurun menjadi nol.
Apabila surplus produksi sama dengan hasii yang mantap (sustainabie yield),ini berarti bahwa MSY dicapai pada tingkat populasi dengan surplus produksi yangi tertinggi yaitu pada laju pertumbuhan populasi yang maksimum atau pada jumlah populasi setinggi Xm pada Gambar 9.1. Untuk sebagian besar populasi "sumber daya alam pulih", MSY diketemukan berada di antara 40 sampai 60 persen dari daya dukung lingkungan.
Namun demikian pada akhir-akhir ini telah diketahui bahwa konsep MSY terlalu sederhana sebagai dasar pengelolaan sumber daya alam yang pulih. Hal ini karena MSY hanya melibatkan unsur manfaat dari eksploitasi sumber daya alam dan tidak memperhatikan unsur biaya eksploitasinya. Berhubung dengan kekurangan dalam konsep MSY itu,maka ada kecenderungan untuk menggantikannya dengan konsep Optimum Sustainable Yield (OSY). Konsep OSY ini didasarkan pada "kriteria manfaat dan biaya" dan standar yang memaksimumkan nilai sekarang dari penerimaan bersih. Kriteria ini cocok bagi pengelolaan sumber daya alam oleh swasta maupun oleh pemerintah meskipun perhitungan biayanya berbeda yaitu pengelola swasta biasanya menggunakan biaya aktual (yang sungguh-sungguh) dikeluarkan oleh perusahaan, sedangkan pemerintah sering memperhatikan biaya sosial. Namun demikian untuk memudahkan analisis, kita akan memulai dengan memahami konsep MSY terlebih dahulu.
Kita memulai pembicaraan kita dengan ”hukum pertumbuhan alami” (natural growth law), sedangkan uraian selanjutnya hampir mirip dengan model dalam pengelolaan sumber daya alam yang tak pulih. Asumsi yang dianut dalam sumber daya alam pulih adalah bahwa pertumbuhan merupakan fungsi sederhana dari besarnya persediaan (populasi) sumber daya alam, dan hubungannya ialah pertumbuhan Itu muIa-mula meningkat dengan berkembangnya persediaan, namun kemudian menurun. Alasan bagi adanya tltlk balik Itu (turning point) adalah bahwa lingkungan alami memiliki apa yang disebut daya dukung tertentu (carrying capacity), yaitu merupakan jumlah populasi maksimum yang dapat ditampung oleh lingkungan alam. Semakin dekat populasi Itu dengan titik "carrying capacity”, maka semakin lamban laju pertumbuhan populasi Itu dan akhirnya sama dengan nol atau tanpa pertumbuhan sampai sama sekali.
Kita dapat menggambarkan kurva pertumbuhan sumberdaya alam itu seperti pada Gambar 9.1. Dalam gambar tersebut sumbu horisontal menunjukkan jumlah persediaan atau populasi sumberdaya alam yang pulih dan sumbu vertikal menunjukkan laju pertumbuhannya.
Laju pertumbuhan populasi sumber daya alam itu merupakan fungsi dari persediaan atau besarnya populasi itu sendiri ( g(X)) dan dalam hal ini X merupakan jumlah populasi. Ujung-ujung kurva itu













rizkinurfifah166@gmail.comadalah X = 0 dan X=Xc, keduanya menunjukkan tidak adanya pertumbuhan sumberdaya alam pulih atau pertumbuhannya sama dengan nol.
Titik Xm merupakan jumlah persediaan yang menunjukkan adanya pertumbuhan yang maksimum atau merupakan populasi yang mampu menghasilkan laju pertumbuhan sumberdaya alam yang tertinggi dan sekaligus menunjukkan tingkat panenan atau produksi yang maksimum yang dapat dipertahankan secara kekal. Keadaan ini disebut dengan "hasil maksimum yang berkelanjutan" (Maximum Sustainable Yield = MSY).




Besarnya persediaan atau populasi dapat digambarkan sebagai fungsi dari waktu. Perkembangan ini mula-mula meningkat secara eksponensial kemudian semakin menurun dan mencapai titik maksimum (Lihat Gambar 9.2).
Sekarang kita amati bagaimana seorang perencana akan memaksimumkan nilai dari sumberdaya alam tersebut. Kita dapat memulai dengan seorang perencana yang memaksimumkan nilai sekarang (present value) dari manfaaat sosial bersih, kemudian menunjukkan pola penggunaan yang sama pada pasar persaingan sempurna dengan anggapan masing-masing perusahaan mempunyai hak penguasaan yang jelas. Selanjutnya bagaimana pola penggunaannya bila sumberdaya alam itu merupakan milik umum (common property resources)
Bagi pemilik perorangan terhadap sumberdaya alam yang pulih, ia akan berusaha mendapatkan keuntungan yang maksimal dengan menyamakan harga barang sumberdaya alam itu dengan biaya pengambilannya ditambah dengan besarnya royalty, seperti halnya dalam sumberdaya alam tak pulih. Biaya pengambilan sumberdaya alam itu sendiri merupakan fungsi dari. banyaknya produksi barang sumberdaya alam dan besarnya persediaan atau populasi sumberdaya alam.
Dalam hal sumberdaya alam pulih, persediaan sumberdaya alam itu dapat berkembang secara alami, sehingga hal ini akan menambah nilai royalty dan dapat dianggap sebagai dividen karena menyimpan satu-satuan sumberdaya alam sebagai persediaan. Pola perkembangan pengambilan sumberdaya alam itu tetap mendekati keadaan yang mantap (steady state) dengan catatan tidak ada perubahan dalam persediaan dan royalty. Masalahnya sekarang bagaimana menentukan nilai optimal dalam kondisi mantap dari persediaan dan produksi barang sumber daya alam itu.
Untuk menjelaskan masalah ini kita akan menggunakan Gambar 9.3. dan Gambar 9.4. Kita nyatakan bahwa biaya pengambilan merupakan fungsi dari jumlah produksi pada setiap tingkat persediaan seperti diiukiskan pada Gambar 9.3.
















Gambar 9.3
Pengambilan Sumber Daya Alam Secara Optimal
dengan Biaya Sebagai Fungsi Jumlah Produksi

dimana     
C       = Biaya pengambilan
y        = jumlah produksi barang sumberdaya alam
          = harga barang sumber daya alam
X       = Jumlah persediaan sumber daya alam.

Terdapat suatu hasil optimal untuk masing-masing jumlah persediaan. Hasil Optimal pada jumlah persediaan setinggi X1 adalah y* (X1) dan hasil optimal pada jumlah persediaan setinggi X2 adalah y* (X2). Letak dari nilai-nilai persediaan dan produksi yang diperoleh disebut sebagai lokasi penangkapan (catch locus) dalam model pengelolaan sumber daya ikan, yaitu bahwa pada titik-titik itu miringnya garis biaya sama dengan miringnya  garis penerimaan atau MC = MR.
Jumiah optimal persediaan dan hasil produksi tergantung pada biaya produksi dan penerimaannya. Dari Gambar 9.3. tampak bahwa hasil produksi untuk suatu persediaan tertentu cenderung berkurang bila biaya marginal lebih tinggi atau bila harga lebih rendah, ataupun kedua-duanya. Lokasi atau titik penangkapan Yc* pada Gambar 9.4. mencerminkan bahwa ikan menjadi sulit ditangkap atau harga menjadi murah sekali atau kedua-duanya. Dalam hal Inl jumlah persediaan pada kondisi mantap adalah Xc yaitu jumlah populasi tanpa adanya eksploitasi.
Titik ekstrem lain adalah lokasi penangkapan YA. Dalam hal ini ikan mudah ditangkap meskipun persediaan sedikit atau harga ikan mahal sekali. Jumlah ikan lama-lama akan punah karena tingkat pengambilan lebih besar dari pada tingkat pertumbuhannya. Dalam kasus ini terbukti bahwa kepunahan dapat pula terjadi dengan pemilikan perorangan, demikian pula kepunahan lebih pasti akan terjadi dengan adanya pemilikan secara umum.
Kasus yang lebih umum adalah lokasi pengambilan.Selama garis lokasi penangkapan memotong kurva pertumbuhan sumberdaya ikan g(X) dari bawah, maka hasil pengambilan dan laju pertumbuhan akan saling mengkoreksi bila terjadi penyimpangan dari keseimbangan:
    

Jadi sesungguhnya tidak ada di antara kasus-kasus itu yang merupakan MSY yang optimal. MSY hanya merupakan rekomendasi dari para ahli biologi dan para ahli lainnya yang berhubungan dengan pengelolaan sumberdaya alam.
Dalam hal tingkat bunga sama dengan nol, dan biaya tidak berubah dengan adanya pengambilan, maka berhubung royalty tidak berubah pada kondisi mantap, dan laju pertumbuhan juga sama dengan nol, maka persediaan  akan memberikan nilai yang maksimum dan mantap pula (persediaan MSY). Dalam kasus khusus ini MSY terjadi bersamaan dengan titik ekonomi optimum. Jadi sangatlah masuk akal untuk memungut hasil dan menentukan persediaan yang memberikan hasil tertinggi untuk jangka panjang. Bila kita bergerak ke kanan pada gambar 9.4., biaya pengambilan meningkat, sedangkan bila bergerak ke kiri akan terjadi pengurangan persediaan di masa depan.
Sekarang bagaimana kalau tingkat bunga tidak sama dengan no tetapi positif (r > 0) dan biaya produksi tidak terpengaruh oleh persediaan sumberdaya aIam. Sebagai akibatnya persediaan pada kondisi mantap berada d bawah MSY yang bersangkutan. Persediaan itu menyusut karena kerugian di masa datang didiskonto dan kecil nilainya serta tidak ada tambahan biaya dengan ditingkatkannya pengambilan. Untuk sumberdaya alam pulih,persediaan sumberdaya alam meningkat nilainya (ada capital gain), di samping itu secara fisik sumberdaya alam ini bertambah atau berkembang volumenya (ada dividen).

Telah diperlihatkan bahwa kepunahan dapat terjadi sebagai akibat ekspioitasi terhadap sumberdaya alam yang pulih oleh seorang pemilik tunggal. Kepunahan akan dapat terjadl pula dengan adanya pemilikan sumberdaya alam Itu oleh umum. Dasar pemikirannya adalah bila perusahaan (firm) memasuki suatu bidang usaha (Industri) secara bebas dan tak ada perjanjian kerja sama, maka maslng-masing perusahaan akan mengabaikan biaya alternatif (user cost= royalty) dalam mengambil sumberdaya alam saat ini. Oleh karena Itu keuntungan dari menylmpan sumberdaya alam itu akan hilang dan keadaan di mana keuntungan sama dengan nol dilukiskan dengan garis linier pada Gambar 9.3. yang dipasang oleh garis TC. Titik penangkapan itu ditemukan pada saat terjadi perpotongan antara garis penerimaan total (TR = p. yt) dan biaya total (C) untuk masing masing persediaan.
Titik-titik penangkapan untuk sumberdaya alam milik umum pada Gambar 9.4. adalah garis YA**, YB**, dan YC**.Untuk suatu jumlah persediaan tertentu, jumlah produksi akan lebih tinggi dalam hal pemilikan sumber daya alam secara umum dibanding di bawah pemilikan individu. Perpotongan antara garis lurus TK dengan kurva biaya TC untuk suatu persediaan tertentu terletak di sebelah kanan titik persamaan marginal (dc/ dy = p -p). Namun kelebihan produksi tidak akan dapat dipertahankan dalam jangka panjang karena persediaan sumberdaya alam milik umum (populasi) biasanya lebih rendah daripada persediaan di bawah pemilikan secara pribadi dan ini cenderung menghasilkan produk barang sumberdaya alam yang rendah pula jumlahnya.
a). Pembatasan Eksploitasi yang Berlebihan
Eksploitasi yang berlebihan terhadap sumber daya alam milik umum dapat diatasi dengan beberapa cara. Cara yang paling sederhana adalah mendefinisikan hak penguasaan atau hak pemilikan sumberdaya alam tersebut dan rnempercayakan pada kehendak masing-masing penguasa yang bersangkutan. Sebagai contoh penegasan hak penguasaan (property right) adalah diakuinya zone 200 mil (two hundred mile economic zone) dari pantai.
Cara pengawasan yang lain dapat berupa penerapan pembatasan alat tangkap ikan. Cara yang lain lagi adalah pembatasan jumlah ikan yang ditangkap. Tetapi pembatasan yang demikian ini sering diterobos dengan cara menambah armada penangkapan ikan. Akibatnya periode panen akan menjadi lebih pendek dan dapat pula semakin mengurangi jumlah persediaan atau populasi sumberdaya ikan. Di Ambon dan Irian Jaya terkenal pembatasan menurut waktu yang disebut "sasi" di mana pada masa tertentu orang tidak diperkenankan menangkap ikan. Bahkan "sasi" juga diterapkan untuk tanam-tanaman seperti kelapa.






Sebagai kesimpulan pengelolaan sumberdaya alam yang pulih dapat dinyatakan bahwa produsen selalu berusaha mengambil barang sumberdaya alam untuk memaksimumkan keuntungan/manfaat yaitu menyamakan harga dengan biaya pengambilan ditambah royalty. Biaya pengambilan barang sumberdaya alam juga dipengaruhi oleh banyaknya produksi barang sumberdaya alam dan besarnya persediaan atau populasi sumberdaya alam tersebut, besarnya persediaan atau populasi berkembang secara alami, sehingga untuk sumberdaya alam jenis ini akan tercipta baik keuntungan capital (capital gain) maupun dividen karena menunda pengambilan barang sumberdaya tersebut.
Di bawah kepemilikan pribadi, pengambilan sumberdaya alam akan optimum bila biaya marginal (MC) sama dengan penerimaan marginal (MR). Pada berbagai jumlah persediaan (populasi) akan diperoleh tingkat pengambilan optimum tertentu, sehingga akan dapat diperoleh lokasi penangkapan (catch locus). Lokasi penangkapan untuk sumberdaya alam milik umum terletak lebih ke kiri daripada  untuk sumberdaya alam milik pribadi, sehingga di bawah kepemilikan umum sumberdaya alam pulih ini akan cenderung diambil secara berlebihan. Hal ini benar karena orang atau perusahaan tidak memperhatikan biya alternative dalam menunda pengambilan barang sumberdaya alam milik umum.

Kesesakan/kepadatan dapat. terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari kemacetan lalu lintas pada jam-jam pulang kantor sampai dengan kesesakan di taman-taman rekreasi. Dalam bidang sumberdaya alam,kesesakan merupakan hal yang sangat penting terutama dalam kaitannya dengan rekreasi di luar rumah.
Kesesakan (congestion) dapat dipandang sebagai saling terganggunya setiap Individu yang sama-sama menggunakan fasilitas publik (umum). Saling mengganggu ini dapat dalam bentuk fisik seperti halnya kendaraan-kendaraan di jalan raya dan pintu “tol”, kapal-kapal di pelabuhan dan sebagainya di mana masing-masing mempunyai fungsi produksi yang saling bergantung satu sama lain.Contoh lain lagi adalah menurunnya kenikmatan/kesenangan karena adanya orang yang lalu lalang apabila kita sedang duduk-duduk di taman rekreasi.
Fasilitas publik yang digunakan biasanya disediakan oleh pemerintah baik pusat ataupun daerah, walaupun tidak selalu demikian. Contoh yang paling umum adalah jalan raya, pelabuhan, lapangan udara, pantai, taman, hutan wisata dan lain-lain. Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa kapasitas dari fasilitas publik itu tidak dapat ditambah begitu saja dalam jangka pendek sebagai respon terhadap perubahan permintaan.
Sebagai misal adanya kesesakan atau kepadatan adalah terlalu banyak orang yang datang ke taman wisata pada waktu menjelang hari Natal. Dampak negatif yang timbul terutama adalah menurunnya kenikmatan atau kesenangan para pengunjung serta berkurangnya kesediaan untuk membayar bagi jasa rekreasi tersebut.
Jadi biaya bagi suatu kesesakan dapat dilukiskan sebagai suatu penurunan dalam hal kesediaan untuk membayar (willingnes to pay) bagi penggunaan fasilitas publik apabila dampak negatif itu mempengaruhi tingkat kepuasan konsumen. Gambar 9.5. menunjukkan kesediaan membayar atas penggunaan fasilitas publik bila tidak ada kesesakan atau disebut penerimaan toral (TR). TC1 menunjukkan biaya variabel total yang merupakan fungsi dari tingkat penggunaan atau arus lalu lintas X. Biaya itu mula”mula dipikul oleh pengelola atau pemerintah tetapi kemudian biaya itu dilimpahkan kepada mereka yang menggunakan fasilitas publik itu lewat pungutan atau bayaran. TC2 menunjukkan biaya variabel .yang meliputi biaya kesesakan dalam bentuk risiko kecelakaan yang semakin tinggi. Biaya kesesakan ltu dipikul oleh individu yang memanfaatkannya.Tanpa adanya kesesakan, Xb merupakan titik penggunaan yang optimum yaitu pada saat biaya marginal sama dengan penerimaan atau manfaat marginal (lereng TR1=lereng TC1). Dengan adanya kesesakan, maka tingkat penggunaan sosial yang optimum iaiah X* yaitu pada saat lereng kurva TR sama dengan lereng kurva TC2 atau manfaat marginal sama dengan biaya marginal.
Bila pungutan yang dikenakan sebesar biaya marginal untuk masing-masing pemakai, sehingga semua pemakai membayar cX* untuk fasilitas yang digunakan, membayar bc untuk biaya kesesakan, dan menikmati manfaat bersih sebesar db.
Apabila dianggap bahwa kesesakan itu sama-sama mempengaruhi semua pemakai dan pungutan yang sama dikenakan pada semua pemakai, maka setiap pemakai akan memikul biaya rata-rata dan bukan biaya marginal. Dalam Gambar 9.5. biaya rata-rata ditunjukkan oleh garis yang menghubungkan titik pada kurva biaya TC2 dengan titik asal 0. Pemakai fasilitas akan terus menggunakannya sampai kesediaan untuk membayar sama dengan biaya variabel rata-rata (MR = AC), dan titik itu tercapai pada tingkat penggunaan setinggi XC, yaitu bahwa total manfaat menurun dan biaya kesesakan lebih tinggi.Jadi sebenarnya keunikan dalam penggunaan sumber daya milik umum itu bukanlah pada penggunaannya yang berlebihan, tetapi disebabkan oleh kegagalan untuk memperhitungkan seluruh biaya marginal yang dikenakan dalam suatu sistem, yaitu kelebihan biaya marginal di atas biaya rata-rata.

Lingkungan, udara dan air yang luas (lautan, danau) serta pemandangan merupakan sumberdaya alam milik umum yang sering dipakai sebagai tempat membuang .limbah. Biasanya semua pihak boleh membuang asap pabrik maupun bau busuk ke udara, air limbah dibuang ke sungai atau danau, serta rusaknya pemandangan karena munculnya bangunan-bangunan pencakar langit. Namun penggunaan lingkungan. ini telah dibatasi dengan aturan-aturan yang resmi dari Pemerintah, hanya saja perundang-undangan peraturan itu sering masih terlalu sempit. Dengan ratusan orang atau perusahaan yang menimbulkan pencemaran, bagaimana menentukan pencemaran tertentu oleh orang atau perusahaan tertentu? Demikian pula apabila terjadi konflik antar-penyebab pencemaran, mana yang akan dimenangkan?



















Dalam hal kesesakan, konflik terjadi antar para pemakai fasilitas publik.Dalam hal ini Informasi mengenai dampak keputusan mereka merupakan umpan balik bagi para pemakai fasilitas itu melalui pasar.Umpan balik ini cenderung membatasi penggunaan yang berlebihan sampai pada suatu titik di mana tidak ada manfaat lagi bagi masyarakat. Dalam hal pencemaran, maka akan timbul suatu kerugian sosial neto dari penggunaan sumber daya alam itu.
Ada dua cara di mana jasa lingkungan dapat masuk ke sistem pasar dengan lebih efektif, yaitu dengan membatasi kebebasan mendapatkan barang/jasa lingkungan melalui pungutan atau bayaran tertentu, dan dengan memberikan nilai pada lingkungan ,kemudian memasukkan nilai tersebut ke dalam harga barang dan jasa akhir. Sekali lagi pendekatan ini disebut sebagai pendekatan atas dasar mekanisme pasar (marketbased incentive)yang dilawankan terhadap pendekatan atas dasar peraturan (regulatory=command and control). Pendekatan atas dasar peraturan ini biasanya menggunakan "baku mutu lingkungan" atau "baku mutu kualitas udara” ataupun "baku mutu kualitas air" misalnya. Baku mutu ini didukung oleh peraturan perundang-undangan, tanpa mekanisme pasar.
Para ekonom sudah lama menyatakan bahwa pendekatan mekanisme pasar jauh lebih efisien daripada sistem pengawasan dan komando (commando and control), namun kenyataannya banyak negara yang masih menganut sistem pengawasan dan komando tersebut.
Sistem pengawasan dan komando memiliki kelemahan di antaranya akan memerlukan biaya yang mahal untuk mengumpulkan informasi dari para produsen.



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENGARUH BERBAGAI VARIABEL EKONOMI TERHADAP KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM (Bab 7)

BAB 7 PENGARUH BERBAGAI VARIABEL EKONOMI TERHADAP KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM Seperti sudah sebagian besar disinggung bahwa banyak va...